SHOW ME

SHOW ME
Seketika panik



Sinar matahari seperti biasa, masuk melalui celah-celah jendela kamar Jessy. Ia menggeliatkan tubuhnya pelan, berbalik dan membuka matanya.


Senyum Jessy mengembang, dihadapannya kini Justin tengah terlelap dengan tenang, memeluk guling yang menjadi pembatas mereka. Bulu halus yang ada di pipinya membuat Jessy tak tahan ingin memegangnya, menelusuri hingga dagu.


"Hai... Bangun lah. Kita harus membereskan beberapa barang." Kini usapan halus Jessy berubah menjadi tepukan ringan dipipi Justin. Membuat Justin menggeliat malas dan membuka matanya dengan ekspresi yang merasa terganggu.


"Satu jam lagi." Gumam Justin. Sambil menutup kembali matanya.


Jessy menghela nafasnya, ia duduk dan bersandar dikepala ranjang. Setelah terdiam sesaat ia mulai menggapai ponselnya. Pukul 9 pagi.


Dua pesan masuk dari Larissa.


'Pagi Jess. Aku akan mengantarkan mobil mu jam 11.'


'Kabari aku jika kau sudah bangun.'


Jessy menekan nomor Larissa. Tak menunggu lama panggilan sudah diangkat.


"Hallo, Larissa."


"Astaga kau baru bangun?" Tanya Larissa disebrang sana.


Jessy tertawa kecil.


"Ya, aku kesiangan hari ini. Kau ternyata bangun sangat pagi ya." Ejek Jessy. Ia melihat pesan yang dikirim Larissa jam 6 pagi. Jessy tertawa kembali saat melihat Justin semakin bergulung dengan selimut tebal disampingnya. Malam tadi Justin tak henti-hentinya menjahili Jessy, mereka akan tidur saja harus melewati perdebatan dan memutuskan untuk melakukan permainan. Sebuah tebak-tebakan dan Justin yang banyak kalah, membuatnya harus melakukan plank dan push-up dengan waktu yang ditentukan pemenangnya. Dan ini akibat dari kelakuan Justin, ia kelelahan dan kesiangan, sehingga pembatas mereka pun masih ditempat semula.


"Aku baru selesai lari pagi dengan teman ku. Dia membangunkan ku pagi sekali. Umm ya, aku akan pergi siang nanti, kau dirumah kan? Aku akan mengembalikan mobil mu."


"Aku dirumah. Maaf merepotkan mu ya."


"Tidak masalah Jess. Akan aku kabari lagi nanti."


__


Jam 11, Jessy baru selesai ber-make up natural. Lagi pula hari ini mereka akan menghabiskan waktu dirumah, membersihkan rumah dan membereskan beberapa barang yang sudah tidak terpakai.


"Wah wah wah... Akan beres-beres juga seorang wanita harus berdandan?" Ejek Justin yang baru selesai mandi, pakaiannya begitu santai, hanya kaos hitam dan celana pendek rumahan. Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang berada diatas kepalanya. Ia menggosokkan pelan handuk untuk mengeringkan rambutnya.


"Jika aku tidak dandan memangnya kau mau lama-lama didalam rumah?" Balas Jessy. Justin tersenyum, ia merasa ucapan Jessy adalah sebuah godaan untuknya.


"Gombal." Desis Jessy.


"Aku tidak gombal. Ini sungguhan." Jessy tertawa kecil. Ia malu jika Justin sudah memujinya seperti ini.


"Hanya saja jika aku tergoda dengan wanita lain, jangan salah kan aku." Tawa kencang Justin membuat Jessy mendengus. Baru saja ia seakan dilayangkan, namun dengan cepat Justin menjatuhkannya.


"Itu tidak lucu!"


Deringan ponsel Jessy menghentikan percakapan mereka.


"Hallo Larissa?"


"Oh kau sudah di depan? Baiklah aku akan kebawah sebentar lagi."


"Tunggu sebentar ya."


Justin mengangkat alisnya seolah bertanya.


"Ini Larissa. Ingin mengembalikan mobil." Justin menganggukan kepalanya pelan. Jessy dengan cepat keluar dari kamar, meninggalkan ponselnya segitu saja di meja rias.


Dengan santai Justin duduk dikursi.


"Aku belum mengecek kembali ponselnya." Gumam Justin.


__


"Terimakasih ya." Teriak Jessy sambil melambaikan tangannya. Jessy bersama seorang perempuan dengan mobil lain.


Setelah dirasa mobilnya terparkir rapi, ia masuk kembali kedalam rumah. Menaiki setiap anak tangga dengan santai.


"Dimana kau menaruh GPS itu?" Tanya Justin tiba-tiba saat Jessy membuka pintu kamarnya. Ponsel Jessy ada digenggaman tangan Justin, membuat Jessy mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Jessy bingung.


"Aku melihat chat mu dengan Larissa." Ucapan Justin begitu tenang, namun mampu membuat jantung Jessy merasa terhenti seketika.