
Kini mereka sudah masuk kembali kedalam mobil. Memakai seat belt dan bersiap menyalakan mobil. Namun, Justin langsung teringat sesuatu, ia mengeluarkan ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Jessy mengerutkan keningnya.
"Aku akan menelfon Richard. Aku tidak ingin proyek itu berhasil." Jessy menggelengkan kepalanya. Ia bingung dengan pria disebelahnya ini, saat orang lain berbondong-bondong ingin berada diposisi atas itu, ia malah memilih pekerjaan yang tak jelas, menangkap hewan buas?.
"Ini sudah malam. Besok saja." Ucapan Jessy terlambat, Richard sudah mengangkatnya.
-
"Ada apa?." Terdengar suara berat itu disebrang sana. Membuat Justin sedikit tersinggung, ia seperti sedang mengganggu Richard.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan saja langsung. Apa kau tidak tau jika pengantin baru tidak bisa diganggu malam-malam!" Justin berdecak, ia mengejek Richard dalam hatinya.
"Istri mu sudah hamil bukan? Untuk apa masih berusaha membuatnya?" Tanya Justin sambil tertawa, Jessy hanya menatap sinis pada Justin, pikirannya mengatakan jika Justin dan Richard sedang membicarakan pembicaraan yang tidak baik.
"Ck. Aku akan mengganggu mu saat malam pertama mu nanti." Gerutu Richard.
"Cepat katakan apa yang ingin kau katakan, jika tidak akan aku tutup telponnya."
"Ya ya ya. Kau semakin pemarah ternyata, aku hanya ingin mengatakan ini sekali. Aku ingin kau menghancurkan proyek di New York." Ujar Justin cepat.
"Apa?!" Teriakan itu cukup kencang.
"Kau gila! Huh!" Dan kali ini bentakan yang cukup membuat telinganya sakit.
"Aku akan menjadi CEO jika proyek itu berhasil."
"Aku tidak peduli. Jangan mengganggu ku lagi!" Panggilan itu terputus, Justin mendengus dan menatap Jessy.
"Dia menolak untuk menghancurkan proyek." Gumam Justin, ia mulai menyalakan mobil.
Terdengar suara kekehan yang halus dari Jessy.
"Itu tandanya Richard masih waras."
"Ya. Itu artinya dia masih waras. Dia tidak akan melakukan hal bodoh yang kau suruh itu. Mana mau proyek besarnya dihancurkan begitu saja." Desis Jessy.
Mereka akhirnya bungkam, selama diperjalanan tak ada percakapan satupun, Justin marah dengan keadaan. Ia tak suka perusahaan dan menolak menjadi CEO.
Sesampainya didepan rumah Jessy, hanya Jessy yang melepaskan seat belt nya. Justin menggigit bibir dalamnya, ia harus mencari alasan masuk akal untuk bisa pergi ke klub. Kasus ini sepertinya mulai memanas.
"Ada apa? Kau tidak akan turun?" Tanya Jessy bingung melihat Justin masih memegang stir dan masih mengenakan seat belt nya.
"Aku... Akan kerumah Richard." Jessy menaikan sebelah alisnya.
"Aku harus membujuk Richard untuk membatalkan proyek itu." Jelas Justin kemudian.
"Yang benar saja, ini sudah malam." Ujar Jessy dengan nada mulai kesal.
"Ah, aku tau, kau akan bersama teman-teman mu itu kan? Kau akan mabuk-mabukan lagi?"
"Tidak. Percayalah. Aku akan pulang dua jam lagi." Jessy mulai menunjukkan wajah malas.
"Aku berjanji." Wajah Justin mulai memelas, ia tidak bisa tidur jika tidak bertindak dan menangkap pembunuh itu.
Jessy menarik nafasnya dalam.
"Ya sudah hati-hati, jangan terlalu larut. Aku pegang janji mu." Senyuman Justin mengembang, ia mengangguk cepat.
Jessy turun dari mobil. Dan Justin melambaikan tangannya.
"Tunggu aku darling." Ujar Justin senang. Ia langsung menginjak pedal gas nya.
Sedangkan Jessy, dengan ragu ia mengeluarkan ponselnya, ia mencari kontak Larissa.
'Berikan aku alamat mu. Aku akan menjemputmu. Ternyata Justin kembali pergi.'
Tak lama sebuah pesan masuk.
'kau sudah menyimpan GPS di mobil nya?'