
Keesokkan harinya, dipagi hari.
Jessy melipatkan kedua tangannya didada, melirik jam dinding yang menunjukan pukul 5 pagi. Suara orang naik melewati pagar kembali membangunkan Jessy dipagi buta ini. Siapa lagi kalau bukan Justin.
Dan sekarang, ia sedang mengawasi pria nakal itu yang tengah menyelinap masuk melalui jendela.
_
Justin menarik kembali topinya hingga menutupi setengah wajahnya, ia naik keatas pagar dan mengawasi sekitar. Dengan langkah yang benar-benar pelan dan hati-hati, ia menaiki tangga kecil menuju pintu, memastikan dulu pintu terkunci atau tidak. Lalu dengan senyum kecil, ia mengeluarkan flashdisk disakunya, flashdisk itu memiliki beberapa tombol yang bisa mengeluarkan pisau kecil, sinar laser, gunting kecil dan obeng.
Dengan teliti Justin berjongkok dan mulai membuka kunci jendela, kemarin jendela ini sudah ia rusak, jadi untuk kali ini mungkin lebih gampang.
"Nah." Pekik Justin. Ia sudah membuka kunci, Justin mulai membuka pelan jendela rumah dan memasukan kakinya terlebih dahulu, matanya masih mengawasi keadaan sekitar agar tetap aman, ia mulai memasukan badannya dan menahan jendela agar tidak terjatuh.
Setelah badannya sudah masuk, ia menurunkan jendela dengan pelan, menutupnya kembali dan menguncinya.
"Ekhem!" Tubuh Justin seketika membeku, ia berbalik dan menemukan Jessy tengah melipat kedua tangannya didada.
"Astaga!" Pekik Justin, ia memegang dadanya, ia terkejut dan jantungnya berdebar.
"Kalau kau sudah bangun mengapa tidak membukakan pintu?" Gerutu Justin.
"Kau!" Jessy menampilkan wajah marah, lagi-lagi Justin mengganti bajunya dengan berbeda. Pakaian siapa lagi ini? Terlihat kebesaran dan tak mungkin milik Justin.
"Dari mana saja?!" Tanya Jessy.
"Menangkap hewan buas." Jawab Justin santai, ia melepaskan topinya. Ia melihat sekitar, sedikit bernafas lega saat tak menemukan benda berbahaya yang bisa kapan saja Jessy lemparkan padanya.
"Aku serius! Dan bisakah kau jelaskan kemana mobil ku?! Kau membawanya pergi! Kau menjualnya!" Tuduh Jessy bertubi-tubi. Justin menangkap jari yang melayang tengah menunjuk-nunjuk wajahnya. Ia tak suka.
"Dengar. Aku rasa ini ada yang tidak beres. Mobil ku kemarin malam tiba-tiba saja mati dan sekarang mobil mu yang aku bawa tiba-tiba saja bannya bocor."
"Oh ya? Dan aku harus percaya hah! Kau ini pelit, aku yakin kau menjual mobil ku untuk menebus baju ku kemarin." Justin mebelalakan matanya.
"Aku tidak sepelit itu. Dengar, aku pelit untuk impian ku, kita akan memiliki rumah besar dari hasil keringat ku. Bukan kah itu mengagumkan?"
Jessy tertawa mengejek.
"Aku tidak percaya, dan lepaskan tangan ku." Pekik Jessy, ia menepis tangan Justin.
"Siang ini aku ingin mobilku kembali!" Teriak Jessy marah. Itu adalah mobil kesayangan, bisa saja besok-besok Justin menjual rumahnya.
"Baik. Aku akan mengusahakan mobil mu kembali. Aku juga akan menyuruh Sam membawa dua mobil ku kemari." Gerutu Justin. Ia mulai mengeluarkan ponselnya, mencari kontak Sam.
"Untuk apa dua mobil?"
"Agar aku tidak dituduh menjual mobil, aku juga memiliki banyak stock mobil." Sombong Justin.
"Kau!" Pekik Jessy. Tidak ada kah rasa bersalah di wajahnya?.
"Apa aku salah lagi? Aku sepertinya harus melunakkan mu." Jessy mengangkat sebelah alisnya, ia mulai mundur beberapa langkah.
"Mau apa kau!"
"Menjinakkan macam agar seperti kucing." Seringai itu membuat alarm bahaya Jessy berbunyi. Ia berlari terlebih dahulu dan dengan senang hati Justin mengejarnya.