SHOW ME

SHOW ME
Kesepakatan baru



Justin masuk kedalam rumah dengan berusaha setenang mungkin, menutup pintu dengan sangat pelan.


"Justin, ada apa?" Tanya Jessy menyerbu. Ia ingin tau ada apa dengan semua ini.


"Tidak ada apa-apa. Kau tidur lah, sudah malam." Jessy menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan bisa tidur dengan keadaan kacau ini.


"Jangan menutupi nya. Cerita pada ku apa pekerjaan mu? Misi apa? Rahasia apa? Semuanya aku ingin tahu." Justin menghembuskan nafas nya pelan.


"Aku tidak bisa memberitahu mu. Ayo aku antar ke kamar mu." Justin berjalan mendekati Jessy. Menarik halus tangan wanita itu.


"Setidaknya berikan aku jawaban yang jelas sebelum aku tidur. Apa pekerjaan mu? Kau menjadi anak buah seseorang untuk mengejar misi?" Justin menaikan sebelah alisnya, tawa kecil tak bisa ia hindari.


"Jangan bodoh Jess. Bagaimana bisa aku mau menjadi anak buah orang lain. Sudah tidak usah dipikirkan, ayo kekamar mu." Jessy mendengus pelan, ia tak bisa tenang dengan beberapa kejadian tadi.


"Bagaimana dengan Larissa?"


"Dia sudah pulang kerumahnya." Tatapan Justin menajam, seakan hendak bertanya namun ada keraguan.


"Dia pulang sendiri, buka dengan Will."


"Will?" Selidik Justin.


"Pria yang kau pukul tadi." Justin mengerutkan keningnya. Pegangan tangan Justin seakan melemah dan beberapa saat kemudian terlepas.


"Kalian bertukar nama?" Jessy menganggukan kepalanya. Terlihat Justin mengepalkan tangannya kencang.


"Sial." Gumam Justin begitu pelan.


"Bagaimana bisa kau langsung bertukar nama dengan seorang pria yang baru kau temui? Ah, aku tahu, pasti Larissa yang mengajak mu mencari pria lain, kau dikenalkan pada sembarang pria olehnya."


"Tidak! Jangan asal menuduh Larissa. Dia teman yang baik.." ucapan Jessy terhenti. Suara klakson mobil terdengar didepan rumah Jessy.


"Siapa yang bertamu malam-malam?" Tanya Jessy bingung.


"Itu sepertinya Devan. Kau tunggu disini, jangan ikut keluar." Jessy hanya diam ditempat saat Justin berlari keluar rumah.


___


Justin keluar dari rumah. Jendela mobil hitam mengkilap itu mulai terbuka, Devan dan Sara ada didalam sana, tengah menatap Justin dengan tatapan menyuruh dan seakan berkata 'cepat kesini bodoh!'.


Justin menuruni anak tangga yang hanya beberapa itu dengan cepat. Membuka pintu mobilnya dan mengambil kantong plastik berisikan botol kecil dan sapu tangan.


Setengah mengambil kantong plastik itu, Justin berjalan kearah mobil Devan.


"Ini, kalian periksa kembali. Aku tunggu kabar selanjutnya, semoga kalian berhasil."


"Tidak tampan. Tidak semudah itu mengucapkan perpisahan." Ejek Devan.


"Sudahlah. Pergi sekarang, aku benar-benar sudah mengundurkan diri."


"Kau ingin membayar ganti rugi atas tindakan mu yang tidak tanggung jawab?" Tanya Devan.


Justin menaikan sebelah alisnya.


"Ganti rugi apa? Aku tidak pernah menandatangani kontrak apa pun."


"Memang tidak akan kontak dalam misi ini, namun mengganti seseorang saat ditengah jalan seperti ini sangat lah tidak bertanggung jawab, ada denda untuk semua ini." Justin berdecak. Ini lah Devan sesungguhnya. Licik namun selalu ditutupi topeng yang seperti berhati malaikat.


"Apa yang kau ingin hah? Menguras semua uang ku?" Ejek Justin.


"Sudahlah. Kalian selalu saja membahas hal tidak penting." Ujar Sara. Justin tau, Sara masih kesal dengan Justin.


"Aku ingin kau tetap di misi ini. Kita akan memenangkan misi ini. Target sudah didepan mata, kau bebas seperti biasa dengan kekasih mu. Jika ada waktu luang kita kumpul setiap malam seperti biasa, bagaimana?"


Justin terdiam. Ia berfikir keras.


"Malam terlalu dicurigai."


"Baiklah, keputusan ini final. Kita akan berkumpul sore atau siang hari. Aku dan Sara yang akan menjalankan misi di klub setiap malam."