SHOW ME

SHOW ME
Pulang



Justin bangkit, ia menahan Sara yang hendak menelfon. Pikirannya menjadi kacau dalam seketika. Mengapa wanita serumit ini?.


"Sudah biar aku saja yang menelfon Devan."


"Tidak perlu, pulang saja kau. Aku akan meminta partner lain." Wajah dan suara wanita itu benar-benar ketus. Membuat Justin menarik rambutnya sendiri.


"Setidaknya biar aku yang meminta Devan untuk kemari menjaga mu, ini hari terakhir ku dalam kasus ini. Maaf jika aku tidak berguna, sepertinya aku memang harus fokus dulu pada pernikahan ku." Sara terdiam sesaat, ia melirik Justin. Dari awal selalu bersama dengan Justin membuat Sara terhibur, pria ini selalu menjahilinya, dan mendengarnya akan menikah membuat hati Sara seakan panas dan kesal.


Lalu sekarang mendengar ucapan perpisahan itu, membuat Sara sedikit hampa, apa itu artinya Justin mengundurkan diri?. Apa ia terlalu berlebihan. Tatapa pria itu pun tak berbohong, matanya mencuri pandang kearah wanita tadi yang pergi.


"Pulang lah. Biar aku yang sampaikan pada Devan. Maaf menyulitkan mu, aku hanya tidak suka pekerjaan dicampur adukan dengan percintaan mu, apalagi aku terkena amukan kekasih mu."


Sara lagi-lagi mendengus, ucapannya bagaikan angin lalu saat melihat Justin tengah fokus mengawasi wanita-nya tengah berinteraksi dengan pria lain.


"Sekali lagi aku minta maaf jika selama ini tidak berguna dalam tim. Maaf juga aku tak bisa menunggu hingga Devan datang." Ujar Justin tiba-tiba. Sara mengerutkan keningnya saat Justin tiba-tiba berlari meninggalkannya.


_


Justin tak memperdulikan apapun, yang ia harapkan adalah Jessy pulang kembali bersama Larissa. Namun apa yang kini ia lihat? Bukan Larissa yang bersama Jessy, wanita itu kini malah berbincang dengan pria lain.


Jas yang ada dibahu Justin terlebih dahulu ia lemparkan pada meja Jessy. Justin menyipitkan matanya, Jessy seakan tengah menolak namun pria itu terus memaksa Jessy menerima sesuatu.


Dan tanpa pikir panjang, Justin melayangkan tinju pada rahang pria itu, terdengar jeritan Jessy seketika.


"Dia sudah menolak, kenapa kau memaksanya!" Justin kembali melayangkan tinjunya pada sudut bibir pria itu yang tengah hampir terduduk karena kelimpungan.


"Jangan berani-berani menyentuhnya!" Tepat saat ia akan menendang perut pria itu, tubuh Justin dihentikan oleh beberapa orang. Ternyata ia sudah menjadi tontonan.


"Selesaikan baik-baik tuan! Kau akan membunuhnya jika terus memukulnya seperti itu." Ujar security yang menahannya, Justin bersumpah ia melihat pria yang tengah terduduk itu tersenyum miring sambil membersihkan darah disudut bibirnya. Mata pria itu malah dengan beraninya menatap Jessy dengan tatapan laparnya. Pria itu seakan mengejek Justin bahwa ia menginginkan Jessy. Sialan!.


"Maaf, hanya saja pria ini kurang ajar pada kekasihku." Ujar Justin mulai tenang. Membuat security itu melepaskan tangan Justin.


Justin menghentakkan kakinya dihadapan pria itu. Memberikan peringatan kecil agar tidak bermain-main dengan nya.


"Ayo kita pulang." Justin tak berniat kasar. Hanya saja ia kesal dengan kenakalan Jessy yang tak menurutinya.


Justin mengambil jasnya, memberikannya pada Jessy agar tidak ada yang melihat lagi tubuh indah itu. Jessy terlalu berkilau disini.


"Jangan mengikuti ku lagi. Ini berbahaya." Ujar Justin, ia menarik Jessy keluar dari dalam klub. Mengabaikan suara kecil yang Jessy keluarkan.


"Pakai seat belt-nya." Justin menutup pintu mobilnya, ia memutari bagian kap mobil dan duduk di kursi pengemudi, menutup pintu mobil dengan kencang dan menyalakan mesin mobil.


"Justin." Lirih Jessy gemetar, ia terlalu syok dengan semua ini.


"Kita bicara saja dirumah." Jawab Justin ketus. Ia memundurkan mobilnya dan langsung meninggalkan area parkir.


Selama diperjalanan pun benar-benar hening, tak ada percakapan satu pun, Jessy terlalu syok sedangkan Justin terlalu marah.


___


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta