SHOW ME

SHOW ME
Mengobati



Jessy masuk membawa wadah Es dengan sehelai kain tebal. Menutup pintu kamarnya sedikit keras dan membuat Justin yang tengah berbaring menyembunyikan wajahnya langsung bersuara.


"Kau sudah kembali?" Jessy berdecak dan duduk dipinggir kasur.


"Siapa lagi jika bukan aku!" Jessy kini bingung harus melihat keadaan Justin bagaimana. Jaket pria ini begitu tebal.


"Bisakah kau duduk dan melepaskan jaket mu? Aku ingin melihat punggung mu." Justin yang mengerti langsung menurut, ia duduk dan memunggungi Jessy.


Ia membuka jaket Devan yang kebesaran ditubuhnya, lalu saat akan melepaskan kausnya, Jessy langsung menahannya.


"Tidak usah melepas kaus mu. Aku hanya ingin melihat punggung mu." Justin menggulum senyumnya, yang ia bayangkan dari suara Jessy adalah wajah wanita itu sedang bersemu merah.


"Itu akan merumitkan tangan mu nanti. Kau harus menahan kaus dan juga menempelkan es." Jelas Justin.


"Tunggu. Aku tidak akan mengobati mu jika kau belum mengatakan alasan mu menyadap ponsel ku. Dan apa saja yang kau sadap?"


"Kau lebih mementingkan rasa penasaran mu dibandingkan korban mu yang kau siksa ini?" Ejek Justin.


"Jawab saja apa susahnya? Kau ini sangat mencurigakan dan sulit ditebak." Gerutu Jessy.


Justin menarik nafasnya panjang. Ia berbalik menghadap Jessy dengan cepat, membuat raut wajah itu berubah dalam seketika.


"Aku hanya menyadap lokasi mu. Agar aku bisa selalu tahu kau dimana." Jessy terdiam, ia masih syok dengan wajah Justin yang terlalu dekat, jantungnya berdebar kencang.


Seketika Jessy langsung memegang sebelah bahu Justin.


"Ya sudah aku percaya. Cepat berbalik lagi dan aku akan mengobati mu."


-Flashback off-


Jessy hanya bisa pasrah saat Justin menemukan ponselnya diatas ranjang. Pria itu kembali memunggungi nya dan mulai mengotak atik ponselnya.


Sedikit mengintip sambil mengompres lebam Justin, ia melihat Justin membuka aplikasi yang tak pernah ia download sebelumnya. Aplikasi itu disembunyikan Justin diantara aplikasi-aplikasi bawaan ponsel yang tak pernah ia buka.


"Kau jangan melihat." Menyebalkan, Justin memergokinya dan menaruh tangannya diatas ponsel Jessy.


"Aku juga ingin tau dimana lokasi mu jika kau pergi. Ajari aku."


"Tidak. Pekerjaan ku berbahaya diluar sana, jika aku tidak ada dikantor saat kita sudah menikah nanti, itu artinya aku sedang bersama teman-teman ku."


Jessy mengerutkan keningnya.


"Apa perkerjaan berbahaya mu itu? Teman-teman mu seperti nya sama brengsek nya seperti dirimu." Ketus Jessy.


"Menangkap hewan buas." Jessy tertawa hambar mendengarnya. Tidak ada yang bisa ia percayai jika Justin sudah berbicara.


"Sekalian saja kau bilang jika kau bekerja di kebun binatang."


"Aku serius. Tidak mudah menangkap hewan-hewan buas itu, aku dan team ku bahkan harus melewatkan tidur memikirkan cara menangkap hewan buas yang berkeliaran."


Sudah cukup. Jessy sekarang kesal. Tidak bisakah Justin serius dengan ucapannya? Malam kemarin ia pergi dan pulang dalam keadaan mabuk, sedangkan sekarang ia pulang dengan memakai pakaian orang lain?.


"Kita di kota. Bukan dihutan!. Aku akan ambilkan salep untuk lebam mu."


"Oleskan sendiri pada lebam mu. Kembalikan ponsel ku." Ponsel itu ditarik paksa oleh Jessy, dan untungnya Justin dengan sigap menekan tombol lock.


"Kau tidak ingin mengoleskan nya? Aku tidak bisa jika sendiri."


Jessy tak peduli. Ia membuka ponselnya.


"Kau mengunci aplikasi nya?" Tanya Jessy tak percaya.


"Oleskan dulu baru aku beri kata sandinya."


"Tidak. Aku akan menghapus nya."


"Hapus saja. Itu artinya hanya aku yang bis melihat lokasi mu, dan kau tidak memiliki akses untuk mencari ku."


Jessy mendelik. Ia melemparkan ponselnya pada Justin, dan mengambil salep itu, mengoleskannya pada punggung dan tangan Justin yang lebam.


"Sudah. Apa kata sandinya?" Tanya Jessy cemberut.


"Sidik jari ku."


"Kau..!!" Geram Jessy.


"Lebih baik aku tidur dari pada harus menghadapi mu." Jessy mengambil kembali ponselnya dan berjalan mendekati pintu.


"Kau mau kemana?" Tanya Justin.


"Tidur. Apa tadi kau tidak mendengar?"


"Inikah kamar mu?"


"Apa kau lupa? Kau sudah meminta kamar ku tadi." Jawab Jessy.


"Aku tidak keberatan berbagi kamar ini." Ujar Justin santai. Bukan kah ia sangat murah hati?.


"Oh kau sangat baik. Tapi tidak terimakasih, aku akan tidur diruangan praktik ku." Baru saja tangan Jessy sampai kehandle pintu, Justin sudah berbicara lagi.


"Bagaimana jika nanti aku haus? Lagi pula aku sedang sakit, aku tidak akan macam-macam."


"Tidak."


"Ya sudah aku akan menelfon ayah ku. Aku akan mengatakan jika aku tidak diperlakukan baik oleh mu."


___


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta