SHOW ME

SHOW ME
Mengungkap kan isi hati



Jessy menceritakan semua yang ia tahu tentang Larissa. Sedangkan Justin, ia pendengar yang baik. Pria itu dengan manja bersandar di bahu Jessy, memainkan rambut panjangnya dan sesekali memainkan jari jemari Jessy.


"Dan sekarang, aku yang ingin bertanya." Jessy menengokan kepalanya pada Justin. Pria ini benar-benar seperti seorang anak kecil yang sedang memainkan rambut ibunya.


"Bagaimana bisa kau masuk kedalam kamar ku?" Ini benar-benar tak masuk akal. Dipagi buta seperti ini?.


Justin beranjak duduk dengan benar, menggaruk pelan rambutnya.


"Bagaimana aku menjelaskan nya ya." Ujarnya bingung.


"Aku sudah memberitahu ayah mu tentang pekerjaan ku. Bahkan ayah mu memberi ku usul agar kau bisa kembali pada ku. Tapi, usul itu sangat menggelikan, mengingat aku tidak bisa seromantis -itu-. Lagi pula aku sudah mengetahui sifat mu, kau tidak akan puas jika sifat keingin tahuan mu belum terpecahkan."


Jessy tertawa kecil, ia sedikit menggoda Justin.


"Aku ingin tahu rencana romantis yang ayah ku berikan."


"Yah... Semacam dinner romantis dengan lilin dan bunga, menyewa sekelompok pemain musik. Ah, aku tidak bisa membayangkan aku menyiapkan itu semua untuk mu. Lagi pula itu sangat memakan waktu, malam ini, dan aku tidak bisa menahan diri lagi untuk bertemu dengan mu."


Jessy cemberut. Ia malah jadi membayangkan diperlakukan romantis seperti itu. Namun ia sendiri setuju dengan ucapan Jessy. Ia terlalu keras kepala jika rasa penasarannya tidak terpecahkan.


"Aku mengatakan pada ayah mu jika aku akan berkata jujur saja. Aku meminta sedikit waktu dan tempat untuk menemui mu menjelang pagi. Ayah mu setuju dan berpesan agar menjelaskannya pelan-pelan, jangan sampai membuat mu menangis apalagi mendengar pertengkaran dipagi buta." Justin meraih jemari Jessy. Mengusapnya lembut.


"Kau wanita pertama yang meluluhkan hati ku."


"Gombal."


"Tidak. Ini serius. Aku terbiasa menggoda wanita, tapi hanya sebatas itu, saat mereka merespon aku langsung merasa bosan dan menggoda wanita lain. Kau juga wanita pertama yang berhasil membuat ku tak terkendali, wanita pertama yang aku cium, ditangga rumah sakit."


Jessy mencibir, mencoba menutupi rasa haru didalam hatinya.


Mendengar ucapan Jessy, Justin tertawa kencang.


"Aku selalu seperti ini. Memperdalam teori sebelum praktek." Jessy memukul lengan Justin. Ini benar-benar tidak lucu.


"Ah ya. Lalu bagaimana dengan pekerjaan mu? Kau sedang menjalankan misi dan harus ijin karena menyusul ku kemari?"


Justin menghembuskan nafasnya pelan. Seakan berat ingin mengatakan nya.


"Aku akhir-akhir tidak fokus dalam menjalankan misi ku. Aku akan mengembalikan lencana ini dan akan mengundurkan diri."


Rasa bersalah dan terkejut seketika menghantam Jessy. Ia merasa bersalah dan menjadi beban.


"Tidak. Maafkan aku terlalu mencurigai mu, tapi..."


"Bukan karena mu. Aku merasa sudah saatnya belajar menjadi anak yang berbakti. Aku akan bekerja di perusahaan ayah ku, belajar menjadi GM yang benar sebelum aku dipercaya menjadi CEO oleh ayah ku." Justin terdiam sesaat. Ia tertawa kecil dan menatap Jessy kembali.


"Ini akan terdengar konyol. Namun aku berkata jujur. Kau tahu kenapa aku begitu pelit menggunakan kartu ku?" Jessy menggelengkan kepalanya. Mungkin memang sifat Justin yang terlalu pelit dan tidak suka berbagi.


"Aku mengumpulkan uang sendiri untuk membeli rumah dan kendaraan. Namun, untuk saat ini, aku ingin mengikuti saran ayah ku. Menikahi mu, memberikan tanggung jawab yang penuh dan menjadi anak berbakti untuk ayah ku."


"Kau tidak merasa terpaksa?" Tanya Jessy meyakinkan. Justin menggelengkan kepalanya.


"Terkadang orang harus melepaskan kebahagiaannya untuk orang-orang yang mereka sayang."


____


Ada masalah yang belum terpecahkan sebelum mereka menikah?