
Pada akhirnya, Justin akan datang saat test food besok malam. Dan kini tepat jam 4 sore mereka sudah sampai dirumah Jessy. Baru saja Jessy beberapa menit didalam kamar mandi, saat sudah keluar ia malah menemukan secarik kertas didepan cermin riasnya.
"Dia!!! Pasti kabur lagi." Geram Jessy. Ia berjalan cepat menuju meja riasnya. Mengambil secarik kertas tersebut yang berisikan surat.
'Aku pergi mencari ponsel ku. Jangan keluar malam-malam. Justin.'
Jessy menarik nafasnya panjang. Berusaha menenangkan dirinya. Namun suara mobil yang baru menyala membuat Jessy dengan sigap melihat dari jendela kamar.
"Justin! Mau dibawa kemana Mobil ku!" Teriak Jessy. Mobil itu pun melaju begitu saja, membiarkan pintu gerbang terbuka begitu lebar.
"Astaga, aku benar-benar akan gila." Gerutu Jessy. Yang menjadi pertanyaan Jessy sekarang adalah, dimana ponsel dan mobil Justin. Ia baru sadar jika Justin kembali malam tadi seperti maling dan tanpa kendaraan. Semua ini mencurigakan dan menjadi pertanyaan besar dikepalanya.
Jessy mengambil ponselnya didalam tas, mencari nama Larissa di daftar kontaknya.
"Hallo." Sapa Jessy, ia duduk dipinggir ranjang.
"Malam ini kau jadi bertemu dengan pria itu?"
"Ya Jessy. Aku sedang berbelanja baju, apa kau ingin ikut malam nanti?" Tanya Larissa antusias.
"Tidak. Aku hanya ingin mengajak mu mengikuti Justin. Tapi sepertinya kau sibuk."
"Maaf aku tidak bisa membantu mu. Apa dia kabur kembali?".
"Ya. Dan kali ini dia membawa mobil ku. Aku akan dirumah terus sepertinya."
"Astaga. Sepertinya kau mengikatnya agar tidak kabur. Bagaimana jika besok aku menemani mu?" Jessy terdiam. Besok mereka akan makan malam dan tidak mungkin Justin pergi. Namun, jika memaksakan pergi mencari Justin hari ini pun sepertinya akan sia-sia. Ia tak tau sekarang Justin dimana.
"Besok aku akan mengabari mu."
"Oh jangan sedih seperti itu Jess. Bagaimana jika aku kerumah mu? Aku berangkat jam 7 malam, setidaknya 3 jam aku bisa menemani mu." Senyum Jessy sedikit mengembang. Ia tidak akan sendirian.
Panggilan itu terputus. Jessy membuka lemarinya, mencari baju santai untuk semalaman dirumah. Ia memilih kaos kebesaran yang selalu nyaman dibadannya.
___
Justin memarkirkan mobilnya luar gedung, ia berjalan masuk dengan sedikit terburu-buru.
Setelah sampai dimarkas, ia membuka lokernya. Namun naas, ponselnya tidak ada.
"Apa yang kau cari?" Tanya Sara yang sedikit terkejut mendapati Justin didalam ruangan. Ia baru sampai disini, dan Devan tak terlihat dimana pun.
"Aku mencari ponsel ku. Kau melihatnya?" Tanya Justin.
"Ponsel mu ada di mobil ku. Kau menjatuhkannya saat bertukaran jaket dengan Devan." Sedikit kelegaan Justin rasakan. Ia pun terduduk dan melipat kemejanya.
"Kau darimana?" Tanya Sara. Justin tampak berantakan, dengan kemeja yang tak rapi dan celana bahan.
"Aku dari undangan. Dimana Devan?" Tanya Justin.
"Aku pun sedang mencarinya. Tapi pagi Devan baru selesai mengurus mobil mu."
"Tolong kirimkan pesan, jika kemari bawakan aku baju. Tidak mungkin aku memakai baju ini kedalam klub." Sara tersenyum miring dan memindahkan astray yang ada dihadapannya. Ia menyalakan rokok dan mulai menyesap pelan.
"Tidak masalah. Kau seperti seorang boss yang tampan."
"Kau mengakui ketampanan ku?" Balas Justin dengan senyuman miring.
"Ya. Tapi tidak setampan mantan ku."
Justin mendengus, apakah setiap wanita selalu mengingat mantannya? Dan apakah Jessy memiliki mantan? Ia jadi penasaran dan akan mencari tahu itu.