
Pintu mobil terbuka. Jessy menjerit kecil saat tangannya ditarik keluar oleh Justin.
"Aku bisa sendiri!" Jessy meronta, ia menarik tangannya agar terlepas dari Justin, ia takut dengan kemarahan pria itu.
"Sudah diam. Aku juga tidak akan menyakiti mu." Jessy hanya bisa pasrah, ia mengikuti Justin masuk kedalam rumahnya. Hingga saat menutup pintu kembali, Justin melepaskan tangan Jessy.
"Duduk." Jessy menelan ludahnya. Ia takut, tidak ada raut wajah bercanda seperti kemarin-kemarin. Kini wajah pria itu serius.
_
Justin menarik nafasnya panjang. Kemarahan tidak akan membuat semuanya membaik, Jessy masih mematung dibelakannya, membuat Justin yang tengah menahan amarah ingin tertawa, wajah yang biasanya galak kini ketakutan, dan itu sukses membuat amarah Justin mereda.
"Duduk."
Justin tersenyum miring, Jessy tak bergeming sedikitpun.
"Kau ingin menjadi patung disini?" Tanya Justin. Ia berjalan terlebih dahulu dan menjatuhkan dirinya sendiri disofa, bahunya menyandar dengan nyaman dikepala sofa.
"Aku.." Jessy berdiri. Tangannya saling bertautan. Tanpa aba-aba, Justin menarik tangan Jessy, membuat tubuh Jessy seketika terjatuh di sofa.
"Kau!" Pekik Jessy spontan. Ia langsung menjauhkan tubuhnya yang terjatuh didekat Justin. Jessy membetulkan duduk dengan benar, disamping Justin. Terlihat senyum kecil diwajah pria itu.
"Apa aku harus mengunci mu didalam rumah setiap aku pergi?" Jessy mengerutkan keningnya.
"Aku kehilangan pekerjaan ku gara-gara kenakalan mu." Lanjut Justin.
"Pekerjaan mu berkencan dengan wanita lain?!" Suara itu kembali bergetar. Jessy kesal dengan dirirnya sendiri, ia terlalu lemah dan cengeng dengan semua ini.
"Aku tidak berkencan. Pekerjaan ku adalah memecahkan sebuah misi. Ini sangat rahasia dan aku tidak bisa memberitahu mu apa pekerjaan ku, sekalipun kau memaksa ku." Ujar Justin.
"Kenapa harus bersama seorang wanita?" Tanya Jessy mulai berkaca-kaca.
"Karena dia pintar. Kau tidak bisa memarahinya." Ingin rasanya Jessy memukul Justin, jawaban pria itu sungguh tidak masuk akal.
"Kenapa aku tidak boleh memarahi nya sedangkan kau boleh marah dan memukul pria yang bersama ku tadi?" Justin mengerucut kan bibirnya. Ia memutar otak mencari jawaban.
"Pertama, aku cemburu. Kedua, aku dan Sara tidak berkencan, jadi kau tidak bisa memarahi ataupun memukul Sara. Sepertinya yang kulakukan tadi."
"Aku juga tidak berkencan dengan pria tadi."
"Aku tidak peduli. Aku ingin memukulnya karena pria itu membuat ku cemburu."
"Licik. Kau benar-benar pria menyebalkan." Justin tertawa kecil.
"Kau menangis?" Justin mendekat. Jessy menepis tangan Justin yang akan menghapus air matanya. Ia mencari tissue didalam tas, namun yang ia dapatkan hanya sapu tangan pria tadi.
"Aku tidak suka kau marah seperti tadi." Gumam Jessy sambil mengelapkan satu tangan itu. Justin terkikik kecil. Ia gemas dengan tingkah Jessy. Ia pun tak menyangka akan meninggalkan kasus ini hanya untuk wanita manja seperti Jessy.
"Aku tidak akan pergi malam lagi. Aku sudah tidak akan mengurus misi itu. Kau puas?" Tanya Justin seakan mengejek. Mencairkan suasana agar tidak menegangkan.
"Aku akan bersama mu sampai acara..." Ucapan Justin terhenti. Keningnya berkerut keras. Bau ini!.
Mata Justin terfokus pada sapu tangan yang ada ditangan Jessy.
"Ada apa?" Tanya Jessy bingung melihat Justin kembali aneh.
"Sapu tangan siapa itu?" Suara Justin kembali serius. Jessy memberikan sapu tangan itu pada Justin dengan takut-takut.
"Dari pria tadi." Justin mengendus dalam sapu tangan itu, mengenali aroma itu dan membuka matanya dengan sorotan tajam.
Seketika kemarahan Justin memuncak. Ini adalah parfum yang ia cari, baunya sangat langka dan begitu jadul. Jessy hampir saja didekati pembunuh itu!.
"Tadi dia memberikan ini secara paksa?" Jessy menggelengkan kepalanya cepat.
"Pria itu memberikan ku botol minum."
"Dimana botol nya?"
"Dimobil mu. Ada apa?" Jessy panik melihat Justin panik. Justin berdiri dan segera bergegas menuju pintu keluar.
"Hallo Sara." Tepat saat pintu rumah ditutup, Jessy mendengar Justin menghubungi wanita tadi, kebingungan apa ini?!.