
Sam terbangun dari tidurnya, ia melirik sekilas sang istri yang masih tertidur pulang.
"Siapa yang menelfon ku." Gumamnya begitu pelan, ia duduk dan bersandar dikepala ranjang. Meraih ponsel dan keningnya berkerut saat nama Justin ada dilayarnya.
"Hallo?" Sam berdehem beberapakali, suaranya terasa hilang.
"Justin?" Tanya Sam. Justin tak menjawab apapun. Hanya suara seperti kerusuhan dan itu membuat Sam benar-benar panik.
"Justin ada apa? Kau dikejar seseorang?" Tanya Sam panik.
"Tidak hentikan." Suara jeritan wanita membuat Sam semakin bingung. Ada apa? Justin dan Jessy sedang dalam masalah? Di pagi buta seperti ini?.
"Hallo Justin. Apa ada sesuatu? Jawablah." Terasa gerakan disamping Sam. Istrinya tengah menatap Sam dengan bingung.
"Maaf membangunkan mu. Tidurlah kembali." Ujar Sam, lalu ia turun dari ranjang dan menuju balkon.
"Oh Hallo Sam, kau sudah bangun?." Sedikit kelegaan Sam rasakan, suara Justin sedikit terengah-engah.
"Ada apa menelfon ku? Kau sedang dalam bahaya?" Entahlah, semenjak ia tahu pekerjaan lain Justin, ia selalu memikirkan hal berbahaya tengah mengintainya.
"Tidak. Bawakan aku dua mobil yang paling bagus, mewah, mahal milik ayah ku kemari. Aku tunggu pagi ini. Bye." Tepat ucapan itu selesai, panggilan pun terputus. Membuat Sam menarik nafas panjang dan mengurut dahinya sendiri.
"Sepertinya anak-anak mulai berkelahi kembali." Gumam Sam sambil berjalan masuk kedalam kamar.
••••
Jessy menggerutu dalam hatinya sambil terus berlari. Kenapa ia harus berlari kearah dapur? Sial!.
"Stop! Untuk apa kau mengejar ku?" Tanya Jessy, ia terengah-engah sambil terpojok didinding dapur.
Justin tertawa dan berjalan mendekat.
"Untuk apa kau lari?" Ejek Justin.
"Sudah lah berdamai saja." Justin menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak suka dengan perdamaian yang begitu saja. Kau akan kembali kasar pada ku." Jawab Justin.
"Lalu apa yang kau inginkan?" Tanya Jessy frustasi. Justin semakin mendekat, menghapus jarak diantara mereka. Jantung Jessy berdetak kencang, tangan Justin berada dipinggangnya.
Justin tertawa dalam hatinya. Inilah pembalasannya dan kini ia akan membalasnya memalui perasaan, membuat wanita ini jatuh cinta dan memberikan harapan palsu.
"Aku akan membalas pukulan mu yang kemarin dengan ini." Tangan Justin yang berada dipinggang Jessy perlahan maju, namun detik berikutnya Justin menggelitiknya.
"Hahahaha... Hentikan bodoh! Hahaha." Justin ikut tertawa melihat Jessy yang tak menahan geli. Tubuh Jessy menggeliat tak beraturan.
"Hentikan! Ini geli, hahaha."
"Bagaimana aku bisa menghentikan nya? Kau terlihat bahagia." Ejek Justin. Namun melihat Jessy yang terlihat ingin menangis membuat Justin berhenti, ia memeluk Jessy dan mengelus kepala wanita itu dengan lembut.
Terasa helaan nafas yang tak beraturan dari Jessy. Ia memukul dada Justin dengan kencang.
"Kau benar-benar keterlaluan!" Pekik Jessy. Namun detik berikutnya ia mulai merasa aneh, apa ini? Justin memeluknya?. Jessy mencoba mendorong tubuh Justin agar melepaskan nya.
"Lepaslah, aku tidak bisa bernafas."
"Diam lah. Aku ingin memeluk mu sebentar." Jessy mengerutkan keningnya.
"Kau kenapa? Aneh." Gumam Jessy, ia hanya diam merasa tangan Justin yang memeluknya lembut.
"Aku rasa aku mulai mencintai mu." Jessy terdiam. Ia mengerjapkan matanya. Jantungnya berdebar tak menentu. Jika Justin melepaskan pelukan, ia pastikan pria itu dapat melihat semu merah dipipinya.
"Apa kau sudah mencintai ku?" Tanya Justin.
Ia sebenarnya ingin tertawa, hanya saja itu bisa menggagalkan rencana nya untuk membuat wanita itu jatuh cinta. Tapi demi apa pun! Jessy kini terlihat salah tingkah dan bersemu merah.
"Tidak!" Pekik Jessy cepat, namun wajah merah itu belum mereda, membuat Justin sedikit gemas dengan kebohongan itu. Siapa sangka, Jessy yang galak ternyata sudah menaruh hati terlebih dahulu?.
Justin mengangkat pinggang Jessy cepat, mendudukkannya pada meja makan dibelakangnya.
"Kau!" Pekik Jessy yang tak siap, ia seperti melayang begitu saja.
"Jika kau belum mencintai ku, aku punya caranya."
___
ayo tebak mau ngapain wkwk