
Rasanya matahari mulai memaksa masuk kedalam kamar mereka, menyelinap melalui sela-sela gorden yang tertutup. Justin memperhatikan wajah damai Jessy dalam diam, begitu hening dan terlelap. Tangannya terulur merapikan beberapa helai rambut yang berada diwajah cantik itu. Jessy, benar-benar cantik yang sempurna. Justin kembali masuk kedalam selimut, memeluk Jessy dengan begitu nyaman dan menggodanya dengan memberikan beberapa kecu pan singkat diwajah Jessy. Membuat Jessy terlahan membuka matanya dan mengeluh pelan, menggeliat mencari kenyamanan tersendiri.
"Morning, darling." Sapa Justin saat melihat Jessy sudah membuka matanya, menyesuaikan cahaya dengan pandangan nya.
Jessy sedikit menjauhkan wajahnya. Menatap Justin dengan baik-baik. Pria itu sudah segar dan wangi.
"Kau sudah mandi?" Tanya Jessy pelan.
"Morning kiss." Justin mendaratkan bibir pada bibir Jessy kilat, ia tak mampu menahan senyumnya yang lebar. Sedangkan Jessy bergerak risih saat punggungnya yang tak tertutup sehelai benang pun dipegang halus oleh Justin dengan gerakan naik.
"Aku sudah mandi, tapi rasanya aku harus mandi lagi jika kau terus bergerak risih seperti ini Jessy." Seketika Jessy diam. Ia malu. Dengan cepat ia memasukan kepalanya pada selimut, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Justin tertawa renyah. Ia membuka selimut bagian kepala Jessy dengan pelan.
"Tidak usah malu. Aku menyukai semua yang kau punya." bisikan itu begitu menggelitik.
"Mau aku antar ke bathtub?" Jessy menggelengkan kepalanya cepat. Namun bukan Justin jika menurut.
"Aku anggap kau setuju." Karena pada detik selanjutnya, Justin menyingkap selimut itu, membuat Jessy memekik kencang dan menggapai selimut itu kembali.
"Turunkan aku Justin! Aku tak mengenakan baju!" Desis Jessy panik. Ia malu, ia belum terbiasa dengan ini.
"Kau harus mandi. Liat kreasi yang aku buat." Jessy seakan tak mendengar itu, ia menyusupkan kepalanya pada dada Justin, tak sanggup menahan malu saat tangan pria itu menyentuh langsung tubuhnya.
"Taraa!" Ujar Justin. Membuat Jessy penasaran dan menggerakkan kepalanya pelan. Bathub itu sudah berbusa dan lilin aromaterapi sudah dinyalakan, membuat Jessy ingin berlari masuk kedalam sana dan mengubur dirinya ditumpukkan busa yang melimpah itu.
Namun, saat Justin menurunkannya, Justin menarik tubuh Jessy yang hendak berlari masuk kedalam bathtub. Justin menariknya cepat Kedinding kaca tersebut, mengurung Jessy dengan kedua tangan disisinya.
"Aku rasa aku tertarik mencobanya disini, dan didalam bathub nanti." Bisikan itu begitu terdengar berat, Justin sudah menahan diri sedari tadi.
"Apa? Kau gila! Kita sudah melakukannya beberapa kali tadi malam Justin!" Tolak Jessy, menjauhkan kepala Justin yang mulai mendekat.
"Ini biasa bagi pengantin baru sayang." Justin mengunci kedua tangan Jessy keatas dengan sebelah tangannya, sedangkan satu tangan Justin mulai bergerak leluasa pada tubuh itu. Bibirnya menggoda Jessy agar membuka akses masuk kedalam mulut wanita itu, tangannya menyubit halus area sensitif yang sudah memuncak dan bibirnya mengigit kecil bibir bawah Jessy bersamaan. Membuat Jessy mengeluh dan kesempatan itu Justin gunakan untuk memasukan lidahnya.
Merasa Jessy sudah tak menolak, Justin melepaskan tangannya. Menuntun kedua kaki Jessy agar melingkar di pinggang Justin. Ia manatap kembali mata indah itu.
----Dan begitu lah mereka menghabiskan pagi mereka----