SHOW ME

SHOW ME
Baju pilihan



Justin duduk disebuah sofa, menunggu tirai dihadapannya terbuka dengan sendirinya, karena jika ia yang membukanya kemungkinan besar akan ada tamparan melajang dari tangan Jessy.


"Lama sekali." Gerutu Justin. Ia saja sudah selesai memakai setelan jasnya. Tapi Jessy masih juga belum selesai.


"Dia mengganti baju atau mengganti kulit?" Tepat diucapannya yang kedua, tirai terbuka, menampilkan Jessy dengan seorang wanita disamping nya, seorang pelayan yang membantu Jessy mengenakan pakaian tersebut.


"Kalau begitu aku permisi." Ujar pelayan tersebut sambil tersenyum ramah meninggalkan Justin dan Jessy berdua.


Mata coklat terang itu seakan tak ingin mengalihkan pandangannya, dress berwarna Rosewood begitu melekat indah ditubuh Jessy.


"Bagaimana? Aku tidak terlihat gemuk kan?" Tanya Jessy, ia sedikit memutarkan tubuhnya dihadapan kaca. Dress ini membuat Jessy terlihat sangat tinggi dengan belahan garis di kakinya, ditambah hiasan pinggang yang membuat tubuhnya terlihat ramping.


"Tidak. Kau cantik." Jawab Justin lantang, ia berdiri dan mendekati Jessy. Jessy yang mendengar itu hanya mendelik, tumben sekali Justin memujinya.


Kini mereka bersampingan menatap cermin, memperhatikan pakaian mereka yang tampak serasi.


"Pintar juga kau memilih jas." Ujar Jessy saat melihat tampilan Justin dipantulan cermin.


"Bukan aku yang pintar. Tapi wajah tampan ku yang membuat semua jas cocok untuk ku." Jawab Justin dengan senyum bangga disudut bibirnya.


"Ya..ya..ya." gumam Jessy. Ia berbalik menatap Justin langsung, tangannya terulur merapikan rambut Justin.


"Potonglah sedikit. Rambut mu sudah panjang." Tatapan Jessy fokus menata rambut Justin, namun kebalikannya, Justin kini menatap Jessy dari dekat. Sedikit desiran halus terasa di dadanya.


Mata Justin berkedip pelan memperhatikan wajah cantik itu.


"Menapa kau bisa menghadapi ku?" Pertanyaan itu membuat Jessy terdiam, keningnya sedikit mengerut dan tangannya sudah kembali disisi tubuhnya.


"Menapa?" Tanya Jessy bingung.


"Aku selalu memancing keributan dan sering kali membuat mu kesal. Kenapa kau bisa tetap sabar dan tidak memutuskan untuk mundur? Kau memarahi ku tapi terkesan tidak dari hati, malah membuat mu lucu, tidak menyeramkan." Terlihat ulasan senyum Jessy yang rasanya sangat sejuk.


"Menghadapi anak nakal seperti mu memang menguras emosi, tapi aku sudah terbiasa menghadapi semua emosi orang. Bahkan ada orang yang mengamuk pun aku bisa sedikit tenang menghadapinya." Kini Justin yang mengerutkan keningnya.


"Mengamuk? Maksudmu?"


Justin mengangguk dan ia tersenyum kecil.


"Ahh, aku jadi tidak sabar ingin segera menikah." Gumam Justin membuat Jessy tertawa hambar. Sepertinya Justin akan memulai perdebatan dengan senyuman nya itu.


"Apa yang membuat mu tidak sabar?" Bodoh! Pertanyaan apa itu? Pria itu akan kesenangan diberi pertanyaan seperti itu. Jessy menutup matanya sabar dan menarik nafas saat melihat senyum Justin yang terlihat jahil.


"Agar aku bisa memakan mu. Kau menyebut nama ku dengan semangat. Menghabiskan malam indah bersama. Bahkan aku siap push-up puluhan kali asal dibawahnya ada dokter secantik mu." Nah! Sudah bisa ditebak kemana arah pembicaraan pria ini.


Jessy mengibaskan sebelah rambutnya. Mengabaikan Justin yang tengah tersenyum tengil.


"Aku akan membeli baju ini. Sudah sana, aku harus mengganti baju lagi." Usir Jessy dengan sedikit mendorong tubuh Justin. Terdengar suara tawa pelan dari mulut pria itu.


"Kau sepertinya selalu menghindari perbincangan mengenai itu." Mata Jessy kini terlihat tajam.


"Apa?! Perbincangan apa? Berbincang dengan mu tidak akan benar, sudah sana!"


"Kau harus sabar dan mengendalikan emosi mu Jess. Apa kau selalu memarahi pasien mu seperti ini?" Ejek Justin.


"Tidak, hanya saja kau selalu membuat emosi ku meningkat." Jessy mendorong tubuh Justin sedikit keras. Lalu menyibakan tirai pemisah diantara mereka. Terdengar suara gelak tawa Justin disebrang sana.


Wajah Jessy mulai memerah, ia kesal dengan sikap Justin yang selalu membuatnya kesal.


'Lihat saja, aku pastikan kau yang membayar baju ini.' gumam Jessy dalam hati. Benar-benar pria tidak tahu malu, sedikit saja rasa malu, seperti nya Justin tidak memiliki itu.


___


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta