
Satu minggu telah berlalu. Kini ia mulai fokus pada pekerjaan nya. Beberapa dokumen berapa diatas meja. Pulpen yang ada dijemarinya ia pular dengan gerakan konsisten. Pandangannya fokus pada deretan angka yang ada.
"Sam!" Teriak Justin.
____
"Sam!" Teriakan itu membuat Sam mendengus pelan. Ini akan menuju makan siang, dan Justin sudah memanggilnya sebanyak 9 kali. Bagaimana kedepannya? Akan ada berapa banyak kata 'Sam' yang ia dengar sampai jam pulang nanti?.
Sam membuka pintu ruangan Justin. Ia masuk dan berjalan mendekat pada meja Justin.
"Ya? Ada yang bisa aku bantu, lagi?!" Sam sengaja menekan kata 'lagi' kepada Justin. Namun, pria itu berlagak fokus dengan wajah dingin, ia mengatakan akan menjadi CEO seperti Richard dan tak lama lagi ruangan GM ini akan ia tinggalkan. Sungguh sombong dan terlalu percaya diri.
"Bisa kah kau mengajari ku dulu tentang perusahaan? Disini menjelaskan adanya data keuangan yang tidak sinkron. Apanya yang tidak sama! Ini semua sama dan balance! Ah kepala ku tidak siap, lebih baik aku memecahkan setiap pikiran orang-orang jahat yang akan melakukan kriminal." Sam menggelengkan kepalanya. Ia memutari meja itu dan berdiri disebelah Justin.
"Ini bukan tentang Balance, semua orang bisa memanipulasi data agar terlihat baik-baik saja. Tapi bisa kah kau melihat-lihat kertasnya dulu? Dibelakang sini masih ada lembar yang tersisa." Sam membuka halaman selanjutnya.
"Lihat, ini ada penjelasan yang kau cari. Pengeluar dicabang ini terlalu tinggi, sedangkan penghasilan yang didapatkan selalu rendah."
"Tetapi disini tertulis, kita tetap mendapatkan laba, itu artinya kita tidak rugi bukan." Astaga! Sam menarik nafas nya dalam. Ia harus menjadi dosen bagi Justin, dan rasanya ia harus menambah kembali stock kesabaran nya.
"Jika laba yang kita dapatkan terus seperti ini, bagaimana cara mu menggaji karyawan? Membayar pajak? Membeli bahan baku?"
"Ah, ya ya ya. Aku mengerti, lalu bagaimana? Aku harus menandatangani nya?" Sam mengangguk dan menunjuk seteretan tulisan.
"Kau harus memutuskan. Menutup cabang ini atau memberi gebrakan baru." Seketika mata Justin membola.
"Kau gila?! Aku akan dimarahi oleh ayah ku jika menutup cabang nya."
"Ini hanya cabang kecil diantara puluhan cabang yang Mr.Franz punya." Justin mengepalkan tangannya.
"Lalu bagaimana? Aku tutup saja?"
"Jangan asal! Adakan rapat dan dengarkan saran semua bagian yang akan presentasi. Aku sudah menyuruh beberapa bagian untuk menyediakan ide gebrakan untuk menaikan omzet, dan kita juga harus mengubah semua management yang ada disana. Sistem tata kelola yang buruk akan menghasilkan strategi yang buruk. Setelah rapat, kau bisa memutuskan tutup atau menggebrak cabang ini. Jika dirasa ada ide yang bagus, lebih baik kau lanjut. Namun, jika kau rasa ini akan percuma, lebih baik tutup."
Justin terdiam sesaat. Lalu bersandar dengan santai dikepala kursi.
"Mulai lah dengan sungguh-sungguh, aku takut jika kau menjadi CEO nanti semua anak perusahaan yang memiliki penurunan akan kau tutup semua hingga kau sendiri bangkrut."
"Astaga! Ucapan mu itu sangat tidak sopan Sam. Akan aku katakan pada ayah ku."
"Bukan begitu, aku..."
"Ah, sudah lah pesankan makanan untuk ku. Aku malas mencari makan keluar." Justin menghentikan ucapannya, sekelebat pikirannya terasa mendapatkan ide.
"Tapi tunggu, aku tau siapa yang akan membawakan ku makan." Sam lagi-lagi menarik nafasnya. Bagaimana pun Justin anak Alex. Dan jika bukan, sudah pasti Sam tendang jauh-jauh manusia seperti ini. Lihat saja, Justin malah bersandar santai dan menelfon Jessy, membujuk dan merayu istrinya untuk datang dan membawakan makan.
"Aku permisi." Ujar Sam pada akhirnya. Justin hanya mengangguk pelan dan mengibaskan tangannya, raut wajahnya seakan bahagia tengah berbincang ditelfon.
___
Malem nanti jangan lupa check profil aku ya. Cerita Ken dan Valerie akan di up nanti malam.🙌
Judulnya 'The Perfect Match'
Juara Hadiah untuk Novel The Perfect Match.
Juara 1 - Rp. 100.000.-
Juara 2 - Rp. 75.000.-
Juara 3 - Rp. 50.000.-
Diselenggarakan pada 28 Juni - 31 Juli 2021.
Â
jangan lupa juga follow author wkwk