
Jessy menyimpan gelas berisi jus jeruk diatas meja kecil, menyilangkan kaki nya di sofa dan membuka laptop yang ia taruh diatas paha nya.
"Alicia." Gumam Jessy sambil mengetik nama Alicia. Panggilan pun mulai terhubung. Sambil mengunggu Jessy meminum sedikit demi sedikit jus nya.
"Haii." Pekikan kencang itu menyadarkan Jessy, ia langsung menyimpan kembali jus dan melambaikan tangannya pada layar laptop.
"Hai Alicia. Apa kabar mu?" Wanita itu tersenyum, dari raut wajahnya Jessy tahu, wanita itu tengah bahagia.
"Kabar ku baik. Apa kabar mu? Kau sudah kembali?" Tanya Alicia. Jessy mengangguk semangat dan mengangkat laptop nya memperlihatkan ruangan yang ada di rumahnya.
"Aku juga baik. Aku sudah kembali dari kemarin."
"Uh ya.. aku sedikit penasaran dengan mu dan Justin. Kalian saling kenal?" Jessy terdiam sesaat, ia bingung harus mengatakan apa. Jika ia memberitahu yang sebenarnya apa Justin tidak akan marah?.
"Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Dia pasien ku juga..."
"Apa? Pria seperti Justin memiliki trauma?" Tanya Alicia sedikit terkejut. Jessy tertawa pelan mendengar itu, memang, Justin tidak memiliki beban hidup sepertinya, jadi jika pria itu memiliki trauma seperti tidak mungkin.
"Ia memiliki masalah pribadi. Tapi dia sedikit menyebalkan saat menjadi pasien ku, jadi aku mengejarnya saat bertemu dirumah sakit. Maaf membuat mu bingung."
"Ohh seperti itu. Aku kita kau mantannya." Ejek Alicia.
"Tidak. Mana mungkin aku memiliki kekasih yang playboy seperti itu." Jessy meringis dalam hati, tapi pria itu sebentar lagi akan menjadi kekasihnya.
"Ya, aku setuju dengan itu. Bahkan saat di kantor pun ia menggoda seorang resepsionis. Jangan sampai kau termakan gombalannya ya." Alicia berbicara dengan nada bercanda. Namun Jessy berbeda, ia tidak membalas tawa atau ejekan Alicia. Kini wajahnya tampak kesal dan ingin memarahi Justin. Pria itu benar-benar selalu bermain wanita dimana pun.
"Ah Alicia, aku lupa, aku harus mengantar barang teman ku." Ujar Jessy berbohong. Rasanya ini ingin memarahi Justin sekarang juga.
"Jika sudah selesai hubungi aku ya. Aku sedang sendirian dikamar ini. Kedua mama ku sedang mengobrol diluar."
"Uhh kedua mama." Goda Jessy.
"Besok kau harus datang. Aku tidak ingin ada kata sibuk."
"Pasti. Aku pasti datang, aku sudah menyiapkan kado dan baju untuk menghadiri acara mu. Dan... Tunggu aku memberikan kado special itu." Jessy tersenyum kecil. Kado special itu adalah surat undangannya dan Justin. Mungkin bagi Alicia ia sudah berbohong mengatakan Justin adalah pasiennya.
"Baiklah. Sampai bertemu nanti Jessy. Hubungi aku lagi jika kau sudah ada waktu luang. Aku gugup sekali untuk besok." Jessy mengangguk senang.
"Aku akan menghubungi mu lagi. Semangat, kau akan menjadi ratu dalam sehari besok."
Keduanya saling melambaikan tangan. Dan panggilan itu terputus. Kini Jessy mengambil ponselnya. Ia mencari kontak Justin dan mencoba menghubungi pria itu beberapa kali, namun nihil, Justin kembali susah dihubungi.
"Kemana lagi dia! Sedang berkencan dengan wanita lain?" Gumam Jessy gemas. Ia curiga Justin akan membelikan parfum pada seorang wanita, atau Devan itu adalah temannya yang mendukung Justin menggombali semua wanita?.
"Awas jika malam ini kau tidak pulang." Jessy menyimpan ponselnya disamping telinga. Panggilan terus menghubungi, Justin tak mengangkat nya sama sekali.
___
Thank you
DHEA
Instagram: Dheanvta