
Justin masuk kedalam cafe dan mencari seseorang yang akan ia temui. Pandangan menangkap sosok yang ia cari, Devan, duduk dengan seorang wanita berkacamata hitam. Justin tersenyum lebar, sepertinya Sara akan ikut dalam misi ini, wanita misterius dan gesit.
"Maaf menunggu kalian lama." Ujar Justin sambil menarik kursi dan ikut bergabung dalam meja bundar itu.
"Tidak. Aku dan Sara baru sampai."
"Hai. Kau masih ingat pada ku? Kau akhir-akhir ini terkenal." Ucap Sara sambil tersenyum kecil dan sorot mata yang selalu tajam.
"Hai. Aku tak akan pernah melupakan mu cantik." Sara berdecak.
"Berhentilah memanggil setiap wanita seperti itu. Kau terlihat seperti pria hidung belang." Justin dan Devan tertawa kecil mendengar itu. Sedikit berbincang mengenai kabar dan perlahan masuk keawal cerita pembunuhan seorang wanita.
-
"Jadi aku dan Sara akan mengawasi setiap gerak-gerik pria yang ada dividio ini?" Tanya Sara.
"Ya. Karena jika kau bersama ku terlihat tidak natural, ada kemungkinan besar juga jika pria itu akan mendekati Sara yang nantinya akan sedikit dipoles menjadi ratu tercantik di club. Aku mendengar beberapa kabar menarik jika pria itu selalu hadir secara misterius diclub."
"Oh aku tak sabar melihat Sara nantinya." Komentar Justin.
"Kau tidak sabar melihat ku didekati seorang pembunuh?" Tanya Sara sambil menaikkan sebelah alisnya. Justin tertawa kecil dan mengangguk.
"Ya. Tapi aku lebih tak sabar melihat mu dipoles menjadi ratu tercantik." Sara hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Ini sudah menjadi hal biasa, Justin dikenal selalu menggoda wanita jika moodnya sedang baik, tapi pria ini cukup kurang ajar karena hanya sampai 'mendekati' ia hanya bermain dan tidak bertanggung jawab pada wanita yang nantinya akan menyatakan perasaan mereka 'maaf aku hanya bercanda' jawaban itu yang nantinya akan Justin pakai untuk menolak para wanita.
"Baiklah. Kita akan mencobanya malam ini. Ben masih mencoba mencari data lainnya, ia baru dapat perkiraan tinggi badan dan cara berjalan pria itu." Jelas Devan. Justin mengangguk pelan.
"Bagaimana jika pelaku mencari target baru di club lain?"
"Tenang, kita sudah menyiapkan beberapa orang di club lainnya."
°°°
Sementara dilain tempat, Jessy sudah selesai membereskan isi kopernya. Ia berbaring diatas ranjang. Memberi kabar kepada keluarganya dan membalas beberapa pesan masuk.
Jessy mengerutkan keningnya saat melihat Vidio call dari seseorang dengan nomor tak dikenal. Dengan penasaran dan hati-hati Jessy menutup kameranya dan mengangkat VC tersebut.
"Hallo." Jessy terdiam sesaat, ia merasa pernah melihat wajah ini, tapi dimana?.
"Jessy? Kau disana?" Seketika Jessy ingat dan membuka kamera ponselnya.
"Larissa?" Pekik Jessy. Wanita ini yang waktu itu dipesawat bersama Jessy.
"Apa kabar mu?"
"Kabar ku baik. Bagaimana kabar mu? Aku tak sengaja melihat mu online." Jessy tertawa kecil mendengar itu.
"Ya. Aku baru beberapa hari ini mengaktifkan kembali ponselku. Kabar ku baik. Kau sudah kembali ke LA?"
"Dari lusa kemarin aku sudah di LA. Kau?"
"Aku baru saja sampai."
"Kau sudah di LA? Bisa kah kita bertemu? Ada banyak yang ingin aku ceritakan padamu." Pekik Larissa dengan antusias.
"Kau kerumah ku saja. Aku akan mengirimkan nya."
"Baik, aku tunggu lokasi mu."
Panggilan itu terputus, Jessy langsung mengirimkan lokasi rumahnya. Sambil menunggu Larissa, ia membuka kembali ponselnya, tidak ada kabar sama sekali dari Justin.
"Bersama siapa saja pria itu? Apakah teman-temannya wanita? Atau semua pria? Atau malah berkencan bersama wanita lain?" Tanpa pikir panjang Jessy menekan tombol panggilan, ia harus memastikan pria itu tidak bermain dibelakangnya.
"Hallo." Mulai terdengar suara Justin, disusul dengan wajah pria itu yang mulai terlihat.
"Dimana?"
"Aku sedang di cafe. Ini belum 1 jam, kau sudah merindukan ku?" Mata Jessy berputar malas. Justin kini sedang merapikan rambutnya dikamera.
"Aku hanya sedang memastikan."
"Memastikan apa?" Tanya Justin.
'Aku ke toilet.' Jessy mengerutkan keningnya.
"Siapa itu? Kau bersama wanita?"
"Ya. Bersama Sara dan Devan. Aku sepertinya tidak bisa menemui mu selama beberapa hari, ada sesuatu yang harus aku lakukan."
"Ya, terserah kau saja. Aku juga akan menghabiskan beberapa hari bersama teman ku."
Terlihat wajah kebingungan Justin.
"Siapa? Aku tidak mengijinkan jika itu pria."
"Urus lah kehidupan masing-masing! Bye!"
"Hei! Aku benar-benar tidak..." Jessy memutuskan panggilan saat Justin belum selesai dengan ucapannya. Ia kesal karena Justin lebih memilih teman hingga tidak akan menemuinya. Ia juga bisa menghabiskan waktu bersama Larissa dan beberapa pasiennya yang mulai memberikan jadwal pertemuan.
Senyum sinis Jessy mulai keluar saat melihat ponselnya berdering. Justin beberapa kali menelfonnya.
"Itu yang aku lakukan pada mu dulu. Teruslah menelfon ku setiap menit." Gumam Jessy. Ia dengan santai turun dari ranjang, mengambil handuk, ia akan menyegarkan dirinya.
_
Sara (Cocok gak jadi CIA cewek? kayaknya pas gitu buat cewek yang banyak action)