
Keesokan paginya Justin sudah sampai di Kanada. Ia hanya membawa tas ransel yang berada di punggungnya. Menatap orang yang berlalu-lalang dijalanan.
"Mengapa kita harus makan dulu disini? Mengapa tidak langsung ke rumah Jessy?" Tanya Sam. Ia menatap makanan yang baru terhidang dihadapannya.
"Kau ingin membuat ku malu dengan suara perut saat menjemput wanita itu? Sudahlah, ayo kita makan." Jawab Justin. Ia langsung mengambil sendok makannya dan memakan sarapannya dengan lahap.
Sam menggelengkan kepalanya pelan. Mengambil garpu dan makan dengan santai, memperhatikan Justin yang tengah lahap sambil tersenyum kecil.
"Kau benar-benar tidak makan seharian kemarin?" Justin terlihat menghentikan makannya, melirik Sam dengan wajah yang mulai kesal.
"Aku tak menyangka ada seorang wanita yang membuat mu kalang kabut seperti ini."
"Tutup mulut mu, Sam. Ingat, aku ini adalah boss mu. Kau di ijinkan satu meja dengan ku adalah suatu kehormatan untuk mu." Protes Justin. Ucapan Sam benar-benar mengganggu makan-nya.
"Kau tau, sebelum aku dipindahkan menjadi asisten pribadi mu, aku mendapatkan kabar jika anak Mr.Franz sangat diluar kendali, membuat onar dan sangat menyebalkan." Justin menaikan sebelah alisnya. Yang benar saja, Sam tengah menggosipkan dirinya dihadapannya? Bahkan dengan dirinya sendiri?!.
"Awalnya memang berat. Namun aku mulai mengerti diri mu, aku sudah menyayangi mu seperti anak ku sendiri."
"Memangnya kau sudah setua ayah ku?!" Ketus Justin. Ia kembali makan dengan tenang.
"Hey! Kau menyamakan aku dengan anak mu yang masih kecil itu? Bahkan anak mu belum masuk sekolah!" Pekik Justin yang baru menyadari itu.
Sam mengabaikan ucapan Justin. Ia menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan makan.
"Aku yakin kau akan menjadi pemimpin yang dermawan dan baik hati. Kau penerus ayah mu yang sempurna." Mendengar itu Justin tertawa kecil. Dermawan apanya, ia sendiri menyadari kepelitannya. Hari ini Justin harus mengakui, Sam tidak sekaku itu jika sedang berdua. Namun jika ada orang lain, pria ini benar-benar profesional dan sok tegas.
____
"Itu Jessy?" Tanya Justin, mereka didalam mobil dan sedikit menjaga jarak dari pagar tinggi itu.
"Ya. Kau benar-benar akan masuk sendiri?" Tanya Sam menyakinkan.
Justin mengangguk yakin sambil mengambil tasnya di kursi belakang.
Sam sedikit ragu melihat Jessy yang tengah bersama kedua orangtuanya. Ia takut boss nya ini akan dibully dan di usir.
"Jangan pikirkan yang tidak-tidak Sam! Mereka akan memperlakukan ku dengan baik. Aku ini menantu kesayangan mereka!"
"Kau mendengar isi hati ku?" Tanya Sam yang terkejut dan bingung bersamaan.
"Aku tau pikiran mu selalu buruk pada ku. Seperi ayah ku." Ejek Justin. Ia keluar dari mobil. Mengibaskan tangannya dengan cepat agar Sam pergi. Ia kesal ditemani seperti ini.
"Sial. Aku malah seperti bocah yang sedang diantar bermain!" Gerutu Justin.
___
Jessy menyiram tanaman yang mulai bermekaran itu. Hatinya mulai sedikit tenang, namun pikirannya kebalikan dari itu. Ia memikirkan Justin, sedang apa dan apakah ia mencarinya?.
Jessy menggelengkan kepalanya. Ia harus tetap bertahan disini sampai semuanya jelas. Benarkan Justin yang membunuh Larissa karena kesal, atau hanya kebetulan Justin mendapatkan alamat itu. Oh sial! Kebetulan apa? Kebetulan ada yang mengirim alamat dan siang harinya ada berita kematian Larissa?! Ia buntu, tak ada yang menjelaskan ini semua secara logika. Bagaimana bisa Justin datang ke alamat rumah Larissa dan setelah itu Larissa dikabarkan meninggal?!
"Sayang. Malam tadi Dad lupa mengatakan, hari ini kita mendapatkan tamu." Jessy menghentikan kegiatannya. Ia mengerutkan keningnya halus, menghampiri kedua orangtuanya yang tengah duduk dikursi halaman.
"Siapa Dad?"
"Lihatlah kebelakang. Bicarakan baik-baik." Ujar Mom dengan lembut. Kerutan dikening Jessy semakin terlihat. Ia menengokan kepalanya pelan. Jantungnya terasa berhenti seketika, Justin tengah berjalan dari arah pagar.
____
Thank you
DHEA
Instagram: Dheanvta