
Sesampainya dirumah Jessy, ponsel Justin terus bergetar, membuat Jessy tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Devan." Gumam Jessy. Nama itu muncul dilayar ponsel Justin. Kenapa Devan selalu menelfonnya? Sebenernya apa yang mereka lakukan diluar sana?.
"Ada yang menelfon mu terus menerus! Boleh aku angkat? Siapa tahu ini penting!" Teriak Jessy dengan keras.
Jessy mengambil ponsel tersebut, ia ragu harus mengangkat nya atau tidak, Justin sedang di kamar mandi. Dengan sedikit ragu, Jessy menyentuh icon hijau dan mengangkatnya.
"Hallo Justin, ternyata dia menggunakan Eau de Parfum." Jessy mengerutkan keningnya.
"Siapa yang kau telfon?" Tanya Justin dari belakang, membuat tubuh Jessy sedikit memperlihatkan keterkejutan.
"Entahlah, dia menelfon terus, aku kira ada hal nya penting." Jessy mengulurkan ponsel tersebut pada Justin, wajah itu pun terlihat salah tingkah saat mengetahui siapa yang menelfon.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" Jessy menggelengkan kepalanya. Ia sendiri bingung dengan apa yang di ucapkan Devan.
"Hallo. Ini aku Justin." Justin mulai menjauh, seperti tengah mencari tempat sepi.
"Bodoh! Harusnya kau..." Suara Justin menghilang, diikutin tubuhnya yang menghilang pula dibalik pintu.
Jessy mengerjapkan matanya beberapa kali. Mereka membicarakan parfum? Apakah ada kaitannya dengan wanita? Awas saja jika Justin berani main-main dibelakangnya.
Suara pintu terbuka menyadarkan Jessy. Ia melihat Justin berjalan mendekati nya.
"Aku harus pergi." Ujarnya saat sudah berdiri dihadapan Jessy. Raut wajah Justin sedikit cemberut dan tidak sepanik tadi.
"Kemana? Bukankah kita akan memasak?" Tanya Jessy bingung.
"Aku harus menolong teman ku."
"Menolong teman mu memilih par..." ucapan Jessy terhenti saat tiba-tiba Justin mengecup bibirnya dengan kilat.
"Kau!"
"Aku tidak akan lama. Bye." Justin merapikan jaketnya dan berjalan kearah pintu dengan cepat.
"Aku tidak akan mematikan nya." Justin melanjutkan jalannya dan membuka pintu rumah.
"Jaga dirimu baik-baik. Pembunuh sedang berkeliaran di kota ini. Jangan keluar rumah." Pesan Justin sebelum pergi.
Jessy menggeram. Pesan apa itu? Menakut-nakuti ada pembunuh berkeliaran, tapi dirinya sendiri malah berkeliaran.
"Awas saja jika sampai pagi dia belum kembali." Jessy tahu. Justin pasti tidak akan tidur dirumahnya, pria itu sering sekali menghilang dimalam hari.
•••
Sara menautkan kedua jarinya diatas meja, tubuhnya duduk dengan tegap, telinganya terus mendengar ucapan polisi dihadapannya. Beberapa saksi dan bukti terbaru sudah ditemukan. Ternyata ini masih ada hubungannya dengan kasus pembunuhan 2 Minggu yang lalu.
"Maaf aku baru datang." Sara menoleh pada Justin yang baru duduk disebelahnya, nafas pria itu terengah-engah seakan habis berlari.
"Kalau begitu aku langsung pergi. Masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan." Ujar polisi itu bangkit dari duduknya. Justin menaikan sebelah alisnya.
"Kau tidak akan memberitahu ku Noah?" Tanya Justin. Ia baru sampai dan polisi itu malah pergi. Terdengar tawa renyah dari polisi tersebut.
"Kau selalu telat. Tanyakan lah pada si Cantik Sara." Ucap Noah, ia mengambil topi polisinya dan menggenggam sambil berjalan keluar ruangan.
Sara hanya memutar bola matanya. Di sini memang hanya ada satu wanita, dan itu membuatnya selalu digoda dengan berbagai panggilan.
"Bagaimana mabuk mu? Sudah minum obat dari ku?" Tanya Sara. Justin melebarkan senyumnya dan mengangguk, disusul oleh Devan yang menyodorkan beberapa foto.
"Apa ini?" Tanya Justin, ia memperhatikan foto-foto itu dengan teliti. Sebuah tatto? Atau gambar?.
___
Thank you
DHEA
Instagram: Dheanvta