SHOW ME

SHOW ME
Perampok



Jessy menggeram kesal. Lagi-lagi Justin tidak bisa dihubungi. Membuat Jessy hingga jam 2 malam ini masih tidak bisa tertidur dengan nyaman.


"Apa yang kau lakukan setiap malam hah?! Berkencan hingga larut dan bermalam bersama wanita lain?!" Sudah bisa dibayangkan dengan siapa Jessy berteriak, ia meneriaki ponselnya sendiri. Ia kesal, bahkan sangat kesal dan baru menyadari jika Justin memang susah sekali dihubungi.


"Aku benar-benar akan mengintai mu jika nanti malam kau pergi lagi!." Pekik Jessy. Ia melemparkan ponselnya diatas ranjang. Menarik selimut hingga menutup wajahnya. Jessy dengan susah payah memejamkan matanya, berusaha sebisa mungkin tidur dan terlihat segar dipagi hari. Pernihan Alicia dan Richard pastinya akan sangat ramai dan didatangi banyak orang penting, ia juga harus cantik dan tidak boleh terlihat seperti zombie. 


"Bagaimana cara agar aku tertidur?" Jessy bergerak gelisah. Ia membalikan tubuhnya, mencari posisi senyaman mungkin.


Jessy bangun, ia duduk dan menajamkan telinganya. Ia mendengar suara pagarnya dinaiki? Pagar rumah ini memang sedikit tua dan berkarat, membuat sedikit gerakan saja terdengar berisik. Dengan langkah ragu ia mengintip dari jendelanya. Tidak ada siapapun. Namun rasa penasarannya semakin tinggi saat melihat ada bayangan hitam dibawah sana. Berjalan kearah depan pintu.


"Apa itu hantu? Atau pembunuh?" Tanya Jessy was-was. Ia berlari kecil menuju ruang praktiknya. Melihat dari arah CCTV, seseorang tengah mencoba membuka pintu rumah, namun hanya dengan gerakan ringan, lalu orang itu mencoba membuka jendela rumahnya.


Jantung Jessy berdebar. Kemana satpam komplek ini? Mengapa begitu teledor dan tidak menyadari ada seorang perampok masuk kedalam rumahnya?. Jessy meneguk air liurnya, ia segera mengambil tongkat golf (pajangan disudut ruangannya).


"Ayo Jessy. Kau harus bisa menangkap pencuri itu." Gumam Jessy. Orang itu berpakaian serba hitam dan topi yang menutupi kepalanya. Orang itu sepertinya sedang kesusahan membuka jendela rumahnya.


Jessy meyakinkan dirinya dan keluar dari dalam ruangan praktek, ia berjalan pelan menuruni setiap anak tangga, tongkat golf yang ada ditangannya pun sudah siap ia layangkan jika pria itu berhasil masuk.


Jantung Jessy semakin berdebar, ia gugup dan ketakutan, kini mulai terdengar suara diluar rumahnya. Suara alat yang sedang digunakan untuk membobol jendelanya. Jessy memelankan langkahnya, ia semakin mengeratkan pegangan tongkat dan diam disisi jendela, rumahnya memang gelap dan orang diluar sana tidak mungkin melihat Jessy dari dalam.


'Klek' perampok ini sepertinya memang sudah ahli, hanya dalam beberapa menit ia dapat membuka jendela rumahnya yang terkunci ganda.


Perlahan orang itu memasukan kakinya, Jessy menarik nafasnya panjang, bersiap untuk memukul dan tepat saat bayangan tubuh itu masuk Jessy langsung memukulnya sekeras mungking, beberapa kali pukulan tongkat dan tanpa ampun.


"Hei! Aw! Ini aku Justin!" Jessy mengatur nafasnya, ia melihat pria itu berjongkok melindungi kepalanya sendiri. Dengan cepat Jessy menyalakan lampu didekat pintu, dan benar saja, Justin sedang kesakitan sambil mengaduh.


"Aku tidak memiliki kunci rumah mu kan! Aw,, tangan ku sakit, badan ku juga." Eluh Justin. Jessy berdecak. Ia berjongkok membuka topi Justin. Untuk apa pria ini memakai pakaian serba hitam seperti ini.


"Aku memiliki bell, dan pintu ini masih bisa digunakan."


"Aku tidak ingin membangunkan mu." Jessy menggerutu, itu hanya alasan.


"Kemana ponsel mu? Aku dari tadi menelfon."


"Untuk itu aku kemari, aku ingin mencuri ponsel mu sebentar, ponsel ku hilang, aku lupa menaruhnya dimana." Jessy mengangkat sebelah alisnya.


"Bodoh. Ponsel sendiri kau sampai lupa!"


"Sudahlah. Badan ku sudah remuk, jangan rusak telinga ku juga! Aku menghubungkan lokasi mu di ponsel ku, otomatis lokasi ponsel ku juga bisa dilacak dengan ponsel mu." Jessy semakin mengerutkan keningnya. Apa maksudnya?.


___


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta