
"Tidak bisa kah kau tidak membuat masalah sekali?" Tanya Jessy, ia dengan fokus menekan beberapa kapas pada sudut bibir Justin yang berdarah. Pria itu meringis beberapa kali saat kapas mengenai dilukanya.
"Apa semua keluarga mu suka kekerasan?" Jessy menghentikan gerakannya, ia menatap tajam Justin.
"Apa maksudmu?" Desis Jessy.
"Kau selalu mencubit, dan kakak mu baru saja bertemu ku sudah memukulku. Aku menjadi takut nantinya oleh orangtua mu." Gerutu Justin kesal. Jessy menarik nafas dalam-dalam lalu memberikan kompresan es pada sudut bibir Justin.
"Itu artinya kau jangan main-main dengan ku." Jawab Jessy pelan. Sebenarnya ia sedikit kasihan melihat Justin, ini karena kepanikannya yang berlebihan tentang kejadian itu, membuat Justin jadi terbawa-bawa akan masalahnya.
Beberapa detik hening, membuat Jessy sedikit risih karena tak ada percakapan, dan kini sudut bibir Justin hanya berwarna merah dengan sedikit luka, sudah tidak mengeluarkan darah lagi.
"Kau ternyata cantik jika dilihat sedekat ini."
"Apa?!" Pekik Jessy. Ia tak menyangka Justin akan berkata itu. Pipinya memerah dan dengan cepat Jessy membereskan wadah yang ia bawa untuk menyembuhkan Justin.
"Kau malu?" Tanya Justin yang menyadari wajah Jessy memerah. Seketika gelak tawa Justin terdengar, ia hanya mencoba bersikap manis, namun siapa sangka wanita itu malah malu. Ternyata ia benar-benar handal dalam meluluhkan hati wanita.
"Aww.. ish." Justin menekan luka disudut bibirnya, ia terlalu lebar dalam tertawa.
"Jangan ditekan dengan tangan, kuman akan masuk kedalam luka mu. Gunakan ini." Jessy memberikan selembar tissue kepada Justin, dan mengompres kembali luka Justin dengan es agar rasa perihnya sedikit hilang.
"Sudah. Aku akan pergi, istirahat lah." Justin menahan tangan Jessy yang hendak pergi.
"Kau meninggalkanku sendirian disini?"
"Aku sudah katakan tadi, istirahat lah, Justin!" Tegas Jessy.
Justin masih belum melepaskan tangan Jessy, ia berfikir keras agar menahan wanita itu disini, ia akan bosan jika hanya sendirian.
"Duduklah." Justin menepuk sofa membuat Jessy mengerutkan keningnya.
"Apa?"
"Duduk dulu. Ada yang ingin aku katakan." Dengan perasaan tak enak Jessy akhirnya duduk disamping Justin, sedikit menjaga jarak, Justin mendekatkan tubuhnya dan Jessy menggeser kan tubuhnya kembali.
"Kenapa kau terus menjauh?" Tanya Justin kesal.
"Kau menyeramkan. Bicara begini saja, untuk apa terlalu dekat?!"
Justin menghembuskan nafasnya keras.
"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa mengenal Alicia dan Richard bukan?" Mendengar itu Jessy langsung tertarik. Itu pertanyaan yang belum ia tanyakan.
"Penasaran bukan? Ayo mendekat." Goda Justin.
"Tidak bisakah kau langsung mengatakannya saja?"
"Aku ingin berbisik. Ini adalah rahasia."
"Tidak akan ada yang mendengarnya Justin!" Ujar Jessy gemas.
"Ya sudah." Justin berdiri dari kursi.
"Kau mau kemana?"
"Tidur. Kau keluarlah." Jessy menggeram kesal. Pria ini benar-benar mempermainkannya.
"Cepat katakan kenapa kau bisa mengenal Alicia dan Richard? Lalu kenapa kau mencuri data Alicia. Justin!" Pria itu berbaring diatas ranjang dengan santai, mulai memejamkan matanya.
"Justin!"
Justin membuka matanya. Ia duduk dan bersandar dikepala ranjang.
"Turunkan ego mu Jessy. Kemarilah dan aku akan cerita."
"Tidak bisakah kau langsung bicara saja?" Justin menggelengkan kepalanya.
"Aku hitung sampai 3. Jika tidak kemari aku tidur. Satu."
"Baiklah aku kesana!" Pekik Jessy kesal. Ia menyimpan wadah mangkuk berisi es diatas meja kecil dan berjalan mendekati Justin.
"Duduklah. Kita akan berbicara santai." Justin menepuk ranjang. Jessy dengan malas naik keatas ranjang dan duduk disebelah Justin. Terlihat pria itu mengeluarkan ponselnya dan stylus pen dari sakunya.
