SHOW ME

SHOW ME
Konyol



Justin menaikan kopernya melewati beberapa anak tangga, setelah sampai diatas Justin berjalan menuju pintu kamar Jessy.


Tok..tok..tok..


Tak lama, Jessy membuka pintu kamarnya, matanya langsung fokus pada koper yang dibawa Justin.


"Apa maksudmu dengan koper itu?" Tanya Jessy sinis.


"Aku akan menumpang sehari ini saja, jika tidak sibuk mungkin akan tidur beberapa hari disini. Kamar ku dimana?" Tanya Justin santai. Jessy yang mendengar itu langsung melipat kedua tangannya didada.


"Aku belum mengijinkan mu!"


"Kita akan menikah. Itu artinya aku tidak perlu ijin mu."


"Pendapat dari mana itu?" Jessy mengerutkan keningnya. Justin masih dengan wajah santainya hanya mengangkat bahu.


"Ya sudah, aku akan menumpang di rumah wanita lain."


"Bukannya kau punya rumah sendiri?!" Tanya Jessy gemas.


"Ya sudah pilih saja kamar mu sendiri. Hanya ada dua ruangan kosong disini, kamar tamu dan gudang... Tapi maaf kamar tamu tidak memiliki kasur atau apapun." Jessy diam untuk melanjutkan ucapannya.


"Aku tidak pernah berfikir akan memiliki tamu."


"Ya sudah aku memilih ruang praktek mu. Setidaknya disana ada sofa nyaman dan kasur kecil untuk tidur ku." Justin membalikan badannya, ia mulai mendorong kopernya menuju ruangan Jessy yang dulu pernah ia masuki.


"Ya! Anggaplah rumah sendiri." Sindir Jessy pelan.


•••


Kini mereka sudah didalam mobil, walau malas tapi Justin tetap datang ke kantornya. Tempat yang selalu membuatnya mengantuk.


"Ini kantor mu?" Tanya Jessy tak percaya. Kantor ini begitu besar dan tinggi.


"Bukan. Kantor ayah ku. Aku belum memiliki apa-apa." Jessy mencibir. Bisa juga Justin berkata seperti itu.


"Lalu apa yang kau punya?" Ejek Jessy. Justin memarkirkan mobilnya pada parkiran khusus. Setelah dirasa pas, ia melepaskan seat belt nya dan menatap Jessy.


"Aku hanya memiliki keberanian. Kau tau?" Jessy menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tau." Jawab Jessy polos, membuat Justin berdecak.


"Aku belum mengatakannya. Dengarkan dulu." Gerutu Justin.


"Jika nanti kau diculik, mungkin pria lain akan menggunakan uang mereka untuk menyelamatkan mu, tapi aku,, aku akan menggunakan keberanian dan kecerdasan ku untuk menyelamatkan mu." Ujar Justin bangga. Entahlah, ia semakin besar kepala saat menyelamatkan Alicia kemarin.


"Jika kau tidak diculik, makan bersabarlah hidup dengan ku yang tak punya apa-apa." Ujar Justin cepat.


"Ayo turun. Kita sudah ditunggu." Jessy menatap Justin aneh, pria itu gampang sekali berubah mood. Tapi Jessy tak terlalu memperdulikan itu, ia ikut keluar dari mobil dan mengekori Justin masuk kedalam lift.


"Lantai 18?" Tanya Jessy pada tombol yang ditekan Justin.


"Ya. Ruangan ku. Kau lihat nanti, ruangan ku sangat rapi dan indah." Saat pintu lift tertutup, tak saling berbicara didalam lift, karena mereka sadar disetiap berbincang mereka tidak ada yang bermanfaat.


Pintu lift terbuka. Meraka berjalan dilorong tersebut. Lantai yang cukup sepi.


"Dilantai ini hanya ada empat ruangan." Jelas Justin.


"Akhirnya kalian sudah sampai. Sudah ada dua orang dari Royal WO didalam menunggu kalian." Sam berjalan mendekati mereka. Namun yang membuat bingung adalah Sam yang tiba-tiba menyerahkan map berwarna coklat.


"Selesai nanti bacalah laporan ini. Aku membutuhkan tanda tangan mu sebelum aku serahkan ke CEO." Justin mengangguk pelan. Ia hanya perlu menandatangani nya bukan?.


"Tidak perlu menunggu nanti, aku akan langsung pulang setelah selesai ini." Justin mengeluarkan pulpen dari sakunya dan membuka map tersebut dalam keadaan berdiri! Dengan polosnya ia meletakan map tersebut didinding dan menandatangani nya.


Sam menarik nafasnya, mungkin orang lain yang melihat ini akan mendadak terkena serangan jantung jika melihat sikap Justin.


"Terimakasih. Tapi.. bagaimana jika isi laporan ini ada yang keliru?" Tanya Sam.


"Tenang saja. Aku sudah percaya semuanya padamu, kau sudah memeriksa nya bukan? Jika masih ada yang keliru itu artinya kau tidak teliti." Jawab Justin santai. Ia memasukkan kembali pulpennya dan memberikan map tersebut pada Sam.


Jessy memutarkan bola matanya malas, menggelengkan kepalanya pelan.


"Lain kali kau buat saja cek ratusan ribu dollar, paman Sam. Pria ini akan langsung menandatangani nya." Ejek Jessy. Mendengar itu Justin tertawa dan merangkul Jessy.


"Boleh dicoba. Aku menunggu itu." Sam menaikan sebelah alisnya.


"Apa benar boleh?" Tanya Sam seperti bergumam. Jika benar ia akan mencobanya.


"Boleh, jika bisa, karena aku tidak memiliki uang sebanyak itu direkening ku." Gelak tawa Justin tak bisa ia tahan, ia tertawa kencang dan merasa lucu pada dirinya sendiri.


"Nona. Aku permisi." Pamit Sam. Jessy mengangguk melihat kepergian Sam, ia merasa harus berpikir keras malam ini, apa ia akan kuat dengan pria ini?.


_


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta