
"Sepertinya aku salah mendidik mu. Kau tumbuh menjadi anak kurang ajar yang tidak berguna. Hidup mu selalu menyusahkan ku."
°°°°
Justin tersenyum miring, ia menaruh kedua tangannya di lengan kursi.
"Ya. Kau benar, aku memang kurang ajar dan tak berguna. Sudah beberapa kali aku akan kabur dari mu, tujuan ku adalah agar tidak menyusahkan mu, tapi apa? Kau selalu mencari ku dan membuat mu pusing dengan sendirinya." Justin menggulum bibirnya sebentar. Lalu melanjutkan ucapannya.
"Ah aku lupa. Aku hanya ingin mengingatkan mu bahwa kau tidak pernah mendidik ku sedari kecil. Kau, selalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan dan para wanita mu. Jadi jangan menyalahkan aku jika kelakuan ku seperti para pelayan, aku tumbuh bersama mereka."
"Jangan mengungkit masalalu Justin! Kau ini sudah dewasa dan memiliki tanggung jawab. Semua yang ku miliki sekarang akan diteruskan kepada mu, jangan menyudutkan seolah-olah aku yang salah. Dan jangan pernah membawa kata-kata 'para wanita mu' jika berbicara pada ku. Kau sendiri tahu bagaimana sikap ibu mu bukan?"
Justin berdecak.
"Aku tahu sikap kalian berdua!. Jadi jangan pernah meminta ku melakukan semua yang kau inginkan. Kau pun tidak pernah melakukan apa yang aku ingin kan dari dulu."
"Bukan itu yang aku inginkan. Aku meminta waktu mu sedari dulu. Setiap ulangtahun kau tidak pernah mengucapkannya. Aku iri pada mereka yang diantarkan para orangtua disekolah. Kau memperlihatkan pada orang-orang bagaimana kau memperlakukan ku seperti pangeran, mainan terbaru, mobil keluaran terbaru yang selalu mengantar ku, tapi dibalik itu tidak ada satu pun kasih sayang mu pada ku! Kau terlalu gila dengan kata nama baik. Otak ku diperas harus mendapatkan peringkat. Menutup semua kelakuan buruk ku agar tidak ada yang tersebar pada media."
"Cukup Justin!" Justin mengatur nafasnya. Matanya berkaca. Ia ingin meluapkan semua kekesalan dalam dirinya, ingin menyampaikan apa yang membuat nya menjadi seperti ini. Bukan hanya materi yang ia butuh kan, tidak pernah ia mendapatkan kehangatan seorang ayah, bahkan ibunya tak pernah sedikitpun memberikan perhatian. Jika dipikir-pikir, ibunya lebih kejam dari Alex, ia pergi tanpa membujuk Justin untuk ikut padanya, ia pergi begitu saja, meninggalkan Justin yang mereka anggap sebagai boneka pajangan.
Alex mengurut batang hidungnya pelan. Matanya terpejam dalam. Rasanya pening. Tak ada yang berani melawannya, namun ucapan-ucapan Justin sungguh mengenai hatinya.
"Aku hanya ingin membahas pernikahan mu. Keluarga Jessy menelfon ku jika pernikahan ini dibatalkan, namun diusahakan akan mengundurnya. Mereka akan membujuk Jessy terlebih dahulu. Undangan sudah disebarkan. Jadi aku mohon selesaikan masalah mu dengan Jessy." Alex menatap Justin, ini benar anaknya. Dari tubuh mungil itu kini sudah menjadi pria dewasa. Ia melihat pertumbuhan Justin. Bagaimana rengekan Justin kecil, dan berontaknya Justin dewasa.
Alex kini sadar. Apalagi yang ia kejar diusia yang terus bertambah ini. Ada darah daging yang meminta pertanggung jawaban nya, bukan hanya materi namun waktu dan perhatian nya.
"Maafkan aku." Lirih Alex, membuat sorot mata Justin menampilkan keterkejutan yang nyata. Hati Alex tergetar, ia tidak pernah mendapat pelukan dari anaknya. Kapan terakhir kali mereka berpelukan? Saat Justin berumur belasan tahun atas kepergian ibunya?. Ia membiarkan para wanita gila harta itu memeluknya, namun miris, anaknya sendiri tak ia biarkan memeluknya. Justin benar, ia tidak pantas menyuruh Justin mengikuti semua kehendaknya, ia sudah gagal menjadi seorang ayah. Alex pikir dengan materi semua terselesaikan, namun bagi sebagian orang, dengan dirinya menjadi bahagia semua terselesaikan.