
Justin menarik nafasnya panjang, hasil rapatnya kali ini berjalan dengan lambat. Hampir 3 jam Justin menghabiskan waktu nya duduk dikursi, AC yang terasa semakin dingin membuatnya semakin tidak nyaman didalam sana.
"Bisakah aku pulang sekarang?" Tanya Justin pada Sam. Mereka sudah masuk kedalam ruangan Justin. Sam memberikan beberapa map yang tertumpuk 5 baris dan meletakannya diatas meja.
"Ya. Pulang lah, wajah mu sudah seperti zombie. Besok kau bisa melanjutkan ini." Setidaknya. Senyum Justin mengembang kecil, akhirnya ia terbebas dari penyiksaan ini.
Justin langsung berdiri dengan semangat, dan mengambil kuncinya.
"Terimakasih Sam. Kau memang terbaik." Sam menggelengkan kepalanya saat Justin yang tadinya tidak berdaya seperti manusia kehabisan tenaga, namun seketika bisa berdiri dengan semangatnya.
Justin dengan cepat menuju lift, menekan tombol menuju parkiran. Sambil menunggu ia mengeluarkan ponselnya, sebuah pesan masuk dari Jessy.
'Sayang, aku ingin kue yang minggu lalu kau bawa❤️'
Justin menghembuskan nafasnya pelan. Tempat kue selalu ramai, Justin malas menunggu dan harus duduk lagi. Yang Justin inginkan sekarang adalah sampai rumah, membersihkan badannya dengan air segar, makan malam, bermesraan dengan Jessy, tidur dan bangun dengan segar.
Walau dengan lelah yang luar biasa, Justin tetap membalasnya. Bagaimanapun ia sudah berjanji akan menempatkan diri Jessy diatas segalanya.
-Aku akan segera membawanya untuk mu sayang. Aku sudah pulang.- Justin langsung memasukkan kembali ponselnya pada saku jas. Andai saja ia langsung pulang dan tidak memeriksa pesan. Haha entah mengapa pikiran licik selalu melintas di otak Justin.
Sesampainya diBasement Justin masuk kedalam mobilnya. Mengendarai mobil dengan cepat menuju toko kue yang diinginkan Jessy.
Ia berhenti di depan Queen Bakery. Toko kue yang memiliki dekorasi cantik ini memang tengah banyak dikunjungi semenjak keluar nya menu baru yang tengah viral.
Justin memesan satu kue berukuran sedang, karena ditakutkan Jessy akan menginginkan nya lagi jika ia membeli yang berukuran kecil tidak. Hampir 30 menit ia menunggu, akhirnya kue dengan packing yang lucu itu berhasil ia baru.
___
Jessy menghias kamar mereka dengan hiasan yang seadanya. Dijalan tadi ia membeli sebuah balon berukuran sedang dan memberikan tulisan 'Hi, Daddy' serta beberapa balon kecil lainnya.
Sebuah pesan singkat menunjukkan jika Justin sudah akan pulang. Ia segera mengganti pakaiannya dengan dress cantik, berdandan namun tetap terlihat natural dan memasukan surat dokter berisi dua test pack pada kotak hitam.
Setelah dirasa cukup, kini Jessy tinggal menunggu Justin dan berjalan kedapur, menghangatkan kembali masakan yang baru ia masak saat pulang dari dokter.
'klek' suara pintu terbuka membuat Jessy semangat, ia keluar dari dapur dan menyambut Justin.
"Hai sayang. Terimakasih." Jessy mencium Justin terlebih dahulu sambil mengambil kue.
"Sayang. Untuk apa mengenakan dress?" Tanya Justin bingung melihat menampilan Jessy yang sudah cantik.
"Aku... Bagaimana besok? Aku sangat lelah, tidak ingin mengendarai mobil lagi untuk hari ini." Justin memasang wajah memelasnya.
"Kita makan dirumah. Tidak diluar sayang."
"Apa? Tumben sekali." Justin tertawa kecil. Ia mencubit hidung Jessy pelan.
"Kau merindukanku bukan? Kau ingin mengajak ku membuat bayi lagi?" Jessy memutarkan bola matanya malas. Namun jangan terpancing, ini adalah kado spesial untuk Justin.
"Ayo mandi dan kita persiapkan makan malam." Sepertinya segar, bayangan air mengenai tubuh membuat Justin segera masuk kedalam kamar, ia selalu lelah di akhir bulan seperti ini, pekerjaannya menumpuk.
Justin terdiam diambang pintu, keningnya mengerut. Seketika Justin panik, ia mengingat tanggal pernikahan dan ulang tahun Jessy. Tidak, bukan pada tanggal ini. Setelah yakin tidak ada tanggal special, ia memberanikan diri melirik Jessy yang tengah tersenyum indah.
"Sayang. Apa kau lupa tanggal ulangtahun ku? 3 bulan lagi." Jelas Justin bingung.
"Masuklah dan baca tulisan itu." Justin masuk kedalam kamar yang bertabur balon kecil. Terdapat balon besar di tengah sana.
"Hi, Daddy?" Gumam Justin bingung. Ia menatap Jessy pelan, jantungnya berdebar.
"Bukalah kado itu sayang." Jessy menunjuk kotak hitam diatas ranjang. Dengan menahan senyum, Justin naik keatas ranjang, membuka kotak itu dengan semangat.
Jantung Justin benar-benar meledak, ia gembira luar biasa saat menemukan Test pack yang menunjukkan 2 garis. Ia pun membuka kertas yang berisikan pernyataan Jessy positif hamil.
Justin turun dari ranjang, memeluk Jessy dengan erat.
"Astaga! Terimakasih sayang." Pekik Justin. Jessy dihujani beberapa ciuman kecil dari Justin.
"Aku menjadi seorang ayah!" Teriak Justin gembira.
"Sttt. Ayo kita rayakan saja dengan makan malam."
"Sudah kau duduk saja disini, biar aku yang menyiapkan semuanya, tunggu aku mandi dan jangan melakukan apapun ya, sayang." Jessy menganggukan kepalanya. Ia senang dengan reaksi Justin. Memang ini yang mereka tunggu-tunggu. Kesabaran mereka membuahkan hasil.
---
Thank You
DHEA