SHOW ME

SHOW ME
Debat



Kini mereka sudah duduk dihadapan dua orang yang sedang sibuk menjelaskan. Beberapa foto kini berserakan diatas meja.


"Aku ingin tema seperti ini."


"Tidak. Aku yang ini." Jessy berdecak.


"Bisa kah kau hanya menurut pada ku?" Justin menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku juga ingin menyampaikan pendapat ku. Aku tidak terlalu suka putih." Tutur Justin lalu menatap kedua orang dihadapan mereka.


"Bisa kah kalian membuat yang sama persis seperti ini? Tapi aku ingin menggunakan hitam dan sedikit... gold." Kedua orang itu saling pandang, mereka bisa saja, tapi apakah harus hitam?.


"Tidak! Kau ingin menikah atau mengenang kematian?"


"Heyyy, hitam itu elegant."


"Tenang tuan, nona, kami akan menemukan solusi untuk ini. Sepertinya untuk tema akan kami pikirkan hari ini, karena pesan Mr.Franz pernikahan kalian harus sangat sempurna." Lerai seorang pria dengan jas abu. Sedangkan seorang wanita disebelahnya mengeluarkan beberapa barang yang membuat Jessy dan Justin diam.


"Sekarang aku akan menunjukkan beberapa sample undangan. Ini pilihan terbaik yang kami punya." Ada empat, tidak ramai, elegan dan terlihat mahal.


"Aku ini." Tunjuk Jessy. Justin diam dan memperhatikan keempat desain. Ada yang kertas, kayu, akrilik dan box.


"Apa isi ini?" Dengan wajah sumringah, wanita itu langsung duduk dengan tegak dan tersenyum.


"Ini undangan paling berkelas. Pernah digunakan oleh aktor Bollywood."


"Bukankah kau suka hitam? Aku sudah memilih ini." Gumam Jessy dengan mata tajamnya. Ia menunjuk amplop berwarna Black Gold yang didalamnya akan ada tulisan yang terukir indah diatas akrilik.


"Untuk undangan aku ingin yang paling mahal. Jangan terlalu simple, ayah ku yang akan membayar ini." Kikik Justin. Jessy memutar kembali bola matanya. Mengapa tidak Alex saja yang memilih semuanya untuk mereka?.


"Coba jelaskan." Lanjut Justin pada wanita dihadapannya.


"Isi kotak ini ada beberapa botol kecil yang unik berisikan madu dengan kualitas terbaik di dunia..."


"Tidak usah dilanjutkan, aku ingin undangan ini. Sekarang aku harus memilih apa?" Potong Jessy.


-


Tak terasa sudah tiga jam mereka habiskan untuk berdebat memilih semuanya, tak ada satupun yang berjalan tanpa perdebatan. Dari mulai tema, undangan, kue, makanan, hingga gaun pengantin.


Saat kedua orang itu sudah keluar dari ruangan, Jessy melipatkan kedua tangannya didada.


"Besok kau jangan menghilang. Kita harus mencoba gaun dan jas untuk pernikahan kita."


Justin melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan.


"Besok mungkin aku sibuk." Gumam Justin.


"Jangan macam-macam. Kita hanya datang ke acara pernikahan Alicia dan Richard, tidak boleh ada acara lain!" Justin menyandarkan kepalanya pada kepala sofa. Sore ini ia harus kembali menemui Devan dan Sara, sudah pasti malam ini ia akan bergadang dan memulai pengintaian kembali. Dan yang membuatnya lelah adalah pikirannya, ia memikirkan bagaimana jika ia tidak tertidur dan suara Jessy yang berisik memarahinya untuk datang pagi buta ke acara pernikahan Alicia dan Richard.


"Sepertinya besok siang aku akan pingsan." Gumam Justin. Jessy mengangkat sebelah alisnya.


"Kau merencanakan pingsan mu?" Tanya Jessy.


"Ya. Aku sangat lelah. Tolong pijatkan kepalaku." Justin memindahkan kepalanya pada bahu Jessy. Dengan spontar Jessy langsung menolak kepala Justin dengan cara langsung berdiri membuat Justin yang tak siap langsung terjatuh dilengan sofa.


"Tidak ada waktu untuk memijat kepala mu. Ayo antar kan aku ke butik, aku akan mencari baju untuk besok." Jessy mengambil tasnya dan berjalan pelan menuju pintu keluar.


"Ayo cepat." Ujar Jessy gemas, Justin masih dengan santai merebahkan diri diatas sofa.


Justin mendengus. Tidak bisakah wanita itu bersikap manis?!. Dengan cepat Justin langsung berdiri.


"Baik nyonya. Maaf aku menjadi supir pemalas hari ini." Ujar Justin dengan nada menyindir. Lihat saja, di butik nanti ia akan meninggalkan Jessy jika memilih baju terlalu lama.


___


Thank you


DHEA


Instagram: Dheanvta