
Justin terdiam, pandangannya seakan tak fokus. Ia terlambat. Ia melihat Larissa sudah tergeletak tak bernyawa.
"Argh!" Geram Justin, ia memukul cermin yang ada diruangan. Sara mendekati nya, berusaha menenangkan Justin.
"Aku memang tidak berguna."
"Justin sudahlah, sudah satu jam lebih kau seperti ini." Ucapan Sara begitu lembut, ia mengelus bahu Justin pelan, memberikan ketenangan pada Justin.
"Bukankah kita sudah biasa melihat beberapa mayat bergeletakan? Mengapa kau setegang ini?"
Justin menggelengkan kepalanya. Ia melirik Sara dan fokus pada mata wanita itu.
"Aku kenal dengan Larissa." Terlihat jelas keterkejutan yang ada di wajah Sara.
"Dia sahabat Jessy. Malam itu Larissa ada di klub. Aku terlalu fokus pada keselamatan Jessy tanpa berfikir Larissa akan menjadi korban selanjutnya." Racau Justin.
Sara memejamkan matanya, ia sekarang tau seterpukul apa Justin.
"Ini bukan salah mu. Kita semua terlalu terlambat menyadari lokasi itu. Kau datang paling awal dan setidaknya kau menembak kaki pelaku. Ini memudahkan kita untuk mencari pelaku itu dengan kaki panjangnya." Apakah mendengar itu Justin menjadi tenang? Tidak. Ia mengurut keningnya kencang.
"Bagaimana caranya aku memberitahu Jessy. Dia pasti terpukul." Ujar Justin sendu.
"Mau bagaimana lagi? Ini semua terjadi begitu saja, bukan kita yang mengendalikan."
Suara pintu terbuka, membuat kedua orang itu mengalihkan pandangannya.
"Kau sudah tenang?" Tanya Devan dengan langkah yang terburu-buru mendekati Justin. Ia panik melihat Justin yang terlihat mematung dan roboh begitu saja di TKP.
"Ini ada obat vitamin untuk mu. Minumlah, kau tampak tidak sehat dan... Berantakan."
Devan duduk disebelah Justin. Memperhatikan wajah yang biasanya tengil menjadi seakan depresi.
"Kau melihat korban ditusuk?" Tanya Devan pelan. Ia bingung mengapa Justin harus ke depresi itu.
"Dia sudah tergeletak begitu saja." Jawab Justin yang terdengar seakan bergumam.
"Minumlah dulu. Banyak polisi yang menanyakan bagaimana kejadiannya." Devan sendiri merasa tak enak mendesak Justin. Namun ia sendiri kewalahan ditanyai beberapa polisi dan wartawan.
Justin mulai meminum air putih dihadapannya.
"Saat aku sampai di depan rumah itu. Seorang pria berlari membuka mobilnya, aku tak bisa berfikir tenang, aku langsung menembaknya tapi dia langsung masuk kedalam mobil dan pergi. Saat aku panik dan masuk kedalam rumah, semuanya... Berantakan... Darah sudah mengalir banyak dari tubuh, Larissa."
"Kau mengenal nya?" Tanya Devan pelan. Sara menganggukan kepalanya.
"Dia adalah sahabat Jessy." Jawab Sara pelan.
"Aku.. aku bahkan tak berfikir dahulu saat menembak kaki itu. Aku takut itu hanya orang lewat yang sedang buru-buru pergi. Kalau aku tahu, aku mungkin sudah menembak jantungnya." Racau Justin.
"Sudahlah, kau mengambil tindakan yang tepat. Lebih baik kau pulang dan memberitahu Jessy, kau harus menenangkannya." Ujar Devan.
"Atau kau menelfonnya terlebih dahulu, suruh Jessy jangan melihat berita dulu, kau harus ada disampingnya."
Justin tertawa kecil seperti orang gila. Itu konyol. Bagaimana bisa seseorang menahan orang lain untuk tidak bisa melihat berita?. Namun Justin dengan lemas merogoh sakunya, mencari benda kecil bermanfaat itu.
"Sepertinya aku menjatuhkan ponsel ku didalam mobil." Gumam Justin. Ia yakin ponselnya tak ada.
"Ya sudah, sekalian saja kau pulang. Atau kau masih ingin beristirahat saja dulu?" Entahlah, Justin sendiri terlalu pening dan buntu.
"Beritahu aku hasil otopsinya. Aku akan pulang."
____
Mohon maaf ya kemarin author ga Up, semoga hari ini bisa up menggantikan yang kemarin 🙏 Author lagi pusing gak dapet data skripsi dan terpaksa puter otak untuk ganti judul😣