SHOW ME

SHOW ME
Mengulur waktu



Jessy meringis ngeri saat Justin membuka kausnya. Seketika rasa bersalah menyelimuti hati Jessy. Sedikit lebam terlihat dikulit punggung Justin.


"Lain kali jangan bertingkah seperti perampok lagi, kau juga merusak jendela ku." Jessy menempelkan kain berisi es batu pada bagian yang sedikit membiru itu, ia benar-benar memukul keras karena pikirannya sudah mengarah pada perampokan dan pembunuhan. Salah pria itu juga yang mengatakan banyak pembunuh berkeliaran, membuat Jessy menjadi parno sendiri.


"Aw. Jangan terlalu ditekan. Kau banyak memukul ku dibagian itu." Pekik Justin.


"Baru beberapa hari kemarin aku dipukul oleh kakak mu. Luka di bibir ku saja belum sembuh, dan sekarang kau yang memukul ku, meninggalkan luka pula." Gerutu Justin. Ia meringis disetiap tekanan Jessy. Badannya terasa remuk.


"Jangan berlebihan, ini hanya lebam dan besok akan sembuh. Aku akan mengoleskan obat luar untuk lebam mu."


Justin menatap sekeliling kamar Jessy sambil menahan rasa sakit yang sedikit berdenyut. Sial, bagaimana bisa seorang wanita memiliki kekuatan sebesar itu untuk memukulnya.


"Sebentar! Aku menginginkan ini." Justin menrangkak ketengah ranjang, mengambil ponsel Jessy yang tergeletak begitu saja. Terdengar suara helaan nafas dari perempuan itu, membuat Justin sedikit terkikik mengingat marahnya Jessy tadi.


-Flashback-


"Jadi kau menyadap ponsel ku?!" Bekas pukulan tongkat itu masih terasa berdenyut, dan kini telinganya pun ikut berdenyut.


"Aku akan menjelaskannya! Setidaknya bantu aku dulu untuk berjalan, kau ingin aku mati disini?" Geram Justin. Raut wajah wanita itu masih terlihat kesal, hanya saja Jessy tetap menurut dan membantunya berdiri, memapahnya hingga duduk disofa.


Baru saja Jutsin ingin merilekskan tubuhnya, ia lupa, ia bersandar dan memekik keras.


"Oh tidak, ini terasa sangat ngilu." Jessy menggigit bibirnya sendiri, ia membayangkan rasa ngilu tersebut, membuatnya merasa iba yang memegang bahu Justin pelan.


"Biar aku lihat apakah ada luka atau tidak." Baru saja Jessy memegang jaket Justin, Justin menahannya.


"Pindahkan aku dulu keatas. Aku ingin sambil tiduran, aku tidak kuat duduk." Ujar Justin berlebihan, ia memasang wajah yang kesakitan yang dibuat-buat. Mengulur waktu sambil memikirkan alasan yang tepat atas tindakan bodohnya tadi, kenapa ia harus memberitahu Jessy bahwa ia menyadap ponsel wanita itu!.


"Kau ini sangat merepotkan sekali! Kita keruangan praktik ku." Jessy membantu Justin berdiri dari duduknya.


Setelah Justin berdiri dan sebelah tangannya dileher Jessy, Justin sedikit tersenyum, wanita ini sangat mudah percaya.


"Aku tidak ingin diruangan itu. Aku butuh tempat yang empuk dan lebar agar punggung ku nyaman dan cepat sembuh." Terlihat Jessy mengerutkan keningnya.


"Kamar mu, aku rindu kasur mu yang empuk itu."


"Tunggu! Kau merindukan kasur ku? Jadi malam itu kau benar-benar sudah kurang aja padaku kan?!" Justis menarik nafasnya pelan. Wanita ini masih tidak menyadari fakta yang sebenarnya.


"Ya. I want to show you... Jika kau masih belum yakin." Ejek Justin berbisik. Sudahlah, biar Jessy berfikir seperti itu. Pada akhirnya pun Justin akan tetap dipaksa menikahinya.


"Kau...!" Geram Jessy.


Justin memasang wajah kesakitannya kembali saat Jessy hendak marah dan melepaskan rangkulannya.


"Aw.. aku tidak bisa menahan sakit dipunggung ku. Aku rasa ini cidera parah. Tolong panggilan kan ayah ku untuk menjemput..."


"Apanya yang cidera? Kau berlebihan!" Jessy panik. Ia tidak ingin dicap sebagai wanita sadis oleh calon mertuanya sendiri.


"Kau boleh tidur dikamar ku malam ini." Justin menggulum senyumnya. Ia menang. Sedangkan Jessy membuang nafasnya kasar, seperti nya malam ini ia akan tidur di ruang praktiknya.


Dengan sedikit sabar dan pasrah, Jessy menahan rangkulan Justin, mebimbing pria itu menaiki setiap anak tangga, dan mendudukkan Justin diatas ranjangnya.


"Tunggu sebentar, aku ambil dulu es dan kain. Berbaringlah dengan nyaman." Baru dua langkah dari Jessy berbalik, wanita itu menghampiri Justin kembali.


"Tapi aku ingin tahu alasan mu dulu! Apa saja yang kau sadap?!"


"Hanya lokasi."


"Kau berbohong!"


"Tidak bisa kah kau membawa es dulu? Setidaknya buat rasa sakit ini menghilang terlebih dahulu."


°°°


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta