SHOW ME

SHOW ME
Perjalanan



Jam makan malam pun sudah tiba. Keduanya sudah mengenakan pakaian baru mereka.


Jessy dan Justin masuk kedalam mobil, memasang seat belt, lalu mobil pun melaju. Justin melirik maps yang ada didepannya, mengikuti jalur yang diarahkan.


"Disaat orang-orang memilih menu untuk pernikahan mereka sebulan sebelumnya, kita malah seminggu sebelumnya." Ucapan Jessy membuat Justin tertawa pelan. Ia melirik wajah tanpa ekspresi itu tengah bercermin dikaca atas mobil.


"Karena mereka mempersiapkan acara pernikahan mereka matang-matang, sedangkan aku dipaksa oleh mu." Ejek Justin berhasil membuat Jessy mendengus.


"Aku tidak memaksa, hanya saja aku pernah berkata akan melakukan itu dengan satu orang saja, dan itu seperti sumpah untuk ku. Aku malah berfikir tidak akan bisa menikah setelah hari itu." Kening Justin berkerut, banyak sekali kalimat Jessy yang tak ia mengerti.


"Melakukan apa? Setelah hari itu apa?" Tanya Justin.


"Ya... Melakukan hal.. bagaimana aku menyebutkannya ya." Gumam Jessy. Ia sendiri gemas, apakah Justin benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud atau hanya berpura-pura?.


"Melakukan kegiatan membuat keturunan." Kerutan di kening Justin semakin terlihat, namun seketika tawanya pecah. Ia seakan sedang berbicara dengan anak remaja yang belum beranjak dewasa.


Setelah tawanya mereda, Justin menatap geli pada Jessy.


"Oh ya? Jadi karena itu kau mengejar ku? Meneror telfon ku?" Jessy mengangguk.


"Mengapa kau sangat yakin aku melakukan hal itu saat kau tertidur?"


Jessy terdiam.


"Aku sama sekali belum pernah berkencan, tidak pernah berciuman, hanya membaca cerita novel dewasa pun sangat minim bahkan tak tertarik membacanya. Aku hanya yakin kau melakukan itu saat aku melihat baju ku berserakan dan tubuhku di dalam selimut yang... Yeah, you know... ini semua ulah mu. Ditambah saat aku mengunjungi rumah kakak ku, aku merasa mual dan pusing, aku takut aku hamil, dan saat menemukan mu aku tak ingin kehilangan kesempatan emas itu, aku langsung ingin meminta mu bertanggung jawab dan mengaku hamil."


"Jadi masih sepolos itu diri mu?" Tanya Justin. Percakapan mereka pun berlangsung panjang selama diperjalanan, lebih mengenal kehidupan Jessy yang tampak baik-baik saja. Tumbuh menjadi akan yang cantik dan pintar dengan dukungan keluarga dan teman-teman, berprilaku baik dan berprestasi. Bertolak belakang dengan Justin, ia malah saat sekolah dulu sering membuat onar, mencari cara agar orangtuanya memberi perhatian lebih dan membimbing Justin pada yang lebih baik. Namun, yang ia terima hanya sebatas ucapan mengomel dan keesokan harinya seperti biasa lagi, membiarkan kenakalan Justin yang semakin menjadi dari hari ke hari.


---


Sesampainya di restoran yang dijanjikan, Justin membukakan pintu untuk Jessy. Berjalan beriringan dengan Jessy yang menautkan tangannya pada tangan Justin.


"Atas nama Mr.Franz?" Tanya seorang pelayan dengan seragam rapi dan raut wajah ramah.


"Ya. Apakah sudah ada yang datang?" Tanya Jessy. Pelayan itu mengangguk ramah dan mengarahkan mereka pada sebuah ruangan, membukanya dengan sangat sopan dan mempersilahkan masuk.


Didalam ternyata sudah terdapat orang-orang team WO yang duduk dengan rapi. Sedangkan dikepala meja Alex sudah duduk dengan didampingi asisten pribadi nya.


"Nah, anak-anak ku sudah datang. Duduk lah disini cantik. Justin, kau tolong berikan kursi terbaik untuk calon istri mu yang seperti bidadari ini." Suara Alex tampak heboh sendiri. Membuat beberapa orang tersenyum dan mengangap bahwa Alex orangtua yang sangat mendukung pernikahan ini, sangat perhatian dan memiliki jiwa yang hangat.


Justin hanya menggelengkan kepalanya, ia pun mengikuti perintah Alex, memundurkan kursi untuk Jessy dengan sangat pelan, membuat Jessy tersenyum senang, ia terlalu dipuji dan membuatnya benar-benar seperti ratu malam ini.


"Silahkan duduk bidadari." bisik Justin pelan, dengan kekehan yang terdengar halus.