SHOW ME

SHOW ME
Kiss



"A..apa?" Tanya Jessy gugup. Wajah Justin terlihat mendekat. Semakin dekat, dan menghapus jarak diantara mereka. Jessy tak bisa mengendalikan tubuhnya, ia malah mematung dan memejamkan matanya.


__


Justin menaruh kedua tangannya disisi meja makan dengan pelan, membuat tubuh mereka berdekatan. Namun, pikiran jahilnya melintas. Justin semakin mendekatkan wajahnya, sedikit menebak apa yang akan dilakukan Jessy. Wanita itu pasti akan mendorongnya dan meneriakinya.


Namun tebakan Justin salah. Jessy menutup matanya, dan itu sukses membuat Justin tak bisa menolak undangan yang diberikan Jessy.


Dengan perlahan dan lembut, bibir mereka bertemu, bagai ada sengatan kecil membuat keduanya sedikit terkejut.


"Ikuti aku." Justin yakin Jessy belum berpengalaman.


Justin membuka mulutnya, melahap kecil bibir indah itu dan mengabsen gigi-gigi yang ada didalam mulutnya. Terasa samar Jessy mulai membalas, walau gerakan itu ragu namun membuat Justin semakin bersemangat, ia terus mengecap dan mencari sensasi yang ia inginkan.


Saat ciuman itu semakin memanas, Justin tak cukup sampai disitu, tangannya mulai mengelus tubuh belakang Jessy, naik keatas sampai belakang leher indah itu, memainkan gerakan halus dan menggoda.


Nafas mereka berburu, dan decakan samar terdengar dari mulut Jessy saat Justin melepaskan tautan bibir mereka. Itu sudah cukup, Justin ingin yang lebih.


"Jangan menolak ku, Jessy." Suara Justin terdengar berat, matanya sayu dan itu juga yang Jessy rasakan saat ini. Ia tak mampu mengucapkan satu kata pun, itu terlalu berat disaat deru nafasnya tak beraturan.


Jessy menelan ludah nya saat melihat Justin sedikit menunduk, ia kira mereka akan berciuman lagi, namun kali ini bibir Justin mendarat dilehernya, memberikan sensasi geli dan sungguh menggelitik.


"Justin.."


"Stt.. rasakan saja." Gumam kecil itu terasa indah ditelinga Jessy, dan kini Justin menelurusi bahunya. Bermain disekitar sana.


Drett..


Drett..


Drett..


Justin tak memperdulikan apapun yang menggangu, ia merasa semangat dan begitu menginginkan Jessy untuk sekarang. Sebelah tangannya mulai bermain dikaki atas Jessy, mengelusnya lembut.


Drett..


Drett..


Drett..


"Angkatlah dulu." Suara Jessy sungguh membuat Justin gemas, ia kembali keleher Jessy dan membuat tanda merah disana sebelum melepaskan bibirnya.


"Mengganggu saja." Desis Justin.


"Siapa tau itu penting." Jawab Jessy. Namun Justin membalasnya dengan senyuman menggoda.


"Setelah menelfon aku ingin melanjutkan nya." Goda Justin.


"Tidak. Aku tidak mau." wajah Jessy kembali memerah, dengan cepat Jessy menggelengkan kepalanya, ia turun dari atas meja dan berlari masuk kedalam kamar mandi yang ada didapur. Justin hanya tertawa kecil dan duduk dikursi.


"Hallo, Sam?"


"Ya, Hallo Justin. Aku sudah mengirimkan orang untuk mengirim dua mobil baru milik ayah mu, dan siang nanti aku pasti akan mendapatkan teriakan dari pria itu."


"Tidak akan. Dia akan melakukan segalanya untuk anak kesayangan nya ini." Jawab Justin tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Tapi, jika dia benar-benar marah katakan saja, kau seharusnya senang pria tua, kapan lagi Justin mau menikmati harta mu."


Sudah bisa ditebak, ekspresi Sam saat ini hanya mendengus sabar dan menggeleng kepalanya.


"Yang benar saja." Gerutu Sam.


"Ya sudah, aku hanya ingin mengatakan itu."


"Baiklah, dan terimakasih telah menelfon ku."


Sam disebrang sana sedikit terkejut, Justin berterima kasih? Anak sombong itu berterima kasih dengan tulus?.


"Mengapa berterima kasih?" Tanya Sam bingung. Ini tidak biasanya.


"Jika kau tidak menelfon ku, mungkin aku sudah menodai anak gadis oranglain." Sam hanya mendengus dan tak lama panggilan itu terputus.


"Cih, sombong sekali pria ini, memutuskan panggilan ku terlebih dahulu."


•••


Guys. Maaf ya akhir-akhir ini aku jarang up. temen kerja aku tepar semua, jadi aku full kerja😪 bagian libur main sama doi😂 tapi mulai hari ini up 2 kali sehari kok, kalo inspirasi lagi banyak 3 kali ya😘


Jangan lupa hadiah, like dan komen biar cerita naik peringkat ya💋