
Satu tahun sudah terlewati, kini Jessy menatap undangan ulang tahun Kenrich yang pertama. Rasa senang memang ada, namun membuat hatinya menjadi sedikit murung. Kapan ia akan mendapatkan titipan malaikat kecil?. Jessy sudah beberapa kali memeriksakan diri ke dokter, namun tidak ada yang salah dengan dirinya, begitupun Justin. Mereka sehat dan tak ada masalah apapun.
"Hei, ada apa dengan wajah mu sayang." Justin memeluknya dari belakang, mata mereka bertemu dicermin.
"Lima bulan lagi pernikahan kita dua tahun, tapi sampai saat ini aku belum juga hamil." Ujar Jessy sedih. Justin tersenyum lembut dan menyusupkan kepalanya pada rambut Jessy, mencium harum rambut wanita itu.
"Itu artinya kita masih diberi waktu untuk berduaan. Jangan terlalu dipikirkan, jika sudah waktunya kita pasti memiliki anak yang menggemaskan."
"Kau tidak akan mencari wanita lain bukan?" Tanya Jessy cemas. Justin menempelkan kepalanya dibahu Jessy, tersenyum jahil dan mengeluarkan ucapan yang menguras emosi.
"Jika kau mengijinkan, dengan senang hati aku..." Ucapannya terhenti, digantikan suara tawa kecil melihat mata Jessy yang melotot.
"Aku bercanda sayang. Bagaimana jika kita melakukan ide ku? Melakukannya tiga kali sehari?."
Jessy memutarkan bola matanya malas, lalu memekik.
"Kau gila?!"
"Aku tergila-gila pada mu." Ejek Justin. Jessy memajukan bibirnya cemberut, Justin benar-benar tidak bisa diajak bicara serius, ia selalu bercanda. Namun itu membantu Jessy sedikit relax.
"Ayo kita berangkat. Aku sudah rindu membuat anak Richard marah-marah." Ajak Justin. Ia senang menjahili Kenrich. Anak itu terlalu menggemaskan.
"Tunggu sebentar. Aku akan berias sebentar."
"Kalau begitu aku tunggu dibawah. Aku akan memeriksa kado besar itu dulu." Jessy menganggukan kepalanya. Ia mulai fokus pada beberapa makeup.
Setelah dirasa cukup, Jessy menuruni anak tangga, melihat Justin yang sudah selesai menambahkan pita merah pada kotak hitam itu.
"Sudah?" Tanya Jessy membuat Justin mengalihkan pandangannya.
"Sudah. Mari kita berangkat."
___
Sesampainya dirumah Richard, acara ulangtahun itu begitu ramai, kotak kado diatas meja begitu banyak dan terlihat elegant.
"Alicia." Panggil Jessy.
Dengan antusias mereka berjalan menuju meja yang diatasnya ada sebuah kue berbentuk kartun Hero.
Kenrich menggemaskan dengan setelan jas kecil ditubuhnya. Bayi berumur 1 tahun itu begitu tampan dan membuat siapapun ingin membawanya pulang.
"Hallo, selamat ulang tahun tampan. Sini menjadi anak ku, kita akan berkeliling dunia." Justin memainkan pipi Ken kecil. Membuat Ken kecil bergerak risih.
"Ish! Kau membuat anak ku menangis lagi." Gerutu Richard. Ia mengayun Kenrich yang ada ditangannya. Wajah Kenrich menggambarkan ketidak sukaan pada Justin, ia memeluk Richard seakan mengadu.
"Kita biarkan saja para pria itu. Ayo aku tunjukan beberapa menu dari restoran kedua mamah ku." Ajak Alicia. Jessy hanya mengikut dengan gembira. Mengikuti Alicia yang menunjukkan jalan kearah jajaran makanan. Terlihat begitu lezat dan menggugah selera.
"Ini desert yang paling aku suka." Tunjuk Alicia.
"Sepertinya lezat." Mereka menyicipi nya pada piring kecil. Berbincang mengenai segala hal.
Jessy pun menceritakan mengenai kekhawatiran nya yang belum hamil. Namun Alicia mewajarkan itu.
"Teman ku bahkan ada yang baru hamil dipernikahan mereka yang sudah 6 tahun. Ini hanya masalah waktu. Bagaimana jika kau mengikuti program kehamilan? Semoga saja itu membuat mu cepat hamil."
-
Berkat usulan Alicia, Jessy dan Justin sepakat mengikuti program kehamilan, mengikuti semua saran dokter, menjaga pola makannya dengan berbagai nutrisi, beberapa vitamin.
Beberapa bulan tak menunjukan hasil apapun, bahkan hingga usia Kenrich dua tahun lebih. Jessy hampir menyerah, tak ada perkembangan apapun. Kadang Jessy iri dengan beberapa wanita yang cepat hamil. Membuat Jessy merasa bersalah pada Justin, namun suaminya itu selalu bercanda, tak pernah mempermasalahkan dan selalu mengajaknya berlibur.
Pada siang hari ini, Jessy menggigit bibir bawahnya dengan kencang, menanti dan berharap pada benda kecil yang ia masukkan pada wadah kecil. Perlahan garis satu mulai tampil, bayangan kuning itu semakin naik, menampilkan garis merah lainnya.
Jessy mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia mengambil benda itu tak percaya, Jessy berteriak senang tak tertahan.
"Aaaa! Aku hamil!" Ingin rasanya ia melompat girang, namun segera ia cegah, ia tidak ingin terjadi apapun dengan calon bayinya.
Dengan cepat, Jessy mengabari dokter kandungannya, membuat janji pertemuan agar mendapatkan hasil yang akurat. Jessy berharap ia benar-benar hamil, agar saat sore nanti ia bisa memberikan kejutan kecil untuk Justin. Lelah suaminya sehabis bekerja mungkin akan hilang.
___
Segini dulu ya✌️