SHOW ME

SHOW ME
Polisi sudah biasa



"Kau benar-benar membelikan aku barang sebanyak itu?" Tanya Jessy, ia melihat tumpukan tas belanja dikursi belakang mobil.


"Ayah mu tidak akan marah bukan?" Tanya Jessy lagi. Ia masih tidak enak dengan semua ini, ia hanya bercanda agar bisa melihat wajah panik Justin seperti waktu membayar baju yang akan mereka gunakan untuk acara pernikahan Alicia.


Namun kenyataannya, Justin malah dengan senang hati menggesekan kartu itu untuk membayar semua barangnya.


"Ayahku malah akan senang karena pada akhirnya aku menggunakan kartu ini." Jawab Justin santai. Ia memundurkan mobilnya dan mulai melaju meninggalkan area parkiran.


"Sekarang kau mau kemana?" Justin melirik jam yang melingkar dilengannya, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.


"Pulang saja. Aku akan memilih kembali baju untuk makan malam nanti." Justin melirik Jessy, lalu tertawa pelan.


"Aku pikir kau akan menghabiskan limit kartu ini dan benar-benar membuat ku miskin." Entah itu hanya gurauan atau sindiran, Jessy mendelik dan kembali bersandar dikursinya.


Jessy terdiam sebentar, sebelum berbicara ia sedikit membenarkan duduknya, sedikit miring menghadap Justin.


"Memangnya kau tidak pernah menggunakan kartu ayah mu?" Tanya Jessy pelan. Terlihat gelengan kepala Justin.


"Tidak. Karena aku pikir itu semua akan menjadi Boomerang untuk ku. Tapi, karena sekarang wanita ku suka berbelanja barang mewah, aku akan menurunkan ego ku, mulai menggunakan fasilitas yang pernah dia berikan."


"Kenapa menjadi Boomerang?" Tanya Jessy. Ia benar-benar penasaran dengan hubungan ayah dan anak ini.


"Karena aku selalu menyalakan nya yang selalu bekerja hingga melupakan aku. Aku pikir, jika aku menggunakan fasilitas darinya ia akan dengan mudah mengatakan lagi 'semua hasil kerja ku juga kau gunakan, jangan memulai perdebatan' dan aku tidak ingin direndahkan seperti itu. Jadi aku mulai bekerja menangkap hewan buas dan setiap bonus yang aku dapatkan aku belikan pakaian, mobil, alat-alat perang ku dan untuk tabungan ku kali ini untuk membelikan mu istana." Jessy memutarkan bola matanya pelan, lagi-lagi Justin tidak serius menjawab pernyataan. Mana mungkin ia harus percaya omongan Justin, jawab buas apa?.


"Lupakan hewan buas, aku sedang serius Justin. Aku ingin mengenal mu lebih jauh. Bisakah kau menceritakan semuanya pada ku? Aku juga akan menceritakan hidup ku pada mu." Justin melirik Jessy sambil terkekeh, wanita ini terlalu serius namun bisa membuatnya tenang.


Saat lampu merah, Justin menghentikan mobilnya, ia tersenyum menggoda pada Jessy, ia menatap Jessy lurus.


"Bagaimana jika kita saling bercerita diatas ranjang? Menutupi tubuh kita dengan selimut? Saling berpelukan? Dan kita..."


Jessy menarik tasnya dan memukulkan pelan pada tubuh Justin.


"Kau yang mesum." Justin tertawa kencang.


"Aku tidak berfikir kearah sana. Aku hanya ingin kita berpelukan sampai kita terlelap tidur. Jadi malam nanti kita langsung bersiap makan malam untuk test food." Wajah Jessy semakin memerah, ia membuka kaca mobil sebelahnya membuang wajahnya kesana dan membiarkan angin sejuk memberikan rasa rileks pada dirinya.


"Tapi jika kau menginginkan itu aku juga tidak keberatan. Aku dengan senang hati akan melakukan yang terbaik untuk mu." Terdengar suara Justin tengah menggodanya. Membuat Jessy semakin tak bisa menahan rasa malunya.


"Bisakah kau diam dan fokus menyetir saja?" Pekik Jessy.


"Aku menjadi tidak fokus. Aku malam menjadi tidak sabar untuk segera kerumah."


"Justin!" Teriak Jessy. Ia mulai kesal diejek seperti ini! Tapi Justin malah tertawa dan seakan puas melihat Jessy seperti ini.


"Bisakah kau mulai menyetir!"


"Kau ingin aku ditilang karena menerobos lampu merah?" Tanya Justin masih tak bisa menahan tawanya.


"Aku tidak peduli. Biar polisi memarahi mu!"


"Polisi mana yang berani memarahi ku? Aku terlalu mempesona untuk dikasari seperti itu." Jessy bergidik. Benar-benar pria dengan tingkat percaya diri yang maksimal.


"Lagi pula aku terlalu sering berinteraksi dengan polisi, aku sudah tahu cara menaklukkan mereka." Ujar Justin di akhir tawanya. Jessy tak mengindahkan ucapan itu, ia kesal dan malu dalam bersamaan.


___


like dan Hadiah jangan lupa ya🤭💋


Love,


DHEA