SHOW ME

SHOW ME
Pilihan sulit



Justin tertawa. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Jessy.


"Aku bukan ingin romantis. Aku hanya ingin memamerkan mobil-mobil ini pada semua orang." Bisik Justin. Jessy berbalik dan menatap Justin gemas.


"Kau benar-benar sombong!" Desis Jessy. Justin merangkul bahu Jessy dan kembali membalikan tubuh Jessy menatap kedua mobil itu.


"Ya sudah, pilih mobil yang mana untuk berjalan-jalan."


"Memang kita akan kemana?" Tanya Jessy bingung.


"Ke mall. Aku baru saja mengambil kartu kredit yang pernah ayah ku berikan. Aku akan membelanjai mu sampai kau puas." Astaga! Tidak bisakah calon suaminya ini tidak mengatakan itu kartu kredit milik siapa!


"Tidak. Aku hanya ingin dirumah dan membuat makanan." Jessy berbalik. Hendak berjalan kedapur. Namun Justin segera menahan, ia berpikir keras tentang hal-hal romantis.


"Bagaimana jika ke pusat kota? Banyak makanan berjajar disana."


"Itu hanya dimalam hari Justin!"


"Benarkah? Tidak, sore aku melewati nya sudah ada."


Jessy mendengus.


"Tapi ini masih sangat pagi."


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku ingin membuat romantis untuk pacar ku." Jessy menaikan sebelah alisnya.


"Pacar?"


"Ya. Kau." Jessy menahan senyumnya. Ia menyipit kan matanya dan menatap Justin dengan aneh.


"Kita baru saja saling menyatakan cinta."


"Kau yang menyatakan cinta, aku tidak." Jawab Jessy.


"Tidak. Kau juga membalas ciuman ku, itu artinya kau membalas cinta ku. Bukan kah sangat manis kita berpacaran seminggu sebelum kita menikah." Ya. Itu sangat manis! Membuat Jessy kembali memerah mengingat kejadian itu, serta berhasil membuat bunga-bunga seperti bermekaran diperutnya.


"Ya sudah buatkan aku sarapan yang enak. Aku akan menerima mu sebagai pacar ku." Ketus Jessy sambil berjalan kearah dapur. Namun dalam hatinya ia ingin menjerit kegirangan.


Seakan mendapatkan peluang, Justin bersiul dan berlari cepat menyusul Jessy.


---


Jam sudah menunjukkan pukul 11, makanan dan dapur Jessy pun sudah bersih. Jessy baru selesai mandi dikamar nya, sedangkan Justin seperti biasa juga, diusir dan dikunci agar mandi dibawah.


Tok..


Tok..


"Jess. Kau lama sekali." Gumam Justin. Ia menempelkan telinganya pada pintu.


"Jangan coba-coba membobol pintu kamar ku juga." Justin terkikik, baru saja pikiran itu yang terlintas di otak cerdasnya.


"Aku tunggu dibawah 5 menit lagi. Jika tidak turun kau bisa memastikan calon suami mu yang tampan ini sudah di ambil oleh kucing betina yang lapar." Ujar Justin. Ia menuruni anak tangga, mengeluarkan ponselnya yang terasa bergetar.


Dengan cepat Justin mengangkat nya dan menuruni anak tangga dengan cepat, berjalan cepat menuju sofa untuk segera duduk sebelum menempelkan ponselnya pada telinga.


"Hallo cantik." Sapa Justin ceria. Ia duduk santai diatas sofa dengan kedua kaki diatas meja.


"Justin! Aku sudah berbicara dari tadi!" Apa ini? Baru saja ia menyapa nya.


"Hei, ada apa? Apakah Minggu ini perempuan memang suka sekali marah?" Tanya Justin bingung.


Terdengar helaan nafas disana, disusul dengan suara mobil yang baru dinyalakan. Terdengar juga suara Devan samar-samar.


"Sara, ada apa?" Tanya Justin mulai serius.


"Devan baru saja menerima kabar. Seorang wanita bernama Diane ditemukan dengan beberapa luka aneh ditubuhnya."


"Apa?!" Tanya Justin terkejut.


"Simbol bintang juga ada ditangannya. Itu artinya ini masih pembunuh yang sama. Aku dan Devan akan kelokasi. Kau bisa menyusul?" Justin kini menggeram. Ia tak bisa pergi begitu saja. Pintu kamar Jessy terdengar terbuka, wajah Justin terlihat sangat bingung. Haruskan ia berjalan-jalan dengan Jessy yang sudah ia bujuk untuk berbelanja, atau ia harus pergi sekarang juga untuk memecahkan kasus ini?.


•••


Guys jangan lupa hadiah💋