
Jessy menggerakkan tubuhnya gelisah, ingin rasanya ia memaki siapa saja yang mengganggu tidurnya. Suara bell terus berbunyi. Sinar matahari yang mengintip dari tirai jendela pun ikut menganggunya.
"Tidak bisa kah aku dibiarkan tidur nyenyak?" Gerutu Jessy. Ia menggaruk pelan rambutnya, menandakan frustasi. Jessy baru tidur jam 3 dan pagi buta ini ia sudah dibangunkan lagi. Sebentar, ini bukan pagi buta, matahari sudah hendak meninggi diluar.
Seketika mata Jessy terbuka, ia menggapai ponselnya disamping bantal.
"Sial, jam 9." Pekik Jessy. Itu artinya setengah jam lagi acara pemberkatan Alicia akan dimulai. Jessy ingin menduduki dirinya, namun sesuatu menahan tubuhnya. Ia melirik, dan terkejut seketika melihat tangan Justin melingkar di pinggang nya.
"Kau!" Pekik Jessy, ia melepaskan paksa tangan Justin dan mendorong pria itu keras.
Justin mengerang kesal. Tubuhnya seperti remuk.
"Kau melanggar batas kita!" Justin membuka matanya perlahan. Jessy tengah duduk dengan wajah bantalnya.
"Dua guling itu membuat kasur ini sempit, jadi aku membuangnya." Jessy mendengus, ia melihat dua gulingnya diatas lantai tak berharga.
"Lagi pula apa salahnya di peluk oleh ku? Seminggu lagi kita akan menikah."
Suara bell lagi-lagi berbunyi. Menyadarkan Jessy dari perdebatan mereka.
"Aku akan mandi. Turunlah dan buka pintu, aku tidak tau siapa yang datang." Ujar Jessy sambil bergegas turun. Itu harus cepat-cepat mandi dan berdandan. Bagaimana bisa ia kesiangan dihari special Alicia dan Richard.
Suara bantingan pintu kamar mandi membuat Justin mendengus. Ia mencoba duduk namun semua badannya terasa remuk.
Suara bell kini kembali berbunyi tak sabar.
"Sial, siapa orang yang mengesalkan itu?!" Gerutu Justin. Ia memaksakan dirinya untuk bangkit. Mencoba berjalan dan menuruni anak tangga.
Didetik-detik hendak membuka pintu, ingin rasanya Justin memaki orang itu. Namun ia masih waras dan tidak mungkin melakukan itu.
"Oh, selamat pagi tuan." Ujar seorang pria ramah. Jika dilihat orang ini sepertinya baru lulus sekolah.
"Ya?" Tanya Justin. Untuk apa pria muda ini mengunjungi Jessy?.
"Untuk apa kau menunggu?" Tanya Justin masih tidak mengerti. Pria itu tersenyum lembut dan memberikan sebuah paperbag kecil pada Justin.
"Aku dari Royal WO disuruh mengantarkan ini untuk tuan Justin." Raut wajah Justin langsung melunak. Ia lupa kemarin meminta contoh surat undangan yang sudah jadi. Ia mengintip isi paperbag, terdapat 3 undangan.
"Sisanya, besok lusa akan sudah jadi dan siap disebar tuan." Ujar pria itu ramah.
Justin mengangguk.
"Terimakasih. Tapi bukankah aku menyuruh mu mengirimnya sebelum jam setengah 9? Kenapa pagi sekali?" Pria itu terdiam, tak lama ia tersenyum kikuk dan menunjukan ponselnya.
"Ini sudah jam 9 tuan. Dan setengah jam yang lalu aku sudah disini. Aku tidak telat bulan?" Ujar pria itu. Ia tau dihadapannya itu siapa, anak dari seorang pebisnis. Ia harus berbicara sesopan mungkin.
Justin mempertajam penglihatannya. Ponsel itu menunjukkan jam dengan sangat jelas. 09:04.
"Apa?!" Pekik Justin seketika. Ia panik dan kesiangan.
"Aku harus siap-siap." Justin hendak menutup pintu rumah dengan buru-buru, namun ia membukanya kembali.
"Terimakasih... Siapa nama mu? Ah itu tidak penting, sekali lagi terimakasih." Justin kini benar-benar menutup pintu rumahnya. Meninggalkan pria itu dihadapan pintu.
"Namaku Wil..." Pria itu menarik nafasnya, ini masih pagi dan stock sabarnya masih banyak. 'Tidak masalah, orang kaya memang seperti itu.' gumamnya dalam hati, ia berbalik dan berjalan kearah motornya.
___
Thank you
DHEA
Instagram: Dheanvta