SHOW ME

SHOW ME
Menolak



Jessy tertegun. Ia benar-benar tak siap bertemu Justin. Wajah pria ini biasa saja, tidak menunjukan salah apa pun.


Kini mereka duduk diruang tengah. Kedua orangtuanya memberikan ruang agar mereka dapat berbincang dengan santai, menyelesaikan permasalahan yang tengah mereka hadapi.


"Jadi.. kau pergi karena apa?" Tanya Justin memecahkan kesunyian. Ia gemas melihat wajah Jessy yang tengah memaksakan ekspresi acuh nya.


"Kau tidak membaca surat ku?" Justin tersenyum kecil mendengar itu.


"Aku membacanya. Itu konyol, kau pergi karena pekerjaan ku yang rahasia itu?" Jessy hanya menatapnya tajam. Itu bukan suatu hal yang konyol. Ini masalah yang penting.


"Jessy dengar. Ini tidak lucu sama sekali, kita akan menikah dalam beberapa hari lagi dan kau ingin membatalkannya secara sepihak?"


"Aku pun tidak sedang melucu Justin! Kau membuat ku pusing. Kau selalu menjadi teka-teki. Bisa kah kau menceritakan semuanya dan menjelaskan kepada ku!" Kini Jessy meninggikan suaranya. Ia sudah tak tahan. Beberapa pertanyaan mengumpul dipikirannya. Ia mencoba berpikir jernih, namun apa? Semuanya tak masuk dilogika. Justin mendapatkan pesan singkat berisikan alamat Larissa dan siang harinya Larissa dikabarkan meninggal? Apa semua ini masuk akal jika hanya mengira-ngira?.


"Apa yang kau ingin tahu Jessy. Bisakah kau tenang dan bicarakan ini secara baik-baik. Jangan terbawa emosi terlebih dahulu." Jessy menggelengkan kepalanya pelan. Ia memberanikan diri menatap kedalam mata Justin. Memperhatikan raut wajah pria itu, ia akan melihat jawaban pria itu jujur atau tidak.


"Apa pekerjaan mu?" Tanya Jessy. Justin menggeram pelan, mengapa harus pertanyaan itu yang dilontarkan.


"Sudahlah percaya saja pada ku. Pekerjaan ku memecahkan semua misi. Aku bisa memastikan pekerjaan ku sangat membantu."


"Membantu apa? Pekerjaan mu adalah misi? Misi membunuh orang?" Ejek Jessy.


Justin mengerutkan keningnya. Ia menatap Jessy dengan kebingungan yang jelas.


"Apa maksud ucapan mu? Kau..." Justin menghentikan ucapannya. Ia berfikir cepat. Apa Jessy mencurigainya sebagai pembunuh? Konyol!.


"Ya. Kau membunuh Larissa bukan? Aku melihat Devan mengirimkan alamat Larissa pada mu, dan siang kemarin aku melihat kabar Larissa meninggal. Kau benar-benar bukan manusia, Justin!" Ingin sekali Justin tertawa. Ini sangat menggelikan, namun ia tak mungkin tertawa dalam keadaan genting seperti ini.


"Kau percaya aku bisa membunuh sahabat mu?"


"Ya. Dan aku ingin pernikahan kita batal."


"Jessy! Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Imajinasi mu terlalu jauh berfikir kearah sana. Aku.." Jessy berdiri. Ia membuang wajahnya kesembarang arah.


"Jangan temui aku lagi. Aku sudah membatalkan ini semua. Aku harap kau tidak mengganggu. Kita jalani hidup masing-masing dan anggap semua ini adalah mimpi buruk."


Justin terdiam. Harga dirinya seperti terinjak.


"Kau yang mengejar ku dan sekarang kau yang membuang ku? Mengapa kau tida pergi dari jauh-jauh hari sebelum aku mencintaimu?! Mengapa harus memaksa ku bertanggung jawab dan membuat ku bergantung hidup pada mu?!" Jessy ikut terdiam. Ia meneguk air liurnya. Hatinya menjadi tak menentu. Justin mencintai nya? Apa ia tak salah dengar. Jessy menggelengkan kepalanya pelan.


"Maaf sudah menganggu waktu mu dan mengacaukan hari-hari mu. Jika tidak ada yang penting, kau bisa pulang." Ucapan pahit itu mengalir begitu saja. Jessy menyesal jika Justin benar-benar pergi. Namun ia belum mendapatkan jawaban yang puas.


"Astaga! Kenapa kau seperti bocah saja Jessy." Gemas Justin. Setidaknya ia tau apa yang membuat Jessy memilih pergi.


Terdengar suara langkah kaki memasuki ruang tengah. Ayah Jessy terlihat ragu dan panik. Ia harus menjadi penengah dan tidak bisa membiarkan pasangan ini berteriak-teriak sampai terdengar ke ruangan lain.


"Sudah mendapat keputusan?" Tanya ayah Jessy pelan. Kedua orang itu tengah berdiri bagai orang asing.


"Sudah Dad. Aku membatalkan pernikahan ini." Jessy berkata dengan yakin. Ia pergi dari ruangan itu, sedikit berlari kearah kamarnya.


Justin yang hendak berlari menyusul Jessy dihentikan oleh ayah Jessy.


"Sudah, biarkan saja dia tenang. Apa boleh kita mengobrol sebentar?" Justin terlihat ragu. Namun pada akhirnya ia mengangguk pelan.