SHOW ME

SHOW ME
Sesak



Sara mendengus, ia menatap Justin malas.


"Kembalikan ikatan ku." Pekik Sara, ia setengah berdiri menggapai ikatan rambutnya ditangan Justin, namun Justin malah menjahilinya.


"Tidak. Kau cantik dengan rambut terurai, jika kau diikat terus, pembunuh itu tidak akan tertarik dengan mu." Ejek Justin.


"Sialan kau! Sudah sini kembalikan."


"Justin!" Teriakan itu membuat keduanya diam seketika, Sara menaikan sebelah alisnya. Seorang wanita dengan wajah marah berdiri dihadapannya.


"Kau siapa?" Tanya Sara bingung. Ditambah wajah Sara yang tidak pernah ramah membuat Jessy mendelik kesal.


"Kau yang siapa?! Berani-beraninya kau menggoda calon suami orang lain!" Kerutan dikening Sara semakin terlihat. Ia menegakan tubuhnya seketika.


"Siapa calon suami mu? Kau mabuk hah?!" Jessy sudah marah besar, ia kesal dengan wanita tidak tau malu dihadapannya.


"Dia calon istri ku." Suara Justin membuat Sara diam seketika, ia menatap Justin tak percaya.


"Kau? Apa? Aku tidak salah dengar?" Tanya Sara berurutan. Hatinya sedikit tidak senang mendengar itu.


Jessy tersenyum miring, ia puas dengan reaksi wanita itu.


"Kau dengar? Jadi jauh-jauh lah dari kekasih ku!"


Sara tak menghiraukan Jessy, ia menatap Justin tidak suka.


"Sebenarnya kau ini berniat menangani kasus ini atau tidak?" Tanya Sara tiba-tiba. Justin menggeram, ia bingung dan marah melihat Jessy berada disini, ini tempat berbahaya, kenapa wanita ini susah sekali untuk diam dirumah.


"Pulanglah Jess." Ujar Justin berusaha sabar, ia mengedarkan pandangannya, ia menemukan Larissa yang tengah berbincang dengan seseorang. Sedikit lega karena Jessy tidak seorang diri berada disini.


"Bagaimana kau tau aku ada disini?"


Jessy melipat kedua tangannya, ia menatap Justin tajam.


"Aku akan tau dimana pun kau berada. Jadi ini pekerjaan mu? Berduaan di klub dengan seorang wanita? Oh atau kalian berkencan?!" Tanya Jessy dengan nada mengejek.


Sara mendengus, ucapannya tidak dihiraukan sama sekali.


"Satu tim dengan mu sangat merepotkan! Jarang hadir dan tidak membantu sama sekali, lalu sekarang, wanita mu menjemput untuk pulang. Tidak berguna." Ejek Sara, ia duduk dengan kesal. Bagaimana bisa pekerjaan disangkut pautkan dengan percintaan mereka?!.


"Apa?!" Desis Jessy. Ia tengah berbicara dengan Justin, namun wanita itu langsung menggerutu seperti itu.


"Posesif!" Balas Sara kesal.


"Kau?!" Geram Jessy.


Justin ingin menarik rambutnya sendiri, ia menggebrak pelan meja dihadapannya.


"Sudah cukup." Justin tau Sara kini tengah menyindirnya, ia sedikit tak terima dikatakan tidak berguna.


Jessy mengerjapkan matanya beberapa kali, ia tak menyangka akan dibentak seperti itu.


"Kau memilihnya? Memilih wanita simpanan mu?" Teriak Jessy.


"Aku tidak punya wanita lain!. Pulang lah Jess, jangan mengganggu pekerjaan ku."


Sara muak, ia berdiri dan menarik ponselnya yang tergeletak diatas meja.


"Pergilah, aku akan menghubungi Devan untuk menggantikan mu." Sara hendak pergi, ia tak terima dipermalukan seperti ini.


"Sara, tunggu!" Justin menahan tangan Sara. Mencoba mendamaikan keadaan yang ada.


Sedangkan Jessy, hati sesak, ia tak percaya Justin lebih memilih menahan wanita itu dan menyuruh Jessy untuk pulang. Matanya seketika berkaca-kaca, ia berbalik dan berjalan kearah meja awalnya, namun Larissa tak ada, hanya ada Will disana.


Diantara musik kencang ini, ia masih mendengar suara Justin memanggilnya, namun ia tak mengejarnya. Air mata Jessy terlahan turun, beginikah rasanya patah hati? Merasa dicampakan dan tidak diprioritaskan sama sekali.


"Kemana Larissa?" Tanya Jessy sedikit berteriak, ia mengambil tasnya yang ada di kursi. Will yang melihat Jessy sedikit terkejut, dengan secara spontan ia mengulurkan sapu tangan miliknya.


"Larissa sedang ke toilet. Kau kenapa?" Tanyanya. Jessy menggelengkan kepalanya, ia menyeka air matanya yang mulai turun. Sungguh sesak yang dirasakan. Jessy melirik sekilas kearah belakang, Justin tengah bertengkar dengan wanita itu namun matanya sesekali menatap pada Jessy.


"Mau aku antar kau pulang?" Tawa Will. Jessy dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tolong katakan pada Larissa aku menunggu nya diluar."


"Hei, tunggu, biar aku menemani mu diluar. Minum lah dulu." Wajah tampan itu terlihat sudah tenang, ia mengeluarkan botol kecil berisikan air bening.


"Tidak usah terimakasih." Tolak Jessy. Lagi-lagi langkah Jessy terhalang, Will berdiri menahan tangannya.


"Aku temani oke? Aku tau kau sedang patah hati. Minumlah, ini air soda." Jessy menggelengkan kepalanya. Namun Will seakan memaksa Jessy untuk menerima botol tersebut.


'Bhuk'


Tepat saat Jessy terpaksa menerima botol tersebut, Will terhuyung. Justin memukul tepat diwajah Will.


___


Guys aku ngadain game nya sesuai peringkat top fans aja ya. Yang paling banyak ngasih hadiah itu pemenangnya.


Peringkat 1 Rp. 100.000


Peringkat 2 Rp. 70.000


Peringkat 3 Rp. 50.000


lumayan ya buat beli baso wkwk. Game ini sampe akhir bulan, jadi masih ada waktu buat ngumpulin poin hadiah.🙌