SHOW ME

SHOW ME
Mulai



'Sudah. Mana alamat mu?.' Jessy membalas cepat. Ia mengambil kunci mobil didalam tasnya, untung saja ia sempat meminta kunci mobil pengganti itu.


'111 N Rossmore Ave, aku akan menunggu mu didepan rumah.'


Jessy tak membalas. Rossmore lumayan dekat dari sini. Dengan handalnya Jessy mengendarai mobil dengan kencang, ia tidak bisa dibodohi terus, ia harus tau apa yang Justin lakukan. Bagaimana Jessy tidak senekat ini, Justin selalu pergi dimalam hari, pulang dalam keadaan mabuk dan menyelinap masuk bagaikan maling. Kecurigaan Jessy semakin besar, Justin pasti mabuk-mabukan dan berjudi, sifat pelit nya mungkin karena ia kalah judi, uangnya habis dan mobil milik Jessy pun mungkin dijadikan taruhan.


Jessy marah dengan dirinya sendiri, ia terlalu memikirkan hal yang berlebihan, memanas-manasi keadaan. Dirinya terlalu menduga-duga.


"Hallo." Pekik Jessy sambil menurunkan jendela mobilnya. Ia berhenti didepan sebuah rumah yang tampak asri. Rumah itu minimalis dan sangat rapi dengan pagar yang rendah.


"Waw. Mobil mu cantik." Komentar Larissa, wanita itu berjalan mengitari kap mobil dan masuk, duduk disebelah Jessy.


"Ini milik Justin. Mobil ku sedang diperbaiki." Larissa menganggukan kepalanya mengerti.


"Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Jessy bingung. Ia tak mengerti dengan alat GPS yang dihubungkan pada ponselnya.


Mereka merencanakan ini kemarin, saat Larissa kerumah Jessy, mereka menghabiskan waktu untuk mikirkan ini. GPS tersebut milik mobil Larissa, ia selalu menempelkan GPS untuk berjaga-jaga jika suatu saat mobilnya hilang atau dipinjam seseorang ia bisa melacaknya.


"Kita mengikuti titik kuning ini. Kau hanya perlu menekan ini, ini, lalu rute." Jessy membuka mulutnya kecil, ia seakan mengatakan 'Ohh' tanpa suara.


Jessy mulai menjalankan mobilnya, mengikuti arahan dari Larissa.


"Maaf merepotkan mu." Ujar Jessy pelan.


"Tidak masalah, aku mengerti masalah percintaan mu, dan aku tidak akan tenang jika kau mengintainya sendirian, setidaknya jika Justin benar-benar memiliki pekerjaan berbahaya aku ada bersama mu menemani mu." Larissa mengelus pelan bahu Jessy, sedikit menenangkan wanita itu. Larissa tau rasanya khawatir.


"Oh terimakasih banyak, Larissa." Jessy benar-benar tersentuh, ia beruntung mengenal Larissa saat di pesawat.


_


"Kau tidak mungkin bisa masuk." Gumam Larissa pelan. Jessy mengerutkan keningnya.


"Memangnya kenapa?"


"Ini klub malam. Bukankah kau tidak suka tempat seperti ini?" Jessy menatap ragu bangunan gelap itu, hanya ada tulisan bercahaya didepan tembok besar itu.


"Aku akan memaksakan diri untuk masuk. Kau temani aku terus ya." Larissa mengangguk, ia melepaskan seat belt nya dengan sangat pelan.


"Aku tak menyangka Justin datang ke klub ini." Mendengar itu Jessy semakin penasaran, ia benar-benar tidak mengerti dengan klub.


"Apa ada yang salah dengan klub ini?" Tanya Jessy tak bisa menahan pertanyaannya.


"Tidak. Namun, ini klub anak muda dengan budget yang tipis. Aku kira seorang Justin yang memiliki ayah millionaire sepeti itu akan memilih klub elit dengan kartu VIP untuk masuk kedalam klub mewah." Jessy tersenyum garing mendengar itu. Ia mengambil tasnya sebelum menjawab.


"Apa aku pernah mengatakan ini? Dia sedikit berbeda dengan pria kaya lainnya." Ujar Jessy. Larissa hanya tertawa kecil mendengar itu.


Mereka turun dari mobil. Jessy sedikit menghembuskan nafas lega, dress yang ia kenakan untuk malam sepertinya cocok untuk masuk kedalam klub, ia tidak mengenakan gaun panjang seperti biasanya. Malam ini ia mengenakan dress hitam dengan panjang hanya 5cm diatas lutut.


"Peganglah kunci mobil ku, jika aku menemukannya sedang bersama wanita, aku akan langsung menariknya pulang, dan kau.. apa tidak apa-apa mengendarai mobil ku sendirian? simpan saja dulu dirumah mu, pagi nanti aku akan mengambil nya." Larissa tersenyum dan mengangguk.


"Kau ini terlalu sungkan."


___


Guys jangan lupa hadiah, biar makin semangat 😘 pada nungguin mereka berantem terus patah hati kan?😂