
"Sara." Panggil Justin mulai meninggi saat panggilan diangkat namun Sara tak bersuara apa-apa.
Justin berdecak kesal. Ia membuka pintu mobil dengan cepat, mencari disetiap celah yang ada untuk mencari botol yang dimaksud.
"Hallo Justin. Maaf aku baru sampai di mobil Devan."
"Kalian akan pulang?"
"Ya."
"KEMBALI KEDALAM!" siapa pun yang mendengar teriakan Justin akan terkejut.
"Kau ingat wajah pria yang aku pukul? Dia adalah pembunuh itu, bukti aroma parfum miliknya ada pada ku."
"Apa?!" Terdengar suara kerusuhan dari sana. Perdebatan kecil antara Sara dan Devan.
"Ayo! Kita harus masuk sebelum kehilangan jejak pria itu lagi." Teriak bisikan keras Sara disertai suara lari yang terdengar tergesa-gesa.
Panggilan itu terputus tiba-tiba. Justin tak mempermasalahkan, ia memasukan ponselnya kedalam saku, mencari kembali botol yang dimaksud Jessy.
"Justin ada apa?" Terdengar suara Jessy dari luar mobil.
"Kau akan pergi lagi?" Fokus Justin terbagi, ia menghentikan kegiatan nya sejenak.
"Tidak. Masuklah, tunggu saja aku didalam. Aku tidak akan pergi." Ujar Justin. Jessy terlihat ragu, namun ia menurut dan berbalik, menaiki anak tangga kecil yang ada di teras rumahnya.
"Jessy." Panggilan Justin menghentikan langkah Jessy. Kini wajah Justin yang terlihat ragu.
"Ada apa?" Tanya Jessy.
"Tolong tanyakan kabar teman mu.. Larissa." Jessy terdiam. Ia lupa pada Larissa. Ia belum memberi kabar kalau dirinya pulang terlebih dahulu.
"Ya. Aku akan menelfonnya." Jessy berjalan cepat masuk kedalam rumah, mencari ponselnya.
Beberapa panggilan tak terjawab dari Larissa.
Jessy menempelkan ponselnya pada telinga. Tak menunggu lama, Larissa menjawabnya.
"Larissa maaf, aku pulang lebih dahulu." Ujar Jessy dengan nada bersalah.
"Tidak masalah Jess. Aku hanya khawatir, aku dengar Justin memukul Will. Apa ada kesalahpahaman?"
"Ya. Justin cemburu. Kau dimana?"
"Astaga. Sepertinya dia benar-benar sudah mencintai mu." Terdengar tawa kecil dari sebrang.
"Aku sedang dijalan pulang."
"Kau pulang dengan Will?" Tanya Jessy kembali. Ia memiliki perasaan tak enak pada pria itu.
"Tidak. Tadi saat aku akan mengobati lukanya, dia malah mengantar ku sampai mobil." Terdengar suara kecewa dari wanita itu. Sedangkan Jessy menghembuskan nafasnya lega.
___
Tangan Justin menggapai sesuatu yang ada dibawah kursi mobilnya. Sedikit susah payah dan akhirnya bisa terambil.
"Air apa ini?" Tanya Justin pelan. Ia mengawasi pelan botol tersebut.
Justin mengeluarkan ponselnya. Mencari kontak Devan.
"Bagaimana?" Tanya Justin buru-buru.
"Sara menemukannya, tetapi kita telat." Erangan kesal dari mulut Justin keluar. Ini adalah kesempatan emas mereka, namun sia-sia.
"Tapi tenang. Aku sudah menembakan GPS pada saat mobil itu mulai melaju. Kini kita hanya perlu mengikuti nya dan mendapatkan banyak bukti untuk diserahkan."
"Bagus. Itu yang ingin aku dengar." Ujar Justin.
"Kau bisa datang kerumah Jessy? Aku akan memberikan dua bukti ini. Ada sapu tangan yang memiliki aroma parfum, dan botol kecil berisikan air. Aku ingin kau memeriksa cairan apa yang ada di botol ini."
"Jessy?" Tanya Devan terdengar bingung.
"Kekasih ku. Aku tidak bisa meninggalkan nya sendiri."
"Wahh, ternyata benar yang Sara katakan. Kau akan menikah?" Entah godaan atau sindiran yang diberikan Devan.
"Ya. Cepatlah kemari. Ini terakhir kalinya aku membantu."
"Hei hei hei... Jaga ucapan mu. Aku belum menyetujui kau mundur dari misi ini."
"Aku tidak butuh persetujuan mu." Geram Justin. Devan pintar membujuk, dan ia tidak ingin membagi fokusnya dulu selain untuk Jessy.
"Kau payah. Meninggalkan impian mu demi seorang wanita?"
"Sialan kau."
•••
Hayo ada yang bisa nebak ga Jessy nanti pergi gara-gara apa?