
Jessy mengerutkan keningnya dengan nafas yang belum teratur, Justin tersenyum miring dan menjatuhkan dirinya disebelah tubuh Jessy. Keduanya menatap langit-langit kamar dengan keadaan sunyi.
"Maaf mengecewakan mu. Tapi aku tidak sebejad itu." Justin membisikkannya halus, tepat ditelinganya.
Kesadaran Jessy mulai memulih, ia duduk seketika, menatap Justin dengan tajam.
"Bagaimana bisa kau didalam kamar ku?!" Tanya Jessy hampir berteriak. Ia menatap jendela kamarnya seketika.
"Aku mendapatkan ijin dari ayah mu, Astaga! Kau pikir aku akan membobol jendela kamar mu?" Tanya Justin. Pria itu kini terduduk, bersandar santai dikepala ranjang. Menyaksikan dengan geli wajah Jessy yang terlihat kebingungan.
"Dad? Tidak mungkin, kau pasti menyelinap diam-diam masuk kedalam kamar ku." Ujar Jessy panik.
Justin menghembuskan nafas berat. Tangannya dengan malas meronggoh sesuatu yang ada dibalik tubuhnya. Seketika mata Jessy membola, Justin mengeluarkan pistol dan melemparkannya ketengah ranjang. Ia tekesiap.
"Kau...? Kau benar-benar pembunuh?" Tanya Jessy gugup. Keringat nya dingin.
"Aku sudah mengatakan nya tadi. Maaf mengecewakan mu, tebakan mu salah."
"Justin ini tidak lucu. Aku akan benar-benar berteriak sekarang juga." Justin mengangkat wajahnya. Ia melirik jam tangan yang melingkar di lengannya.
"Ini baru pukul 5 pagi. Jika kau berteriak artinya kau seperti ayam yang membangunkan seisi rumah." Tepat saat berkata seperti itu, Justin kembali meronggoh sesuatu. Kali ini sesuatu seperti buku? Benda itu dilemparkan Justin ditengah ranjang.
"Aku sudah mendapatkan ijin untuk membawa benda itu. Dan kau harus melihat ini." Jessy mengerutkan keningnya saat Justin mengangkat setengah kausnya, ternyata ada sesuatu dibalik itu, tanpa Jessy sadari sebelumnya.
"Rompi anti peluru?" Ujar Jessy gugup. Semua pertanyaan melayang di udara, siap menghantam Jessy dalam waktu yang bersamaan. Ia menggelengkan kepalanya dan mendengus.
"Apa maksudnya?"
"Buka lah dan lihat lencana yang kau cari." Pandangan Justin menuju pada benda hitam itu. Entah buku atau dompet, Jessy tak tahu.
Sambil menelan air liurnya, Jessy menggapai benda itu. Memegangnya dengan tangan bergetar dan membukanya pelan. Jantungnya seakan berhenti dan menatap lencana itu dengan perasaan bercampur aduk.
"Kau..."
Justin menghentikan ucapan Jessy yang terdengar bergetar.
"Dimana kau menyimpan semua ini? Aku tidak pernah tahu." Justin tertawa kecil.
"Aku tidak mungkin menaruh benda-benda penting ini sembarangan. Selalu ada tempat tersembunyi didalam mobil-mobil ku." Jessy menatap kembali lencana CIA itu, memperhatikan foto Justin yang ada di tanda pengenal.
"Justin Albern Franz." Gumam Jessy.
"Didalam biodata yang kau berikan pada ku, kau menuliskan nama mu Justin Alfranz." Sahut Jessy tiba-tiba, dengan nada protes.
"Apa bedanya? Itu hanya dihilangkan beberapa kata." Jawab Justin santai.
"Aku mencari sosial media mu waktu itu." Geram Jessy.
"Itu.. tidak penting. Aku pun tidak pernah menggunakannya."
Hati Jessy begitu tenang, senang dan berbunga. Matanya terasa memanas, berkaca, dan Jessy menutup benda hitam itu. Kepala Jessy sedikit mengadah keatas langit-langit dengan sebelah tangan yang menyusut air mata yang akan keluar.
"Oh astaga.. maafkan aku." Ujar Jessy pada akhirnya.
"Aku sedang menjalani misi menangkap pembunuh itu. Aku sangat marah ketika kau berada di klub. Kau tahu? Pria yang memberikan minum itu adalah pelakunya. Tapi aku terlalu fokus pada mu, mencari cara agar kau tidak keluar rumah dan sangat mencemaskan mu akan menjadi target selanjutnya. Aku melupakan fakta pria itu juga pernah berbincang bersama Larissa."
Jessy mengerutkan keningnya, ada rasa terkejut didalam bola mata itu.
"Will? Tidak mungkin. Mereka sudah saling kenal saat di Meksiko seminggu yang lalu, bahkan mereka ke klub malam bersama sebelum itu."
Kini Jutsin yang menatap Jessy bingung. Ia tertarik juga terkejut.
"Jadi mereka berteman? Apa itu artinya ponsel Larissa bisa menjadi bukti? Diantara kasus pembunuhan nya yang lain tidak pernah ada chat mencurigakan dari pembunuh itu. Jadi.. kami menyimpulkan bahwa pria itu selalu mencari target didalam klub dan membujuk korban agar membawanya kedalam rumah.."
"Sebentar, ini sepertinya masuk akal Justin. Saat di Meksiko pun Will mengajak Larissa untuk membawanya ke rumah, tapi saat itu Larissa ada urusan penting. Paginya saat Larissa meminta maaf yang mengajaknya bertemu, Will ternyata sudah pulang ke LA. Lalu saat pertemuan mereka yang kedua di LA, Larissa hanya bertemu beberapa jam, Will mengatakan harus keluar kota dan sudah memesan tiket pesawat. Namun saat pertemuan mereka yang ketiga -saat aku mencari mu- Larissa tak menceritakan apa-apa tentang Will. Bahkan yang membingungkan lagi, Larissa tidak pernah mendapat pesan chat dari Will, pria itu selalu menelfon."
"Larissa mengatakan ini semua pada mu?" Jessy menganggukan kepalanya.
"Duduklah disebelah ku. Aku ingin kau menceritakan nya sambil aku memeluk mu. Aku rindu harum rambut mu." Justin menepuk kasur empuk itu. Membuat wajah Jessy sedikit memerah karena bayangannya sendiri. Bayangan saat Justin memeluknya dan ia bercerita.