
Dengan ragu dan bingung, Justin mengeratkan genggaman tangannya di sisi kertas tersebut.
Aku tidak tahu apa pekerjaan mu diluar sana. Apa pun itu, tolong hentikan. Aku takut dan tak siap berada disisi mu.
Sorry,
Jessy
Justis menggeram, ia meremas kertas itu dan membuangnya kesembarang arah. Apa maksudnya? Apa yang harus ditakutkan?. Justin menatap ponsel Jessy dengan marah.
"Kau yang mengejar ku. Kau juga yang mencampakkan ku! Sial, aku sudah mencintai mu!" Geram Justin. Ia tak bisa membiarkan wanita itu pergi disaat hatinya sudah menerima pernikahan ini.
Justin melempar ponsel Jessy keatas ranjang, ia mengeluarkan ponselnya sendiri.
"Hallo Sam. Aku ingin kau mencari Jessy."
"Dia kabur. Sudah, jangan banyak bertanya."
"Sialan kau Sam. Suruh orang-orang itu menghentikan setiap Taxi yang akan keluar kota. Jessy tidak membawa mobil. Suruh juga untuk memeriksa penumpang penerbangan kemana pun. Jangan sampai ayah ku tahu." Justin tak mendengarkan jawaban Sam yang entah protes atau akan memberikan usul. Ia langsung menutup panggilan itu, mengambil kembali ponsel Jessy dan mulai membuka kontak.
Justin meneliti dengan baik, memisahkan antara pasien dengan kontak biasa, lalu memisahkan kembali dari orangtua dan saudara Jessy yang ia tahu. Justin tidak ingin membuat kerusuhan dengan adanya panggilan yang membuat mereka semua bertanya-tanya ada apa dengan Jessy.
____
Jessy menatap sekeliling bandara, pesawat yang akan ia tumpangi akan berangkat. Dengan tubuh yang lemah ia mendorong pelan koper miliknya, memastikan dalam hatinya bahwa pilihan Jessy adalah pilihan yang benar. Ia tidak ingin hidup dengan pembunuh. Pria itu kesal dengan Larissa, namun tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh Justin. Ah, mengingat namanya saja membuat Jessy ingin menangis. Cinta membuatnya buta dan bodoh.
Sesampainya didalam pesawat, ia duduk di bangkunya, mengeluarkan MP3 player yang berukuran kecil, hanya ini yang ia punya untuk menemani perjalanan nya.
Jessy memakai Headset dan mulai bersandar santai, menatap pemandangan luar dan melihat betapa kecilnya orang-orang didalam bangunan kaca itu. Air matanya kembali mengalir, ia tak menyangka hari ini akan begitu memilukan. Terasa pesawat yang akan mulai Take-off. Jessy menutup matanya, mencoba untuk tertidur dan menenangkan dirinya.
___
Dengan senyum yang kecil, ia berusaha menguatkan hatinya. Berjalan bersama rombongan lain keluar dari pesawat.
Diluar bandara, Jessy mulai mencari taxi yang terparkir, ini pertama kalinya ia datang tak ada yang menjemput. Bahkan kedua orangtuanya pun tak ia hubungi terlebih dahulu.
"Mencari taxi?" Tanya seorang wanita. Jessy tersenyum kecil, ia mengangguk.
"Ya. Biasanya banyak taxi disini."
"Entahlah, aku baru selesai mengantarkan adik ku. Ingin ku antar?" Jessy terdiam. Ia tidak asing dengan pemandangan ini, hatinya kembali sesak mengingat Larissa dulu menyapanya terlebih dahulu, dan sekarang ia seperti trauma, ia takut wanita ini akan menjadi temannya dan berakhir seperti Larissa. Jessy merasa seperti pembawa sial untuk semua orang.
"Tidak perlu, terimakasih. Aku akan menunggu taxi saja."
"Kenapa? Apa rumah mu jauh?" Tanya wanita itu ramah.
"Mobil ku didepan sana. Jika kau merasa merepotkan ku, itu salah besar. Aku baru beberapa bulan disini, setidaknya mengantarkan mu pulang menambah daftar teman ku." Ujarnya dengan sedikit nada bercanda.
"Kenalkan, aku Mia."
"Jessy." Jessy tersenyum menyambut uluran tangan itu. Lalu matanya menangkap sebuah taxi yang terparkir mencari penumpang.
"Aku rasa aku mendapatkan taxi. Terimakasih atas tawaran nya. Aku harap kita bisa bertemu kembali." Ujar Jessy, terlihat Mia sedikit kecewa dan membalas lambaian tangan Jessy, senyum mereka kembali muncul.
"Hati-hati." Jessy menganggukan. Ia tidak akan menambah teman wanita, ia takut semua yang dekat dengannya menjadi sial.
Ah, sungguh memberatkan pikiran.