
Jessy menutup pintu mobilnya. Berjalan masuk kedalam gedung pencakar langit tersebut dengan langkah yang anggun. Ia mengenakan dress dengan bahan lembut, tangannya membawa tempat makan berwarna hitam.
Beberapa sambutan hangat yang diterima Jessy membuatnya tersenyum, membalas setiap sapaan dan wajahnya kembali cemberut saat sudah berada di lift.
Ia bosan dengan rumah yang baru Justin beli. Hanya beberapa asisten yang menemani, peralatan praktek nya tidak di ijinkan Justin untuk dipindahkan kerumah baru mereka.
Saat lift terbuka, Jessy berjalan menuju ruangan Justin, Sam yang berada dilantai yang sama menyambut nya hangat dan menghilang masuk kedalam ruangan kerjanya. Jessy belum berbaur dengan keadaan seperti ini, dimana setiap orang menjadi segan dan ramah. Ia ingat Minggu lalu Sam masih mengatai dirinya dan Justin 'Anak-anak' dan sekarang Sam berubah drastis, menjadi lebih profesional dan kaku pada Jessy.
"Hai sayang, terimakasih sudah datang menemani kerja ku." Justin menyambut Jessy yang baru masuk kedalam ruangannya, mencium kilat pipi Jessy dan mengambil kotak makan yang diberikan. Tanpa mengajak Jessy duduk, Justin terlebih dahulu berjalan menuju sofa dan meletakan kotak makan tersebut, membukanya perlahan dan menatap lapar pada makanan tersebut.
"Kapan kau mengijinkan aku untuk kembali membuka praktek ku, Justin?" Suara Jessy terdengar kesal, bagaikan anak kecil yang merengek minta sesuatu.
"Sampai kau terbiasa memanggil ku 'sayang'." Ujar Justin santai. Ia mulai mencicipi masakan Jessy. Wanita itu pandai memasak salmon kesukaannya.
"Sayang. Aku bosan dan ingin kembali bekerja." Rengek Jessy.
"Tidak. Kau memanggil ku tidak tulus." Justin terkekeh pelan. Ia memakan dengan lahap dan mencuri pandang pada Jessy yang tengah cemberut.
"Nanti aku jelaskan kepada mu."
"Menjelaskan apa?" Tanya Jessy pelan.
"Alasan ku tidak ingin kau bekerja atau sibuk dengan karir mu."
"Mengapa harus nanti? Sekarang saja." Desak Jessy.
"Sayang, aku sedang makan, kapan aku menghabiskan makan jika sambil bercerita." Senyum Jessy terukir tipis. Ia menunggu Justin menghabiskan masakannya. Ini adalah hari pertama Justin bekerja, mereka menghabiskan seminggu awal pernikahan di dua negara, atau biasa disebut honeymoon. Dan pagi tadi, melihat dirinya hanya sendiri didalam kamar membuat Jessy jenuh, beberapa pasiennya direkomendasikan kepada psikiater lain karena Jessy merasa tidak enak membiarkan mereka terlalu lama menunggu Jessy.
Jessy berjalan ke arah meja Justin, mengambil gelas berisi air dan memberikannya pada Justin. Pria itu menutup kembali kotak makan dan mulai minum.
Justin mengiring kepala Jessy untuk bersandar dibahunya, mengelus pelan kepala Jessy dan sedikit menghela nafasnya.
"Dulu, ibu ku seorang model dan membunyai beberapa bisnis kecantikan, ayah ku,, yahh kau tau sendiri bagaimana dirinya. Mereka terlalu fokus pada karir, melupakan seorang anak yang harusnya diberi kasih sayang secara tulus. Aku hanya tidak ingin anak kita mengalami hal yang sama, kau fokus saja menjadi istri dan membesarkan anak kita. Aku rasa masalah keuangan, aku sendiri bisa atasi dengan pekerjaan ku sekarang, dan aku pastikan aku bisa memenuhi semua belanjaan mu. Kau tau kenapa?" Jessy menggelengkan kepalanya.
"Karena aku sudah meminta pendapatan yang besar pada ayah ku." Tawa Justin menggema. Jessy memukul pelan dada Justin.
Ucapan Justin memang benar, namun sebelum ia hamil, Justin memberikan kesempatan untuknya bekerja.
"Tapi aku..." Ucapan Jessy tertahan. Suara ponsel Justin berdering dan layar ponsel itu menampilkan nama 'Sara' membuat Jessy mengerutkan keningnya dan menatap Justin tajam.
"Kau masih sering berhubungan dengan Sara?" Tanya Jessy sinis.
"Tidak. Seminggu ini aku kan selalu bersama mu!" Protes Justin. Ia langsung mengangkat nya dan berdiri, berjalan kearah jendela.
Jessy memutar bola matanya malas. Moodnya seketika hilang, ia cemburu dan tak pernah suka pada Sara. Wanita itu terlalu sombong dan tidak pernah tersenyum pada Jessy, bahkan dihari pernikahan nya!.
Terlihat Justin berjalan kearah Jessy, raut wajah Justin tak terbaca, yang Jessy lihat ada 2 kemungkinan. Antara kabar gembira dan keterkejutan.
"Ada apa?" Tanya Jessy.
"Will sudah tertangkap. Ternyata nama asli pria itu bukan Will, tetapi Sean. Dan sekarang pria itu sedang diperiksa oleh psikolog."
Jessy mengerutkan keningnya.
"Mengapa psikolog?"
"Karena saat ditangkap Sean tidak menolak, ia malah tersenyum kecil dan pasrah. Polisi juga menemukan buku catatan, Sean selalu menulis siapa saja korbannya dan apa saja yang ia lakukan pada korban. Bahkan dibuku itu tercatat bahwa Sean selalu membawa jaket tebal dari setiap korbannya, sebagai kenang-kenangan diakhir pertemuan mereka. Gila bukan?"