SHOW ME

SHOW ME
Pembunuhan Larissa



"Kemana?" Tanya Jessy cepat. Justin berjalan tergesa menuju keluar kamar.


"Aku... Aku menemui Devan sebentar, tunggulah. Aku akan kembali sebentar lagi." Justin benar-benar pergi, terdengar suara langkah kaki Justin yang dengan cepat menuruni setiap anak tangga.


Jessy menatap bingung dirinya dicermin. Ada apa? Kenapa Justin sangat buru-buru? Siapa yang Justin cari. Jessy langsung menggelengkan kepalanya, ia berusaha percaya dan tidak berfikiran buruk. Ya, Jessy harus bisa meyakinkan diri agar percaya pada Justin.


Saat mendengar suara mesin mobil, Jessy mengintip dari jendela kamarnya. Mobil Justin melaju kencang,


"Justin, Devan, dan Sara." Gumam Jessy. Mereka bertiga terkesan misterius.


___


Jessy menatap roti dihadapannya dengan tidak semangat. Ia sudah berdandan dan menunggu lebih dari satu jam. Justin tidak ada kabar sama sekali!.


"Dia memilih temannya lagi." Gerutu Jessy. Ia berjalan kearah sofa, menjatuhkan dirinya dengan malas.


Lagi-lagi Jessy mencuri pandang kearah jam dinding. Waktu terus bergulir dan Jessy semakin kesal. Ia bosan sendirian di dalam rumah. Aneh, memang, padahal ia terbiasa dengan keadaan menyendiri seperti ini sejak memutuskan pindah ke LA. Namun, karena akhir-akhir ini Jessy selalu ditemani Justin, membuat nya merasa bosan dengan keadaan sunyi ini.


Jessy menyalakan televisi, sebuah acara talk show dengan seorang model cantik tampil dilayar kaca itu. Seulas senyuman Jessy muncul, hayalannya terlintas begitu saja. Jika ia memiliki anak perempuan, Jessy ingin menjadikannya seorang model yang terkenal. Ia terlalu percaya diri mengingat dirinya dan Justin yang memiliki wajah mempesona.


"Astaga, apa yang aku pikirkan." Ujar Jessy malu. Ia terlalu berekspektasi lebih.


Suara notif diponsel membuat Jessy mengalihkan perhatiannya, berita terkini. 'Seorang wanita ditemukan tewas dengan beberapa tusukan ditubuh.'


Wajah Jessy yang awalnya tersenyum mendadak murah, berita ini membuatnya ragu. Ia membuka berita itu dengan jari yang sedikit bergetar.


'Los Angeles- Seorang wanita ditemukan sudah tidak bernyawa didalam rumahnya. Terdapat beberapa bekas ditubuhnya...'


"Breaking news." Kali ini televisi menampilkan berita yang dibawain oleh seorang reporter wanita.


Mata Jessy memanas, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ponsel ditangannya terjatuh begitu saja, di layar televisi kini tengah menyorot sebuah rumah berwarna putih yang sudah diberi garis polisi.


"Tidak mungkin." Suara Jessy bergetar, ia tidak percaya dengan semua ini. Itu adalah rumah Larissa!.


"Larissa." Isak Jessy. Ia menangis. Hatinya sesak dan tak percaya. Tidak, ini semua mimpi buruk!.


Jessy mengambil kembali ponselnya, retakan dilayar terlihat jelas, namun Jessy tak peduli, ia segera menelfon Larissa. Panggilan itu terus terdering, tak ada satupun yang terjawab.


"Larissa, ayolah itu pasti bukan kau!" Jessy marah. Ia membentak ponselnya sendiri, air matanya semakin berlinang. Tubuhnya bergetar dan tak siap dengan ini semua.


"Larissa." Isakan tangin Jessy semakin memilukan, tubuhnya merosot begitu saja, ia tak sanggung lagi untuk menahan tubuhnya sendiri, air mata terus mengalir.


Dengan sedikit gemetar, Jessy memberanikan diri membaca pesan-pesan mereka. Jantungnya seakan berhenti saat melihat pesan Larissa pada hari Minggu malam, Larissa memberikan alamatnya. Alamat yang sama persis ia lihat pada pesan Devan. Tubuhnya lemas, otaknya tak bisa berfikir.


111 N Rossmore Ave.


111 N Rossmore Ave.


111 N Rossmore Ave.


111 N Rossmore Ave.


Kata-kata itu seakan tengah mengejek Jessy, berputar dan mengelilingi pikirannya. Membuat Jessy memejamkan matanya, ia menangis sejadi-jadinya.


"Larissa maafkan aku." Isak Jessy pilu.


___


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta