
Mereka makan dalam keheningan. Justin pun sudah segar selesai mandi, sedangkan Jessy masih nyaman dengan tubuhnya yang lelah. Ia ingin tidur dan beristirahat.
"Aku tidak percaya kita benar-benar seharian didalam rumah." Gumam Jessy, ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 5 sore.
"Ya. Tapi ini lebih aman, dibanding diluar, tidak akan menjamin keselamatan kita aman." Jessy memelankan kunyahan dimulutnya. Ia menatap Justin dengan serius.
"Maksud mu?"
"Tidak. Kembali lah makan. Kau harus gemuk saat kita menikah nanti." Jessy berdecak. Justin selalu mengalihkan pembicaraan dengan cara menyebalkan.
"Ah, ya, selesai makan aku akan membereskan semua pakaian ku." Jessy menaikan sebelah alisnya.
"Kenapa? Kau akan kemana?"
"Keluarga mu akan datang Jumat, dan Kamis aku harus sudah pulang kerumah ku. Memangnya kau mau keluarga mu tahu kita sudah serumah? Yang ada aku akan kena pukul kakak mu yang galak itu lagi." Justin berkata jujur, sambil menyelipkan luapan amarahnya. Tanpa sadar, Jessy menatap Justin tajam, ia mengejek Robert seperti itu.
"Maaf, aku hanya jujur." Lanjut Justin sambil tertawa kecil.
"Kau menyebalkan. Bagaimana pun dia akan menjadi kakak mu juga. Robert jika sudah sayang ia akan membantu mu tanpa berpikir panjang. Dia baik."
"Ya. Karena kau adiknya." Lanjut Justin pelan.
"Aku serius!"
"Ya. Aku percaya. Aku berjanji akan mencari cara agar Robert menyayangi ku." Keduanya terdiam. Sepertinya kata-kata Justin tidak tepat.
"UM.. maksud ku, aku akan mencari cara agar aku mendapatkan... Bagaimana aku menjelaskan?"
Jessy memutarkan bola matanya malas.
"Kau harus mencari cara agar bisa dekat dengan nya, bodoh."
"Hati-hati dengan mulut mu, Jessy. Kau tau apa hukumannya bukan?" Peringat Justin. Seketika Jessy menutup mulutnya, ia kembali makan dengan tenang.
___
Malam harinya setelah membereskan koper milik Justin, mereka memutuskan untuk memasak bersama. Berbelanja di supermarket dan mengisi penuh semua kebutuhan dapur.
"Ayo aku ingin lihat sehebat apa kau memasak." Goda Jessy. Ia tertawa kecil melihat Justin yang berlagak seperti chef, ia mengiris beberapa cumi dengan sangat telaten.
"Aku sangat ahli. Tapi aku percaya kau lebih ahli."
"Apa maksud mu?" Tanya Jessy.
"Masakan mu pasti lebih enak sayang, buat lah bumbunya, aku hanya akan memotong sayur dan seafood ini." Jessy berdecak, ia kira Jessy hanya akan menjadi juri dan menonton Justin memasak. Namun nyatanya, ia tetap yang masak, dan sipembohong itu hanya bisa memotong.
"Bilang saja kau tidak bisa masak." Gerutu Jessy.
Namun dengan gesit Jessy mengeluarkan beberapa saus dan bumbu perlengkapan lainnya. Ia akan membuat masakan pedas malam ini.
____
Matahari lagi-lagi membangunkan Jessy dengan indah. Kemarin hari yang menyenangkan. Dan sekarang ia melihat kembali Justin yang masih tertidur pulas memeluk guling. Jessy tersenyum, ia cukup kagum dengan Justin yang menepati janjinya. Ia tidak pergi kemana-mana malam tadi, dan walaupun mereka satu kamar, Justin benar-benar tidak menyentuhnya.
"Morning." Sapa Jessy pelan. Justin membuka matanya perlahan, ia tersenyum kecil.
"Morning darling. Tidak ada ciuman selamat pagi?" Goda Justin. Ia menggeliat pelan. Ia bosan menjadi pengangguran yang seharian dirumah.
"Mau kemana kita hari ini?" Kini keduanya bersandar dikepala ranjang. Memikirkan rencana menyenangkan untuk mengisi hari mereka.
"Baiklah. Setelah itu aku ingin kita ke Fast and Furious - Supercharged." Sebuah wisata yang akan mengajak mereka berkeliling melihatkan beberapa mobil yang Justin ingin miliki. Fast and Furious - Supercharged, beralamat di 100 Universal City Plaza Universal Studios Hollywood, Studio Tour, Los Angeles, CA 91608.
"Sepertinya itu menyenangkan." Komentar Jessy.
"Ya sudah, kau mandilah terlebih dahulu. Wanita kan harus berdandan lama."
"Lalu kau?" Tanya Jessy sinis.
"Aku akan kembali tidur." Ujarnya usil. Ia kembali tidur dan masuk kedalam selimut.
Jessy memutarkan bola matanya malas. Sebelum masuk kedalam kamar mandi, ia membawa semua baju dan pakaian dalam ke kamar mandi.
Tak sampai 15 menit, ia sudah selesai mandi. Justin masih tertidur pulas tanpa merasa terganggu oleh sinar matahari.
"Hei, bangun. Mandi." Jessy menepuk pipi Justin dengan telapak tangannya yang dingin, membuat pria itu bergidik dan membuka matanya dengan cepat.
Justin duduk dari tidurnya. Ia berdiri dan mengambil handuk yang akan Jessy gantung.
"Hei itu handuk ku, pakai lah handuk mu sendiri."
"Tidak mau, aku suka harum mu. Lembut dan manis. Tidak seperti orangnya yang galak." Ejek Justin yang langsung berlari kedalam kamar mandi. Jessy hanya menarik nafasnya.
Jessy membersihkan tempat tidurnya, menata kembali bantal dan guling. Setelah selesai, ia duduk dimeja rias, membuka kotak make up nya dan mulai mengenakan make up pada wajahnya.
Setelah hampir selesai, suara pesan masuk dari ponsel Justin mengganggu Jessy. Ia berjalan kearah meja kecil dekat ranjang. 2 pesan masuk dari Devan.
Jessy melihat pop up pesan yang ada dilayar itu.
-111 N Rossmore Ave-
-Orang yang kau cari ada disana. Aku melihat titik nya.-
Kening Jessy mengerut, ia seperti tau alamat itu. Pintu kamar mandi terbuka, dengan santainya Justin berjalan dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Hai! Pakai baju mu di dalam Justin!" Pekik Jessy gemas.
"Aku lupa membawanya. Sudah balikkan badan mu. Jangan mengintip ku." Jessy langsung berbalik, Justin sepertinya tengah mengenakan pakaian.
-Bisakah kau kesana?- lagi-lagi pesan itu masuk. Membuat Jessy kembali mengingat alamat itu, daerah Larissa namun itu lupa nomor berapa rumah Larissa.
Tak lama panggilan Devan masuk.
"Siapa?"
"Devan. Ia juga mengirim pesan banyak dari tadi." Jawab Jessy. Justin ternyata sudah berpakaian lengkap dengan cepat, ia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan Devan.
"Ya?"
"Bodoh. Bagaimana bisa?"
"Baguslah. Itu dekat dengan ku."
____
Ayo tebak-tebakan lagi. apa kira-kira yang akan terjadi?