SHOW ME

SHOW ME
menjadi CEO?



Acara makan malam berjalan dengan lancar. Walau hanya menyicipi beberapa makanan yang tersedia, namun itu membuat perut mereka kenyang, makanan yang disajikan begitu beragam. Makanan yang lezat, tampilan menarik dan tentunya sangat mewah.


Alex menarik sapu tangannya, menyapu halus bagian pinggir mulutnya dengan begitu berkelas, walaupun bersih ia tetap melakukan hal itu, table manner tak pernah ia lupakan.


"Terimakasih sudah bekerja keras hingga kalian lembur beberapa hari. Ini adalah acara pernikahan anak ku satu-satunya, jadi aku harap semaksimal mungkin acara ini lancar, aku tidak ingin ada kesalahan walau hanya sedikit saja." Ucapan Alex begitu santai dengan nada tawa diakhirnya, membuat tim WO hanya membalas senyuman dan ada juga yang tertawa halus membalas Alex.


"Kau tidak salah memilih kami Mr.Franz, kami yakin semua nya akan berjalan dengan lancar tanpa ada kelalaian. Walaupun waktu yang diberikan cukup singkat, tapi kami sudah profesional dalam mengatasi ini. Kau tidak perlu mencemaskannya." Alex menganggukan puas, wajahnya terlihat antusias menatap wajah wanita yang tengah berbicara tadi. Suasana sangat hangat dan tidak tegang sedikit pun.


"Ya, aku percaya. Kalian selalu mengirimkan hasil kerja kalian pada email ku. Aku pastikan kalian semua mendapatkan bonus diakhir acara nanti." Alex tertawa renyah, membuat semuanya ikut tertawa kecil, hingga Jessy pun ikut tertawa.


Justin tersenyum miring. Ini lah yang membuat Justin masih mengakui Alex adalah ayahnya. Alex dikenal dermawan walau dirinya selalu menekan seseorang agar sesuai dengan keinginannya.


"Apa besok kita memiliki acara pertemuan lagi?" Tanya Justin tiba-tiba. Membuat semua perhatian kini teralihkan pada Justin.


"Tidak ada sir, ini adalah pertemuan kita terakhir. Kami akan mulai mempersiapkan semuanya besok." Jawab seorang pria ramah. Justin tersenyum lega, itu artinya ia tidak akan repot-repot menyisihkan waktunya lagi.


___


Setelah acara selesai, semua tim WO sudah pulang dan meja pun sudah dibersihkan. Kini hanya ada Jessy, Justin, Alex dan asisten pribadinya.


"Jessy, ayah ibu mu mengabari ku akan kemari Jumat nanti. Bisa kah kita bertemu dirumah ku saja? Aku akan menyiapkan semuanya." Ujar Alex lembut. Jessy menganggukan kepalanya sambil tersenyum, walau dalam hatinya tengah berseru kagum. Bagaimana bisa orangtua nya mengabari Alex terlebih dahulu tanpa ada satu pesan pun untuk dirinya?.


Sedangkan Justin, ia melirik jam yang melingkar ditangannya. Ia harus cepat-cepat pergi dari sini, obrolan tadipun tak Justin dengar, pikirannya terlalu berkecamuk karena sudah ada saksi mata yang melihat rupa pembunuh itu. 'Dari gambaran yang didapat, pria itu datang dengan jaket tebal, namun saat memasuki rumah, pria misterius itu membuka penutup kepalanya'


"Justin." Panggilan Alex. Membuat Justin seketika menatap ayahnya dengan sedikit bingung.


"Bagaimana proyek mu dengan Richard?"


"Umm.. itu berjalan lancar, aku meminta mereka menyelesaikan dengan cepat." Jawab Justin. Richard sudah mengirim email tentang perkembangan di New York, tapi satupun tak ia buka, ia malas, tak mengerti dan tidak ingin tahu.


"Jangan terlalu dipercepat, lebih baik santai tetapi maksimal." Ujar Alex.


"Jika proyek itu berhasil, aku tidak membebaskan mu, aku akan menaikan mu menjadi CEO."


"Apa?!" Pekik Justin kencang. Ia berusaha sekeras mungkin bekerja sama dengan Richard agar proyek itu berhasil, ia ingin segera terbebas dari perusahaan itu, bukan menaikan jabatannya menjadi CEO!.


"Justin." Bisik Jessy memperingati.


"Jika tidak belajar dari sekarang siapa yang akan meneruskan perusahaan ku? Kau anak ku satu-satunya, sebentar lagi kau memiliki anak dan istri yang harus kau beri makan." Justin menggeram. Menjadi GM saja meresahkan dan membosankan, bagaimana bisa ia mengurus perusahaan besar yang ada dimana-mana itu.


"Tapi aku tidak menyukai pekerjaan itu.." ucapan Justin terhenti.


"Ini bukan tentang kau menyukai nya atau tidak. Ini adalah tanggung jawab mu sebagai anak ku." Justin berdecak, ia berdiri seketika.


"Ini sudah malam. Aku dan Jessy harus pulang." Justin meremas bahu Jessy pelan, memberi kode bahwa ia sudah tak nyaman berada diruangan ini.


Alex mengerti, ia melihat ramah pada Jessy yang terlihat ragu untuk berbicara.


"Pulanglah, benar ini sudah terlalu malam untuk mu. Tolong bantu aku membujuk anak nakal ini ya." Ujar Alex terkekeh, membuat Jessy akhirnya bisa tersenyum dan mengangguk.


"Baik. Aku janji akan membujuknya."


"Sudahlah, ayo kita pulang." Desak Justin. Dengan tak sabar ia mengambil tas Jessy, menggantungkan nya pada tangan Justin dan menarik lembut lengan Jessy agar berdiri.


___


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta