SHOW ME

SHOW ME
Test Food?



Tirai besi itu terbuka perlahan, membuat Justin sedikit bingung dan menanti.


"Wow, sepertinya pilihan kalian memang yang paling cocok." Pekik sang pemilik toko dan crew WO.


Justin tak bisa menahan senyumnya, dihadapannya kini seorang wanita cantik. Bagaikan seorang ratu yang memiliki wajah ketus dan galak, namun tak memudarkan wajah cantiknya.


Mereka berjalan pelan, menuju garis pembatas tirai, saling bersampingan menatap cermin.


"Aku rasa ini benar-benar cocok." Gumam Jessy. Ia fokus pada cermin dihadapannya. Kini ia hanya tinggal memilih hairdo yang cocok untuk gaunnya.


Sedangkan Justin. Ia menatap Jessy dipantulan cermin, jika mereka seperti ini mungkin Justin akan jatuh cinta langsung pada wanita disebelahnya ini. Tapi itu semua terhalang oleh sifat marah Jessy, wanita ini kasar dan selalu memarahinya. Membuat Justin malah senang menjahilinya dibandingkan harus mencintai nya dan berbuat romantis seperti pria lainnya.


Justin menghela nafasnya, ia menatap pantulan dirinya sendiri.


"Aku sangat tampan bukan?" Tanya Justin. Jessy yang masih memperhatikan detail gaun pengantinnya hanya tertawa pelan.


"Ya, kau sangat tampan. Dibandingkan aku." Justin menaikan sebelah alisnya. Mengapa susah sekali wanita ini berkata jujur?.


"Kau sangat cantik." Mendengar itu Jessy langsung mendelik, tumben sekali Justin berkata itu.


"Aku tahu. Dan aku memang sangat cantik kapan pun."


"Aku suka." Gumam Justin pelan, namun Jessy masih mendengarnya.


"Aku suka percaya dirimu yang tinggi itu." Ujar Justin cepat, membuat Jessy yang tadinya menahan senyum malu menjadi menghembus kecewa.


"Apa kau nyaman dengan jas mu?" Tanya seorang wanita pada Justin. Menyadarkan mereka bahwa diruangan ini bukan hanya mereka saja.


"Umm, sepertinya sedikit besar ditangan." Komentar Jessy. Ia lebih suka jas pria yang melekat sempurna, sangat pas di badan pria itu.


"Baiklah kalau begitu, aku akan langsung mengerjakannya hari ini. Aku pastikan semuanya harus sempurna Minggu depan."


Mendengar itu Jessy tersenyum puas, ia pun mengucapkan terimakasih dan mereka kembali dipisahkan oleh tirai besi yang tertutup. Mengganti baju mereka kembali seperti semula.


___


Kini mereka duduk dicafe kecil dalam butik tersebut. Tema pernikahan mereka ternyata sudah ditentukan. Bernuansa putih, namun ditambah dekorasi yang memiliki warna hitam gold.


"Aku hanya mengikuti saja keputusan mu. Yang penting aku bisa menikah." Ujar Justin pada akhirnya. Itu tidak terlalu antusias, karena keinginannya adalah hitam, namun yang memperdebatkan adalah ayahnya yang ingin mewah dan Jessy yang ingin tema putih.


"Kalau bagitu kami akan mempersiapkan dekorasi ini." Jelas Crew WO.


"Untuk makanan yang disediakan, besok kamu akan mengadakan pertemuan kembali. Di restoran yang Mr.Franz sudah pilih. Kita akan melakukan test food."


"Baiklah. Jam makan siang?" Tanya Jessy.


"Makan malam Miss." Jessy mengangguk. Sedangkan Justin langsung menggelengkan kepalanya.


"Apa tidak bisa siang? Atau langsung sekarang?" Tanya Justin.


"Ini sudah diatur langsung oleh Mr.Franz, ia memiliki waktu luang di makan malam. Pukul 8." Justin berdecak. Ia tidak akan bisa. Bahkan setiap jam 5 sore pun ia harus ke markas dan mengembangkan pencarian informasi.


"Bagaimana jika aku tidak ikut?"


"Justin!" Desis Jessy. Ia menatap tajam Justin, menebak pria ini pasti akan pergi lagi dan kembali di pagi buka dengan keadaan mabuk.


"Aku tidak bisa. Aku harus pergi."


"Kau memilih teman mu atau pernikahan ini? Kau harus ingat tanggung jawab mu!"


°•°•°•°


Kira-kira Justin mau ikut apa engga nih?


-


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta