
Jessy mengernyitkan dahi saat nama Devan ada dilayar ponsel Justin.
"Ini, teman mu menelfon."
"Siapa?" Tanya Justin acuh, ia masih asik mengetik diponsel milik Jessy. Entah apa yang akan Justin ketik untuk mengubah nama kontaknya.
"Devan."
Justin langsung menghentikan kegiatannya. Untuk apa Devan menelfon? Justin dengan cepat mengeluarkan aplikasi penyadap tersebut dan menyembunyikan pada tumpukan aplikasi lainnya. Ia juga tak lupa menghapus jejak histori.
"Ini ponsel mu." Justin memberikan ponsel Jessy dan mengambil ponsel miliknya.
Jessy membuka daftar kontak telepon. Ia sedikit bingung, nama Justin tak berubah. Namun seulas senyum jahil ia tampilkan. Justin ternyata menyimpan nomornya dengan nama 'Dokter jiwa' apa kata lain dari dokter gila? Entahlah, yang jelas kini Jessy akan mengganti nama Justin dengan hal yang sama 'Pasien jiwa'.
"Bagaimana hasilnya?" Jessy sedikit mengalihkan pandangannya pada Justin yang sedang menerima telefon.
"Empat tusukan didada dan bekas cekikan?"
Deg. Jantung Jessy sedikit tak tenang. Apa yang sedang Justin bicarakan? Tusukan apa? Cekikan apa?. Jessy tak mampu menutupi wajah terkejutnya.
°
"Hallo."
"Hallo Justin. Aku baru mendapatkan kabar jika hasil otopsi korban sudah keluar."
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Justin penasaran.
"Aku baru diberitahu ada empat tusukan didada dan bekas cekikan. Dugaan ku sementara korban hendak melawan dan pelaku mencekiknya terlebih dahulu."
"Empat tusukan didada dan bekas cekikan?" Ulang Justin.
"Ya. Dokter juga menemukan zat didalam tubuh korban. Jadi pelaku sudah memberikan obat terlebih dahulu kepada korban sebelum membunuhnya."
"Zat apa? Racun?" Tanya Justin.
"Entah. Hanya saja memiliki dosis yang tinggi. Aku dan Sara akan menuju ke Tim Dokter sekarang. Nanti malam aku akan menjelaskannya pada mu."
Panggilan itu terputus. Justin kini bingung harus menjelaskan apa.
"Kau akan pergi kerumah sakit?" Tanya Jessy tiba-tiba ditengah kebingungan Justin. Suara Jessy terdengar pelan dan takut-takut.
"Ya?" Tanya Justin gelagapan.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan diluaran sana?" Tanya Jessy curiga.
"Apa? Aku? Ini teman ku."
"Ya aku tau. Itu teman mu yang baru saja kau temui dicafe. Mengapa obrolan kalian mengenai hal seperti itu Justin?!"
"Aku akan menjelaskannya nanti. Aku.. aku harus pergi sekarang." Justin berdiri. Ia harus tenang dan memikirkan jawaban yang masuk akal pada Jessy nantinya.
"Pergilah dan jangan kembali lagi jika kau tidak menjawab pertanyaan ku."
"Kau mencurigai ku?" Tanya Justin.
"Ya. Bagaimana aku tidak curiga saat dua orang berbincang tentang hal mengerikan seperti itu."
"Teman Devan dibunuh seseorang. Aku.. harus kerumah sakit sekarang." Ucap Justin berbohong. Ia bingung harus berkata apa lagi. Ia tidak bisa mengatakan pekerjaannya.
"Kau berkata jujur?" Tanya Jessy.
"Ya. Ini keadaan genting. Sebaiknya kau selesaikan dulu acara perawatan muka mu. Setelah cantik kau boleh menghubungi ku lagi." Mata Jessy membulat. Disaat ia serius bertanya dan Justin malah berbicara seperti itu? Benar-benar pria mengesalkan.
"Jangan melakukan hal yang aneh diluar sana, Justin!"
"Aku tidak melakukan hal aneh. Percaya lah."
°°°
Guys aku mendadak dapet inspirasi setelah main game Criminal Case kemarin😂 rame bangettt, kalian udah pernah main kan? Di google play store banyak banget bab kriminal nya.
Ini part bonus. Jadi dikit juga gpp ya🤭