SHOW ME

SHOW ME
Jessy pergi



Justin masuk kedalam mobilnya, benar saja, ponselnya sudah bergeletakan dibawah jok. Ia terlalu panik saat melihat pria yang berlari terburu-buru.


Beberapa panggilan tak terjawab dari Jessy terasa memilukan. Bagaimana caranya Justin memberitahu ini semua?.


Justin menekan tombol panggilan itu. Menunggu Jessy menjawab telfonnya sambil ia memutarkan kunci mobil, menyalakan mesin mobil.


"Apa dia sedang tidur?" Gumam Justin sedikit bingung melihat panggilan nya tak dijawab.


Tanpa berpikir panjang, Justin menginjak pedal gasnya. Ia berusaha menenangkan dirinya dan mengatakan dengan baik-baik tentang berita kematian Larissa.


____


Jessy menatap lurus pada tiket pesawat yang ia dapatkan, entah disebut beruntung atau apa, ia mendapatkan pesawat yang akan terbang sebentar lagi, tanpa menunggu lama jadwal keberangkatan nya.


"Astaga ini sangat berat untuk ku." Gumam Jessy sambil memeluk kakinya yang ia lipat diatas kursi bandara.


Pikirannya kembali pada saat Larissa menyapanya didalam pesawat, saling bertukar cerita. Larissa adalah satu-satunya sahabat yang ia punya di LA. Bertahun-tahun ia di LA seorang diri, Jessy tak pernah mendapatkan sahabat, semuanya hanya sebatas teman dan pasien, bahkan wanita sebaik Alicia pun Jessy tak sedekat itu, tak pernah Jessy curhat pada siapapun kecuali Larissa. Pertemuan mereka singkat, hanya beberapa Minggu dan berakhir setragis ini?!


____


Justin menghembuskan nafas berat, ia menatap pintu rumah Jessy dengan tak yakin. Otaknya tengah menyusun beberapa kata untuk Jessy. Apa yang harus ia jelaskan?. Justin membayang kan Jessy menyambut nya di depan pintu nanti, dan Justin memberitahu berita ini, membuat senyuman Jessy menghilang begitu saja. Justin menggelengkan kepalanya, tak ada yang harus dibayangkan, biarkan semuanya mengalir begitu saja.


Justin turun dari mobil, matanya melirik mobil Jessy yang masih terparkir rapi. Entahlah, hatinya tak menentu dan mendadak kacau.


Ia menaiki anak tangga kecil itu dan memegang handle pintu pelan. Dengan ragu ia membuka pintu begitu pelan.


"Jessy." Panggil Justin. Semuanya hening. Sedikit nafas lega menyelimuti Justin, apa Jessy tengah tertidur karena menunggunya lama?.


Mata Justin menajam, ia menatap benda yang tak asing dibawah meja. Dengan cepat Justin mengambilnya, ini ponsel Jessy, layarnya retak dan menampilkan bekas chat nya dengan Larissa.


"Jessy!" Teriak Justin cepat. Rasa panik seketika menyesakan dadanya. Ia berlari keatas, tujuannya saat ini adalah kamar Jessy. Wanita itu pasti tengah menangis.


Brak


Kerutan dikening Justin terlihat jelas. Ia tak melihat Jessy didalam kamarnya. Ia berlari kembali menuju ruang praktik nya, namun sama halnya tidak ada.


"Jessy! Kau dimana?" Teriak Justin kembali, ia masuk kedalam kamar Jessy, mengecek nya dikamar mandi namun tak ada. Kepala Justin terlalu pening memikirkan ini. Ia stress dan tak bisa berfikir. Oh ayolah, apa lagi ini! Penculikan kah?.


Justin terdiam sesaat saat membuka lemari milik Jessy, semua baju wanita itu menghilang. Apa maksudnya?! Ponsel dan mobil berada di rumah, sedangkan Jessy dan pakaiannya tidak apa?.


"Jessy!" Bentak Justin geram. Sungguh. Justin tak mengerti. Ia ingin membanting ponsel digenggamannya sekarang juga.


Langkahnya terhenti pada sebuah surat yang ada dihadapan cermin. Ia mengambilnya dengan tangan bergetar.


___


Thanks you


DHEA


Instagram: Dheanvta