
Jessy menatap ponselnya dengan kesal. Ini sudah jam 7 pagi, dan Justin belum bisa dihubungi sama sekali dari semenjak kepergian nya kemarin. Siapa itu Devan? Apa pekerjaan lain Justin bersama temannya itu?.
"Astaga aku akan menikahi pria yang belum aku kenal." Jessy menghela nafasnya. Besok Alicia dan Richard akan menikah, dan Justin belum memberi kabar apakah ia akan datang atau tidak.
Baru saja Jessy bangkit dari ranjang, deringan ponsel membuat Jessy dengan cepat mengambil ponselnya.
"Hallo. Darimana saja kau?!"
"Hal..lo Jessy. Ini aku Alex, calon mertua mu." Apa? Jessy langsung menatap layar ponselnya, nomor tak dikenal. Seketika wajahnya memerah dan kembali meletakan ponsel ketelinganya.
"Ohh.. maafkan aku, aku kira teman ku." Ujar Jessy merasa bersalah. Ia memukul keningnya sendiri dan merasa bodoh.
"Tidak apa-apa. Apa Justin masih tidur dirumah mu? Aku susah menghubungi nya." Jessy mengerutkan keningnya.
"Justin?"
"Ya. Maaf jika anak nakal itu merepotkan mu. Aku hanya ingin menitip pesan untuk Justin, katakan padanya siang nanti datanglah ke kantor, kau juga ikut ya cantik. Akan ada orang dari WO yang ku pilih untuk mengurus pernikahan kalian."
"Umm.. tunggu sebentar. Masalahnya.. jika hanya aku atau Justin yang datang bagaimana?" Jessy bingung, ia tak tau Justin ada dimana.
"Kalian berdua harus datang cantik. Karena hari ini pemilihan konsep pernikahan dan undangan. Besok sepertinya baju, mereka mengatakan kalian akan sibuk seminggu ini karena waktu yang diberikan sangat sedikit. Aku harap kau bisa menyesuaikan jadwal dengan pasien-pasien mu." Jessy terdiam. Ia bingung harus menjawab apa.
"Hallo Jessy? Kau masih disana?"
"Ya. Aku.. aku hanya sedang bingung."
"Oh maaf teman ku sudah datang, aku rasa percakapan kita sampai disini dulu cantik. Bye." Panggilan pun terputus. Jessy menggenggam erat ponselnya.
"Kemana kau Justin! Menyusahkan ku saja!" Ia kesal. Sangat kesal. Bahkan nama Jessy Justin pinjam untuk tidak pulang kerumahnya, benar-benar pria menyebalkan.
°°°
Justin membuka matanya perlahan, kilauan cahaya yang masuk melalui jendela mengganggu Justin.
"Bangunlah dan minum." Suara itu yang pertama kali ia dengar. Justin kembali mengerjapkan matanya dan memfokuskan pandangannya.
"Bisakah kau tutup jendela itu? Aku masih mengantuk." Gumam Justin. Ia tak bisa memaksakan matanya untuk terbuka, ia menarik selimut hingga ujung kepala.
"Ayolah, kita masih harus memikirkan cara menangkap pembunuh itu." Justin kesal saat selimutnya di tarik paksa oleh Devan. Ia terpaksa harus duduk dan merasakan mual diperutnya.
Tanpa pikir panjang Justin langsung minum air putih yang ada di gelas.
"Bisa selamat juga aku sampai disini." Devan berdecak. Ia duduk disebelah Justin sambil menepuk bahu Justin dengan sedikit keras.
"Bukan kah kita tidak boleh minum? Jika Anthony tau semalam kau mabuk, ia akan marah besar." Justin tak mendengarkan ucapan Devan. Ia menyimpan gelas dan mulai sibuk mencari ponsel.
"Kemana ponsel ku?" Tanya Justin panik. Ia tak ingat sama sekali.
"Ponsel mu mati. Aku sedang meng-charger nya. Jangan sampai nanti malam kau menyentuh minuman itu lagi." Ulang Devan memperingati.
"Tapi Sara tahu batasan untuk minum. Jika Sara tidak menelfon ku, kau akan menjadi gelandangan didepan rumah ku."
Justin merentangkan tangannya, ia lupa untuk menggeliatkan badannya. Ritual yang menyenangkan dipagi hari.
"Kau harus ingat, kepada keluarga saja kita harus menyembunyikan identitas CIA kita. Jika kau mabuk dan memberi tahu orang-orang bagaimana?" Justin menatap Devan malas. Ia menghentikan aksi menggeliatnya.
"Aku kira aku akan dibawa kerumah Sara." Gumam Justin.
"Jangan macam-macam Justin! Kita harus fokus pada misi kita. Ingat batasan sesama tim, tidak boleh ada hubungan apapun." Tegas Devan.
Justin tertawa kecil. Ia merangkul Devan yang sepertinya tengah memiliki mood buruk. Pria ini sangat serius dan sepertinya benar-benar mencemaskan jika Anthony tau.
"Tenang lah. Misi tidak akan terpecahkan dalam satu dua hari, dan aku pun tidak seceroboh itu."
"Kau mau kemana?" Tanya Devan. Justin turun dari ranjang dan sibuk memakai jaketnya.
"Aku akan kerumah kucing galak. Dimana ponselku?" Tanya Justin.
"Kucing? Kau memelihara kucing?"
"Ya, aku baru menemukan nya." Jawab Justin santai. "Sudah cepatlah mana ponsel ku."
"Dipojok sana. Setidaknya cucilah wajah mu dulu." Justin menggelengkan kepalanya. Ia berjalan mengambil ponselnya.
"Aku akan langsung menumpang mandi disana. Sampai bertemu nanti malam." Justin melambaikan tangannya pada Devan dan membuka pintu kamar.
Tepat saat membuka pintu, Sara ternyata ada didepan pintu, dengan kantong plastik ditangannya.
"Hai." Sapa Justin.
"Kau mau kemana?" Tanya Sara.
"Aku akan pulang. Kau ada janji dengan Devan?" Tanya Justin dengan nada menggoda. Sara dengan wajah cuek nya hanya menggelengkan kepalanya dan menyodorkan kantong plastik tersebut.
"Aku membawakan obat untukmu. Mabuk mu kemarin sangat parah, aku takut kau mual-mual pagi ini."
"Oh terimakasih Sara, kau memang wanita yang baik. Tapi aku buru-buru, aku akan memakan obat dari mu nanti. Sampai jumpa nanti malam, cantik." Justin melewati tubuh Sara dan melanjutkan perjalanannya. Ia memegang saku jaket, memastikan kunci mobil ada didalamnya.
"Mau kemana dia?" Tanya Sara pada Devan yang mendekat.
"Kerumah kucing galak" jawab Devan.
"Kucing galak?" Devan mengangkat bahunya.
"Entahlah. Mungkin macan atau harimau." Jawaban itu membuat Sara memutarkan bola matanya.
"Kalian sama-sama aneh. Sudahlah, aku akan kembali ke markas." Sara mengibaskan tangannya. Sia-sia saja niat baiknya kemari.