
Jessy menutup pintu kamar mandi dengan kencang dan tak lupa menguncinya. Bersandar di balik pintu sambil memegang dada, merasakan detak jantung yang tengah berdebar.
"Astaga!" Pekik Jessy, perlahan ia mulai sadar dengan apa yang barusan terjadi, wajahnya masih merah dan panas. Ia malu, tak percaya dan sangat menikmati itu semua.
"Dia benar-benar mencintai ku?" Gumam Jessy pada dirinya sendiri. Ia malu harus mengakui ini, namun sepertinya ia pun merasakan itu, entah dari kapan.
Jessy berjalan menuju wastafel, menatap cermin sekilas dan membasuh wajahnya dengan air yang mengalir halus.
"Tidak apa-apa Jes. Kau suka dewasa, kau memang harus belajar hal seperti itu." Kukuh Jessy mengingatkan pada dirinya sendiri. Ia menepuk kedua pipinya yang basah dan berbicara pada pantulan dicermin.
"Tapi aku belum siap, itu membuat jantung dan tubuh ku terasa aneh." Lirih Jessy pelan, ia merasa frustasi dengan dirinya sendiri. Entah terlalu kaku atau terlalu menutup diri.
Tok
Tok
Tok
"Keluar lah darling, ayo lanjutkan lagi." Jessy mengepalkan tangannya, ia tau Justin kini sedang mengejeknya.
"Tinggalkan aku sendiri dan berhenti menyebut ku dengan panggilan menggelikan itu!" Teriak Jessy, namun mulut dan hati berbeda, saat ucapannya terdengar tajam, hatinya malah merasa senang dan malu sekaligus.
Terdengar suara tawa diluar sana. Namun yang membuat Jessy lebih aneh adalah saat handle pintu bergerak pelan dan pintu kamar mandi terbuka.
"Kau?! Bagaimana bisa membukanya?" Tanya Jessy bingung, jelas-jelas ia sudah mengunci nya dan kuncinya pun tengah menggantung dilubang kunci itu.
"Kau lupa siapa yang membobol jendela besi mu? Jika hanya pintu, aku bisa membobolnya dengan hitungan detik."
"Kau memang memiliki bakat maling." Sindir Jessy.
"Lalu bagaimana?" Jessy menaikan sebelah alisnya.
"Apanya yang bagaimana?" Tanya Jessy bingung.
Justin mendekati Jessy berlahan, membuat tubuh wanita itu mundur dan merasa terpojoki.
"Apa kau ingin kita melanjutkan nya disini?" Tanya Justin jahil, ia menaik turunkan alisnya, dengan gerakan yang sedikit menggoda Justin membuka jaketnya, melemparkan kesembarang arah, lalu bersiap membuka kaos.
Jessy menggelengkan kepalanya cepat.
"Kau benar-benar takut dengan hal menyenangkan itu?" Tanya Justin.
"Menyenangkan apanya?! Jantung ku hampir saja copot." Gerutu Jessy.
"Jangan mendekat!" Teriak Jessy saat Justin sudah berada dihadapannya, ia mendorong dada Justin agar menjauh.
"Tenanglah. Aku juga tidak ingin sekarang, aku ingin melakukan dimalam special kita." Bisik Justin. Ia merangkul bahu Jessy yang terasa begitu kaku, mengiringnya untuk keluar dari kamar mandi.
Jessy mengerutkan keningnya saat Justin mengiring bahunya kepintu luar. Ia tidak akan diusir dari rumahnya sendiri bukan?!.
"Kita mau kemana?" Tanya Jessy pelan.
"Aku ingin menyombongkan mobil ayah ku." Baru saja Jessy akan memprotes, pintu rumah terbuka dengan tidak manusiawi, pintu rumahnya ditendang oleh Justin sedangkan tangan pria itu masih berada dibahunya.
Jessy membuka mulutnya tak percaya, ia tau mobil ini keluaran terbaru dan banyak muncul di majalah. Hanya ada 10 mobil didunia, dan mobil 1 lagi memiliki warna yang indah, putih mengkilat dengan beberapa stiker yang menempel pas diatas warna putih itu.
"Kita akan berjalan-jalan. Kau mobil yang ini, dan aku yang itu." Ujar Justin.
Jessy seketika menengok kearah Justin.
"Jadi kita berjalan-jalan dengan dia mobil? Aku menyetir sendiri?!".
Justin berdecak, apalagi yang salah kali ini.
"Aku mengganti mobil mu untuk sementara sampai mobil mu selesai diperbaiki, dan mobil satu lagi milik ku. Apa aku salah lagi?"
"Tidak kau tidak salah. Hanya saja kau tidak romantis." Desis Jessy.
°•°•°•°
Guys jangan lupa like, komen dan hadiah ya🤗💋
Thank you
DHEA
Instagram: Dheanvta