SHOW ME

SHOW ME
Membersihkan rumah



"Dimana kau menaruh GPS-nya? Hebat, sampai-sampai aku tak mencurigai itu." Ujar Justin sambil tertawa pelan. Apakah Jessy memiliki bakat menjadi agen mata-mata juga?.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Jessy. Ia terlalu takut jika Justin kembali marah.


"Aku maafkan. Hanya saja aku penasaran kau menempelkan benda itu dimana? Ternyata Larissa kreatif menyuruh mu seperti itu. Apa jika kau menemukan ku selingkuh, dan Larissa menyuruh mu memasukan racun kau akan mengikuti nya?" Tanya Justin kembali. Melihat raut wajah Jessy yang sepertinya takut membuat Justin ingin sedikit jahil dan sedikit berakting.


Jessy menggelengkan kepalanya.


"Jangan bawa-bawa Larissa dalam masalah ini. Aku... Aku yang meminta Larissa untuk mencari cara agar bisa mengikuti mu."


"Oh, aku mengerti, sekarang dimana Larissa? Apa masih dibawah? Aku ingin berterima kasih karena telah berhasil membuat mu pintar." Ingin rasanya Justin tertawa melihat wajah Jessy yang memerah. Karena tak sanggup meneruskan aktingnya, Justin berdiri dan berjalan mendekati Jessy.


"Larissa sudah pergi, ia harus mengantarkan temannya ke Bandara. Kau tidak boleh memarahinya"


Justin menaruh tangannya diatas kepalanya Jessy, mengelus nya lembut.


"Jangan lakukan itu lagi, ya." Ujar Justin pelan.


"Pekerjaan ku berbahaya, aku tidak ingin kau dikenali diluar, aku takut kau yang menjadi target jika aku kecolongan data pribadi ku."


"Bisakah aku tahu apa pekerjaannya mu?" Tanya Jessy.


"Tidak. Kau tidak perlu tahu sayang, yang kau harus tahu adalah bagaimana cara membuat suami mu senang."


Tanpa sadar, Jessy menghela nafasnya sedikit panjang.


"Kau mulai lagi membahas itu. Sudah lah, ayo kita mulai membersihkan rumah." Justin tertawa kecil melihat Jessy berjalan terlebih dahulu kearah lemari, lalu menutupnya lagi. Sepertinya wanita itu tengah salah tingkah.


"Mengambil perlengkapan kebersihan, sayang. Bukan membuka lemari. Ejek Justin." Jessy mendelik sekilas, lalu berjalan kepintu kamar.


"Aku hanya sedang berpikir, lebih baik memulai nya dari mana. Sepertinya kita akan membersihkan ruang praktik ku terlebih dahulu. Selesai kita menikah nanti aku akan kembali bekerja."


"Bagaimana jika kita memulainya dari kamar mandi?" Jessy mengangkat alisnya.


"Kenapa harus kamar mandi?" Justin tertawa kecil lalu mengibaskan tangannya pelan.


"Ah, tidak. Ayo kita bersihkan ruangan kesayangan mu." Lanjut Justin.


___


"Bagaimana jika tidak membuang barang-barang itu? Kita simpan saja digudang."


Justin langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Ia lelah, lapar dan ingin mandi.


"Aku sudah menurunkan ini semua dari atas. Dan sekarang kau menyuruh ku menyimpan nya digudang? Lantai atas?"


"Tapi ini sayang jika dibuang. Aku takut suatu saat nanti aku membutuhkan nya." Jessy duduk disebelah Justin.


"Aku akan membelikan barang-barang baru jika kau membutuhkannya nanti." Eluh Justin. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Jessy dengan manja.


"Kita baru makan roti. Dan sekarang sudah jam 4, perut ku minta diisi lagi." Ujar Justin manja, ia mengelus perutnya sendiri dan menampilkan wajah kekanak-kanakan.


"Ya sudah aku buatkan dulu makanan untuk mu. Kau mandi, bau keringat."


"Hei! Parfum ku mahal, tidak mungkin ada bau keringat yang keluar." Protes Justin.


Jessy tertawa kecil. Ia menjauhkan kepala Justin dari bahunya.


"Sudah sana mandi. Aku tahu kau lelah. Kau ingin aku masak ikan atau steak?"


"Aku ingin udang, kepiting, kerang..."


"Kau memilih yang tidak ada!"


"Ya sudah aku ingin ikan, tapi itu harus tuna." Jessy menghela nafasnya. Ia mengangguk dan mulai beranjak berjalan kedapur. Ia harus memberi makan bayi besar yang rewel.


___


Sabar ya, konflik aslinya sebentar lagi mulai🙌


jangan lupa follow Ig: Dheanvta 👻