
Justin menghentikan mobilnya didepan sebuah gedung besar.
"Kau ikut." Ujar Jessy sambil melepas seat belt nya.
"Tidak. Aku disini saja." Jawab Justin malas. Ia lebih baik bermain ponsel dan memikirkan cara menjebak pembunuh dari pada harus mengekori wanita belanja.
"Ikut! Kau juga harus memilih baju untuk besok."
"Baju ku banyak, kita memilihnya di rumah ku saja." Tegas Justin tak ingin ikut keluar mobil.
Jessy menyipitkan matanya, membuat Justin mengerutkan keningnya bingung.
"Apa?!" Pekik Justin.
"Kau ingin meninggalkan ku disini kan? Kau ingin kabur?" Selidik Jessy.
"Astaga, mengapa aku dipikiran mu tak pernah benar?" Tanya Justin. Lebih tepatnya 'mengapa kau tau apa yang aku pikirkan?'. Terdengar suara decakan Jessy.
"Ayo lah temani aku. Hanya sebentar. Aku akan membelikan mu baju." Justin diam sebentar. Matanya langsung tersirat jahil dengan sedikit senyuman.
"Kau akan membayarnya dengan uang mu sendiri kan?" Tanya Justin. Jessy memutarkan bola matanya. Benar-benar pria pelit dan tidak bermodal.
"Ya! Sudah ikut saja, seletah itu kita makan." Jessy keluar dari mobil, disusul oleh Justin dan mereka berjalan beriringan menuju kedalam gedung.
"Kapan undangan kita selesai dibuat? Aku ingin memberikannya pada Richard besok." Ujar Justin. Jessy berjalan pelan memperhatikan deratan baju yang melekat indah pada patung manekin.
"Suruh saja mereka menyelesaikannya sampai pagi. Bukankah itu caramu memaksa kehendak mu?" Sindir Jessy.
"Selain cantik ternyata kau pintar. Aku baru tau itu." Girang Justin, ia mengeluarkan ponselnya tanpa memperdulikan tatapan Jessy yang sinis.
"Hallo. Ini aku Justin. Bisakah aku meminta satu undangan besok pagi? Emm... Mungkin jika semuanya selesai itu lebih bagus, ayah ku akan memberi kalian bonus."
Jessy menarik nafasnya pelan. Ia kembali berjalan memilih baju, meninggalkan Justin yang tengah sibuk menelfon.
"Wah... ini bagus." Gumam Jessy pada sebuah dress indah.
"Miss. Kau tertarik mencobanya?" Tanya seorang pelayan toko.
"Ya. Tapi aku ingin tau ada berapa stock dress ini ditoko?"
Pelayan itu tersenyum lembut.
"Semua baju yang kami pajang di lima manekin ini adalah desain terbaru dan hanya ada satu stock Miss." Jessy tersenyum puas mendengar itu. Ia tidak ingin membeli baju mahal tapi pasaran, apalagi jika sampai bertemu seseorang memakai gaun yang sama di pesta. Itu sangat memalukan. Itu juga pengalaman terburuk Jessy saat kuliah dulu.
"Baik Miss. Akan aku sampaikan. Apa itu kekasih mu?" Jessy menggeleng kepalanya.
"Entahlah. Tapi aku akan menikah dengannya Minggu depan."
•••
Justin mematikan panggilan tersebut dan memasukkan kembali ponsel kedalam saku. Pandangannya mulai sibuk mencari Jessy yang entah kemana.
"Maaf Sir. Kau mencari calon istri mu?" Justin menaikan alisnya, namun saat mendengar ucapan pelayan tersebut seketika ia menggulum senyumnya, ia tak tahan ingin tertawa saat itu juga. Jessy menyombongkan dirinya sendiri sebagai calon istri Justin?.
Justin menarik nafasnya, ia tidak ingin dianggap gila sendirian.
"Ya. Dimana dia?" Tanya Justin.
"Sedang mencoba dress. Kau ingin melihatnya?"
"Apa? Aku boleh melihatnya mengganti baju?" Tanya Justin terkejut.
"Dia yang mengatakan itu?"
Terlihat wajah pelayan tersebut langsung menggelengkan kepalanya dengan panik.
"Tidak Sir. Maksud ku bukan seperti itu, akan ada ruang pemisah untuk melihat pasangan anda sudah mengenakan pakaian baru." Jawabnya cepat.
"Ah, aku kira dia meminta ku masuk ke kamar ganti." Wajah pelayan itu seketika memerah, ucapan Justin sungguh frontal dan membuat malu.
"Tidak, aku bercanda. Dimana ruangan untuk aku bisa menunggunya mengganti baju?" Tanya Justin dengan nada bercanda diawal kalimat.
"Disana Sir. Tapi aku dititipkan pesan agar anda memilih dulu pakaian yang akan dibeli."
"Aku tidak terlalu suka pakaian rapi... Pilihkan saja yang serasi dengan baju wanita itu. Aku akan menunggunya disana."
__
Thank you
DHEA
Instagram: Dheanvta