SHOW ME

SHOW ME
Menyerah



Perasaan Jessy tak menentu. Seharian ini ia hanya makan pagi sebelum Justin datang, mood nya menjadi labil. Ia mengurung diri seharian.


Hingga pukul 11 malam, Jessy mulai merasakan kantuk. Pantas saja teman-temannya selalu menyendiri dan terpuruk saat putus dengan kekasihnya. Ternyata seperti ini rasanya patah hati. Dirinya seakan meraung dan berteriak memaki. Mengapa ia harus menyulitkan keadaan?!.


Jessy menghela nafasnya, meminum sedikit air yang Anna simpan setelah gagal membujuk Jessy makan. Setelah menyimpan kembali gelas berisi air diatas meja kecil, Jessy mulai menyusupkan dirinya kedalam selimut, mencari posisi yang nyaman untuk tidurnya.


Ia memejamkan matanya, mata sembab itu kini terasa nyaman saat terpejam, ini hari terakhir ia berlarut dalam kesedihan, esok, ia harus menjalani kehidupan nya kembali, lupakan segalanya dan menata masa depannya.


Suara hening membantu proses tidur Jessy berlangsung cepat, alam bawah sadar mulai menghilangkan kesadarannya. Menggantikan kegelapan dan kesunyian yang menenangkan hati, melepaskan sejenak beban dipikirannya.


°


°


°


Tidur Jessy mulai terusik. Entah mimpi atau hanya halusinasi nya saja. Terasa hembusan nafas menggelitik ditekuk Jessy, membuatnya merinding dan membelit kedua kakinya sendiri dibawah selimut, mencoba mencari kehangatan, ia merasa sangat dingin dan mencoba berpikir keras diantara kantuk yang berat, apakah ia sudah mematikan AC?


Jessy membuka matanya perlahan, ini bukan dingin AC, ia semakin menyadari bahwa ini bukan dingin melainkan hembusan nafas hangat, tidak! Ia berhalusinasi. Jessy semakin menggulung selimut pada tubuhnya, mencoba kembali tertidur, ia tak bisa menahan kantuk yang masih terasa berat dimatanya. Mencoba kembali terpejam, kembali terlidur dan berusaha mengabaikan suasana yang aneh ini.


Pelan dan lembut, bahkan sangat lembut dan sangat berhati-hati, membuat Jessy seketika membuat matanya, ia berbalik seketika saat ia yakin sapuan halus di belakang lehernya terasa. Matanya membola dan membuat Jessy meringsut ketakutan.


"Kau tidak merindukan ku?" Tanya Justin dengan suara yang sangat pelan. Nyaris berbisik.


Jessy menegang, ia menggelengkan kepalanya panik saat Justin beringsut duduk dan berhadapan dengan Jessy.


"Menjauh atau aku berteriak!" Pekik Jessy. Justin mulai terlihat frustasi dengan tangan yang mengacak asal rambutnya sendiri.


"Aku tak bisa berlama-lama mengabaikan mu, sialan!" Entah pada siapa umpatan itu Justin tunjukan. Ia geram dan gemas.


"Ini terasa konyol. Kau? Takut kepada ku?" Ejek Justin. Ia semakin menghapus jarak saat Jessy semakin mundur kearah tiang ranjang.


"Aku akan benar-benar teriak Justin!" Pekik Jessy. Tepat diakhir ucapannya, Jessy memekik samar, tubuhnya seakan ditarik dengan tak sadar oleh Justin, membuat tubuh Jessy kini berada diatas tubuh Justin, dan dengan cepat pula pria itu membalikannya. Membuat Jessy terkurung dan terperangkap pada tubuh Justin.


"Aku merindukan mu! Kau benar-benar menyebalkan Jessy!" Suara itu terdengar berat ditelinga Jessy, belum sempat ia membalas ucapan Justin, bibir pria itu terlebih dahulu menutup mulutnya, menyelinap masuk dengan mudahnya dan menari indah seakan mencoba menggoda Jessy untuk membalas.


Jessy berontak, ia berusaha mendorong Justin walau pada kenyataannya tubuh Jessy lemas, jantungnya berdebar kencang, perutnya terasa aneh. Kekuatan Jessy seakan lenyap, ia pun tak bisa menolak godaan itu, mencoba menerima dan menyeimbangi gerakan Justin. Saat suasana terasa memanas dan persediaan udara terasa menipis, Justin terlebih dahulu mengendalikan keadaan, ia menarik kepalanya dan membuat kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam, mengisi kembali udara kedalam paru-paru mereka. Wajah Jessy memerah dibawah sana, nafasnya tersengal, cantik alami terlihat didalam ruangan bercahaya terang ini.


"Kau menang, Jessy. Aku mengaku kalah, aku tak bisa menunggu lama lagi untuk berjauhan dengan mu."