"Apa itu?" Tanya Jessy. Justin membuka aplikasi draw yang menampilkan warna putih polos. Ia menggambar 3 titik berbentuk segitiga.
"Tempelkan saja sekalian wajah mu Jess. Bagaimana aku bisa menjelaskannya jika kau terlalu dekat seperti itu."
Jessy berdecak dan sedikit menjauhkan wajahnya, Justin benar-benar pria tidak sabaran dan menyebalkan.
"Hei!" Pekik Jessy saat kepalanya ditarik menempel dengan kepala Justin.
"Sudah, begini saja. Pas. Senorita." Justin menyebut Senorita secara halus. Lalu ia menggambar garis dan membuat titik baru. "Dan ini kau."
"Kenapa ada aku?" Tanya Jessy bingung.
"Kau kan terlibat." Jawab Justin sedikit sabar.
"Aku dan Richard bertemu saat rapat untuk proyek baru diNew York. Pria kelebihan uang ini meminta ku untuk mencaritahu trauma apa yang dialami Alicia, menemukan orang yang membuatnya trauma dan kau adalah kunci dari semuanya. Alicia hanya bercerita pada mu."
"Jadi kau mendekati dan menjadi pasien ku?" Tanya Jessy.
"Yup. Kau cerdas. Tapi kau susah sekali ditebak, aku.."
"Sebentar. Jadi cerita tentang ibu mu itu palsu?" Tanya Jessy.
"Tidak. Itu benar, ibu ku pergi saat menemui ayah berselingkuh. Tapi aku tidak tertekan seperti yang kau bayangkan, kedua orangtuaku memang jarang dirumah, mereka punya kesibukan masing-masing, dan saat mereka berpisah aku hanya sedikit sedih saja, tidak sampai trauma." Jessy mengangguk pelan.
"Kembali pada Alicia dan Richard. Aku sudah mencari berbagai cara agar mendapatkan kisah Alicia, sudah membobol komputer mu tapi kau malah mencatatnya. Itu benar-benar membuat ku kesal dan merasa bodoh. Jadi aku menggunakan cara licik dengan membuat mu tertidur waktu itu."
"Lalu?"
"Lalu aku memberikan mu pelajaran dengan melepaskan pakaian mu. Aku tidak menyentuh mu sama sekali waktu itu. Saat kau banyak menelfon ku, aku sedang berdiskusi memikirkan penangkapan John di New York."
"Tapi malah Alicia yang ditangkap John?" Tanya Jessy. Ia hanya tau sekilas cerita tentang di New York.
"Ya. Tapi kita menyusun cara menjebaknya. Dan sebuah akhir yang indah, John mati karena tembakan dikepalanya." Ujar Justin bangga. Ia bangga karena otaknya begitu cerdas saat itu.
"Itu menyeramkan." Komentar Jessy.
"Tapi.. kenapa Richard menyuruh mu? Apa ia tidak punya orang handal untuk tugas ini?" Justin kembali menghela nafasnya. Ia handal, dan Richard memilih Justin yang handal.
"Aku ini handal, sudah beberapa kali ikut misi dalam dunia gelap mafia seperti ini."
"Apa?! Jadi kau pernah masuk mafia?"
"Astaga Jessy. Ternyata benar kata orang, polos dan bodoh berbeda tipis." Bibir Jessy berubah cemberut, apa ia baru saja dikatakan bodoh?.
"Sudahlah. Aku pergi, kau istirahat." Justin menahan Jessy yang hendak beranjak.
"Aku bisikan." Jessy tersenyum kecil, akhirnya ia tidak perlu berfikir tentang pembicaraan berat ini.
Jessy mendekat telinganya pada Justin.
"Apa kau tidak menyadari?" Apa? Menyadari apa? Tanya Jessy dalam hatinya. Apa benar Justin pernah bergabung dengan kriminal seperti itu?.
"Apa?" Tanya Jessy pelan.
"Kita sedang berdua didalam kamar." Jessy mengerutkan keningnya, ia menengokan kepalanya pada Justin dengan wajah bingung.
"Maksudmu?" Justin tersenyum kecil. Kini wajah mereka berdakatan.
"Tidak akan ada yang mengganggu lagi seperti ditangga kemarin." Justin menyelipkan tangannya pada leher Jessy, menarik halus tekuk Jessy dan bibir mereka bertemu dengan lembut.
Jessy terdiam, ini terlalu tiba-tiba, jantungnya kembali berdebar kencang. Ia melihat mata Justin tertutup dan bibir Justin mulai bergerak, mengecap dan menggigit halus bibir bawahnya.
-
Stylus pen
Thank you
DHEA
Ig; Dheanvta