SHOW ME

SHOW ME
Pengakuan



Justin duduk kembali saat melihat ayah Jessy duduk terlebih dahulu.


"Sebenarnya Jessy belum menceritakan masalah tentang kalian berdua. Jika kau mau aku bantu, bisa jelaskan kepada ku apa masalah kalian? Um.. banyak masalah oranglain yang aku tangani, aku ingin sedikit membantu masalah anak ku dan calon menantu ku sendiri ." Jelas Jeremy. Melihat raut wajah Justin yang tampak ragu membuat Jeremy berdiri, berpindah tempat duduk menjadi disebelah Justin, menepuk bahunya pelan .


"Percayakan pada ku. Aku dan Anna sudah cocok dengan mu, kami selalu menantikan hari pernikahan kalian."


Justin menghirup nafas panjang sebelum pada akhirnya mengangguk. Jeremy adalah seorang pengacara, ia sangat ahli dengan hukum, Justin rasa Jeremy akan mengerti kebimbangannya.


"Aku harap anda tidak memberitahu informasi ini pada siapapun." Ujar Justin pelan. Ia mengeluarkan dompetnya, membuka tempat paling terpencil didalam dompet tebal itu.


"Santai saja Justin, panggil aku ayah agar kau nyaman menceritakan nya." Bujuk Jeremy.


Justin mengeluarkan tanda pengenal anggota CIA yang masih terbungkus cover card berwarna hitam, Justin menatap Jeremy, memastikan bahwa ia tak salah mempercayai orang.


"Sebelumnya ini karena salah paham. Aku dan Jessy pernah bertengkar sekali." Dalam hati Justin menambahkan, bertengkar kecil yang sering.


"Lalu." Ujar Jeremy. Matanya tak bisa teralih dari tangan Justin, ia penasaran dengan sesuatu yang ada digenggamannya.


"Jessy ternyata memasang GPS dimobil ku, dan itu adalah ide sahabatnya, Larissa. Aku sangat marah dan sempat menyindir tentang Larissa pada Jessy. Sampai kemarin pagi, aku mendapatkan misi kerumah Larissa." Jeremy mengerutkan keningnya. Misi?.


"Aku... Aku mendapatkan misi untuk menghentikan pembunuhan yang berlokasi di kawasan Rossmore, dan aku merasa kenal dengan alamat itu."


"Sebentar. Misi? Menghentikan pembunuhan?" Tanya Jeremy yang mulai bingung.


"Kau agen mata-mata?" Tanya Jeremy sekali lagi. Justin menganggukan kepalanya.


"Aku... Aku terlambat datang. Larissa sudah terbunuh dan pembunuh itu lolos dengan satu tembakan oleh ku disatu kakinya." Ada tampak terkejut yang membingkai diwajah Jeremy.


"Jessy mengira aku pembunuh Larissa, aku sendiri syok melihat sahabat Jessy yang menjadi korban pembunuhan. Semuanya terasa mendadak dan aku tak siap. Aku menenangkan diri dimarkas, dan saat pulang, Jessy sudah pergi dengan isi pikiran yang mengatakan bahwa aku membunuh Larissa karena saat beberapa hari yang lalu aku pernah menyindirnya."


"Tenang. Sekarang aku tahu apa masalah kalian. Aku akan..." Ucapan Jeremy terhenti saat Justin menyodorkan cover card berwarna hitam doff.


Dengan perasaan yang campur aduk, Jeremy membuka cover card dengan pelan. Sedikit terkejut mendapati tanda pengenal CIA. Di sisi kiri terdapat lambang CIA yang begitu mengkilat, sedangkan di sisi kanan terdapat foto dan nama Justin, terdapat nomor, QR dan Barcode. Ia tak menyangka jika Justin seorang CIA.


"Dengar Justin. Aku tahu hukum dan aku tidak akan membocorkan nya pada siapa pun. Aku berani bersumpah akan menjaga informasi ini. Sekarang kau pulang lah dulu, biarkan Jessy merasa kehilangan diri mu. Aku akan menelfon untuk memberikan rencana selanjutnya."


"Tapi.. acara pernikahan beberapa hari lagi, aku tidak bisa pulang begitu saja." Ucap Justin.


"Kau bisa menginap di hotel dulu, aku pastikan besok kita akan ke LA bersama-sama. Maaf tidak bisa memberikan kamar untuk mu, aku takut Jessy merasa tertekan dan rencana yang aku susun akan berantakan." Justin menatap ragu. Apakah Jemery akan benar-benar membantunya? Justin menggelengkan kepalanya, Jemery orang yang jujur, ia harus percaya dan mengikuti nya.


"Aku percaya pada mu, Dad. Kalau begitu aku pergi dulu, terimakasih sudah membantu ku." Jeremy tersenyum, ini pertama kalinya Justin memanggil nya ayah, Justin tak sebrandal yang orang-orang katakan.


"Kau harus bahagia menjelang hari pernikahan. Buang kesedihan mu yang akan menjadi sia-sia itu." Tepukan keras dibahunya seperti semangat yang disuntikkan. Justin sedikit bisa tersenyum lega.


___


Justin berjalan keluar ruangan itu, mengeluarkan ponselnya dan menelfon Sam. Tak menunggu lama Sam mengangkat nya.


Tepat saat ia akan berbicara, pintu kamar Jessy terbuka, membuat langkah Justin sedikit menelan. Namun ia ingat sesuatu, Jessy harus merasakan kehilangan dirinya. Saat mata mereka bertemu, dengan cepat Justin membuang wajahnya.


"Sam tua! Cepat jemput aku kembali, kau ingin aku menjadi gelandangan di Kanada?! Ayo kita pulang kembali ke LA, membuang waktu ku saja jauh-jauh kemari." Ucapan itu sengaja Justin keraskan. Mengabaikan Sam yang tengah protes dengan sebutan tua itu. Sam juga berprotes karena ia baru mendapatkan hotel dan harus menjemput Justin kembali.


"Pesankan juga kamar VIP untuk ku." Bisik Justin saat sudah diluar rumah Jessy.


Justin mematikan panggilan itu dengan sepihak. Memberi senyum dan sapaan hangat untuk Anna.


"Mom, aku pergi dulu."


"Bagaimana? Apa kau dan Jessy sudah berbaikan?" Tanya Anna cepat.


"Dad menjanjikan besok kita semua akan ke LA dan acara pernikahan tidak jadi dibatalkan." Ujar Justin dengan tawa kecil diakhir ucapannya.


"Astaga, selain tampan kau sangat humoris." Puji Anna dengan tawa kecil yang menyeimbangi.